RAMPOK
Siang hari di sebuah rumah kosong, kembali saya mematangkan rencana yang telah kami susun dengan kedua anak buahku. Kali ini sasaran kami adalah sebuah rumah mewah yang terletak dibilangan Jakarta Selatan. Kami adalah sekawanan perampok yang menjunjung tinggi kode etik perampok, artinya tidak pernah tercampur dengan tindak criminal lainnya.
Sebagaimana para netters ketahui bahwa di zaman yang serba sulit saat ini, sangatlah sakit rasanya bila harus menahan lapar tiap hari sementara banyak orang di luar sana yang sanggup mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk sepiring nasi. Bahkan jauh lebih kenyang rasanya makan di Warteg daripada makan sepiring nasi yang berharga ratusan ribu tersebut. Setidaknya itulah bandingan kekontrasan yang terlihat di negara ini.
Saya tidak katakan tidak setuju mereka menikmati hasil jerih payah mereka. Dan tentu saya setuju kalau itu mereka dapatkan dengan kerja keras mereka. Dengan berkaca pada situasi inilah saya juga ingin merasakan paling tidak setengah dari keadaan tersebut. Tentu dengan kerja keras juga, hanya mungkin caranya berbeda. Jika mereka merampok dengan menggunakan dasi dengan wajah penuh damai, kami merampok dengan cadar dengan wajah tertutupi. Itulah salah satu factor pendorong terbesar sehingga terbentuklah kelompok ini.
Tepat jam 00.30 kami telah siap siaga di depan rumah mewah yang menjadi sasaran kami dini hari ini. Dengan cekatan saya merintis jalan masuk ke rumah yang diikuti anak kedua anak buahku. Satpam yang sedang ngantuk saat itu dengan mudah kami ikat. Tentunya kami tidak mengalami kesulitan masuk ke rumah ini karena hal ini kami adalah ahlinya.
Rumah yang serba mewah dengan perabotan yang serba mewah pula. Terdapat beberapa kamar yang harus kami periksa satu persatu. Dari tiga kamar kami berhasil melumpuhkan tiga orang yang menurut perkiraanku adalah pembantu. Terdiri dari dua wanita dan satu laki-laki yang kemungkinan supir pribadi di keluarga itu. Kami sampai diruangan yang cukup besar yang kurasa adalah ruang tamu. Terdapat photo keluarga yang terdiri dari lima orang, yakni suami istri, anak perempuan dua dan satu laki-laki yang kira-kira berumur dua puluhan.
Berpedoman pada photo tersebut, berarti kami harus membekuk lima orang lagi. Akhirnya kamar yang laki-laki dapat kami temukan dan langsung kami ikat dan satukan dengan para pembantu tadi. Dan selanjutnya kami temukan kamar para wanita bersebelahan. Kami mengikat para gadis yang mengenakan pakaian tidur tersebut. Sekilas wajah mereka tampak tidak kalah dengan para artis dan sangat seksi dengan pakaian tidur mereka. Tapi karena hal ini telah terbiasa bagi kami sehingga menganggapnya angin lalu saja. Yang penting bagaimana melaksanaakan aksi ini dengan sukses.
Karena kami kesusahan mencari kamar tidur utama, maka kami paksa mereka untuk menunjukkannya. Tampaknya si gadis yang lebih tua tegar juga dan tidak mau mengaku. Kesal bercampur gemas, saya tangkap buah dadanya.
"Auw.. Jangan..!" katanya tiba-tiba.
Sebagai lelaki normal, Berdesir darahku manakala memegang buah dada yang ternyata tidak muat digenggamanku. Mungkin karena dia memakai pakaian tidur membuat buah dadanya tidak terlihat menonjol. Seperti terhipnotis dengan buah dadanya tersebut, tangan saya tetap membetot kedua buah dadanya dan mata kami saling melotot. Tetapi akhirnya aku tersadar dan lanjut bertanya.
"Dimana kamar orang tuamu.. Jawab! Aku tak ingin menyakiti kalian!" kataku dengan lembut tapi tegas.
"Di atas.." akhirnya dia menjawab juga.
Dengan sigap kami naik ke atas dan mendapati beberapa kamar. Tapi tentunya siapapun dapat menebak mana kamar utamanya. Dengan berbagai kunci yang kami punya akhirnnya kami dapat membuka pintu kamar tersebut dengan tidak meninbulkan suara berisik.
Saya melihat dua sosok tubuh yang lagi tidur pulas di atas tempat tidaur yang sangat mewah. Setelah saya mendekat dan mengarahkan pistol di kepala si suami, saya berikan kode ke anak buahku agar menyalakan lampu utama. Kemudian kamar itu terang benderang. Saya kaget setelah dapat melihat dengan jelas wajah si suami tersebut. Siapa yang tidak mengenal dia di negeri ini. Bukankah dia salah satu pejabat di negara ini?
Kenapa tadi saya tidak memperhatikan photo keluarga tadi? Ingin rasanya mundur, tapi sudah terlanjur basah dan tentunya ini akan sangat memalukan bagi para perampok lain bila berita ini terdengar besok dengan judul "Sekawanan perampok menghentikan aksinya setelah mengenali wajah korbannya". Sangat mencoreng profesi perampok bila hal ini terjadi.
Berarti aksi ini harus dituntaskan. Kembali saya amati kedua tubuh suami istri yang terlentang dengan menggunakan baju tidur itu. Kuamati pelan istrinya dengan seksama. Wajah yang sangat cantik keibuan sama halnya seperti ibu-ibu pejabat yang terhormat. Walau kutaksir sudah berumur kepala empat, tapi siapapun lelaki pasti masih bergairah melihat tubuh seperti ini.
Terlihat tonjolan di dadanya yang lumayan besar. Pandanganku turun ke bawah.. Seerr.. Berdesir jantungku melihat salah satu kakinya tertekuk ke samping yang membuat kakinya agak mengangkang sehingga baju tidurnya tersingkap sampai ke pangkal pahanya. Terlihat ujung celana dalamnya yang tentunya menutupi vaginanya. Warnanya hitam. Berlagak serius kusuruh anak buahku keluar kamar untuk mencari barang-barang berharga dengan meyakinkan aku sanggup mengatasi yang dua ini.
Tidak dapat kuingkari lagi kalau detak jantungku sangat keras. Dilain pihak saya menghormati komitmen perampok terhormat yang saya pegang kuat. Tapi siapa laki-laki normal yang tahan melihat hal seperti ini?
Sensasi yang semakin kuat membuat aku perlahan mendekatkan wajahku ke pangkal paha itu. Perlahan kuendus ujung vagina yang terlihat itu, uhh.. Semakin dekat sampai ujung hidungku menyentuh tonjolan vagina yang masih terbungkus celana dalam itu.
Perlahan kusingkapkan lagi baju tidurnya ke atas. Pelan-pelan semakin tampak gundukkan vagina istri pejabat tersebut. Saya singkapkan terus sampai ke pinggang tanpa membangunkan orangnya, sementara Pak pejabat masih mendengkur. Ternyata celana dalam yang dipakai ibu pejabat ini hanya sanggup menutupi setengah gundukan vaginanya. Setengah bagian atas gundukan vaginanya terbuka sampai terlihat sedikit garis yang membelah vagina itu yang ditumbuhi rambut halus.
Perlahan kujulurkan lidahku ke gundukan vagina yang sangat tebal itu. Kuusap-usapkan lidahku beberapa kali dari bawah ke atas sampai celana dalam itu basah. Akibatnya tonjolan clitoris vagina nyonya pejabat itu terlihat berbayang. Sengaja kuhindarkan persentuhan lidahku dengan kulit ibu pejabat itu biar dia tidak terbangun.
Pinggul Bu pejabat itu bergerak perlahan kesamping yang membuat pahanya semakin terbuka. Sementara batang zakarku yang sudah tegang terasa sakit karena terjepit dengan celana dalamku. Kuambil gunting dari kantong peralatan. Perlahan kusisipkan ujung gunting ke balik celana dalamnya secara mendatar sehingga celana dalam itu terpotong. Tampaklah bentuk vagina ibu pejabat itu secara utuh. Vagina yang sangat tebal terbelah panjang dengan clitoris yang mencuat keluar dari bibir vagina itu dihiasi dengan bulu-bulu halus rapi diseputar bibir vaginanya.
Nafsuku yang semakin tinggi membuat aku semakin berani. Kujilati langsung belahan vagina ibu pejabat itu. Kuusapkan lidahku dari bawah dekat dengan lubang anusnya sampai ke ujung clitorisnya.
"Akh.." tiba-tiba mulut ibu pejabat itu mendesis dan pinggulnya menghentak saat lidahku menyentuh clitorisnya.
Kuhentikan jilatanku karena kukira dia terbangun. Kutunggu sesaat ternyata terdengar lagi dengkuran halusnya. Terus kujilati belahan vaginanya dengan rakus, lubangnya yang merah tua dan juga sampai ke pinggir gundukan vaginanya sampai ke pangkal pahanya.
"Akh.. Akh.. Akh.." mulai terdengar desisan istri pejabat itu dan pinggulnya mulai bergerak naik turun mengikuti irama jilatanku di vaginanya.
Sedangkan vaginanya sudah semakin membengkak sehingga terlihat semakin menggembung ke atas dan basah. Mungkin dia lagi bermimpi sedang bersetubuh dengan Pak pejabat saat ini. Tak tahan lagi dengan batang zakarku yang terjepit, kukeluarkan melalui resleting celanaku. Sambil menjilati vagina Bu pejabat sementara tanganku mengocok batang zakarku. Kulihat lubang vagina nyonya pejabat itu mulai mengeluarkan lendir berwarna bening agak putih.
Kupercepat kocokanku pada penisku sampai kurasakan mendekati puncak sementara pinggul istri pejabat itupun semakin cepat begerak, turun naik dan kadang berputar halus. Kuhentikan jilatanku pada vaginanya ternyata pinggul itu terus bergerak.
"Ouhhss.. Aakhh.. Oohh.." desisan nyonya itu terdengar semakin berat.
Perlahan aku berdiri sambil mengocok batang zakarku. Pelan-pelan kudekatkan penisku ke vagina Bu pejabat itu. Ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya dan perlahan kepala penisku kuarahkan ke lubang vagina istri pejabat itu. Karena goyangan pinggulnya membuat kepala penisku beberapa kali meleset dari lubang vaginanya.
Akhirnya kepala penisku bisa juga tepat di lubang vaginanya yang telah menganga itu. Terasa vaginanya hangat. Dan mulai kutekan perlahan.
"Bless"
Amblas kepala penisku tepat di lubang vagina yang sudah seperti ingin menelan batang zakarku. Tapi kalau kumasukkan semua nanti bisa membangunkannya. Akhirnya penisku hanya ku gosok-gosok saja dari lubang vaginanya sampai ke clitorisnya.
"Aahh.. Oohh.. Akhh.." desisan yang keluar dari mulut ibu pejabat itu semakin sering.
Dan aku juga semakin cepat dan kasar menggesek-gesek kepala penisku di bibir vaginanya. Beberapa menit kemudian terlihat pinggul ibu pejabat itu semakin naik ke atas yang membuat kepala penisku terbenam di lubang vaginanya. Sesaat kepala penisku terbenam di lubang vaginanya, kurasakan kepala penisku seolah digigit lubang itu dan kurasakan kedutan-kedutan vaginanya. Dan "seerr.. Seerr.. Seerr.. Serr" begitu kurasakan cairan keluar dari vagina istri pejabat itu menyirami kepala penisku.
Dan kurasakan juga spermaku hendak mau tumpah. Karena ruang gerakku terbatas, kutekan saja batang zakarku ke lubang itu dan..
"Crroott.. Crroott.. Crott.. Crot." spermaku menyembur begitu banyaknya kusemprotkan ke lubang vagina nyonya pejabat itu.
Sebentar kemudian kubersihkan kepala penisku dengan mengusapkannya ke clitoris dan gundukan vaginanya. Lega dan terasa ringan rasanya badanku sekaligus sedikit lemas. Kumasukkan penisku ke dalam celanaku dan kututupi kembali vagina istri pejabat itu dengan menurunkan baju tidurnya sementara celana dalamnya kumasukkan ke kantongku.
"Bos, sepertinya penyimpanan uang dan barang berharga ada di kamar ini."
Tiba-tiba anak buahku masuk ke dalam kamar. Untung semuanya telah selesai sehingga wibawaku dapat terjaga.
"Oke.. Mari kita ikat kedua orang ini" kataku.
Kemudian kami mengikat suami istri itu yang sekali gus membangunkan mereka.
"Siapa kalian?!" suara Pak pejabat setengah membentak.
"Diam dan patuhi perintah kami biar tidak ada yang terluka," kataku dengan berwibawa yang membuat ciut nyali Pak pejabat itu.
Pertama kami mengikat Pak pejabat dengan kedua tangannya ke belakang dan kakinya juga dengan posisi duduk dan kaki tertekuk. Sementara istrinya sangat katakutan melihat todongan pistol kami. Sepertinya dia tidak sadar kalau tidak mengenakan celana dalam lagi. Sementara saya mengikat istrinya, kedua anak buahku memeriksa semua lemari yang ada di kamar itu. Kedua tangan si nyonya kuikat ke depan tapi tersambung dengan ikatan pada kedua kakinya sehingga dia tidak bisa duduk. Mereka kami taruh di lantai yang berlapis karpet mewah itu. Mereka tentunya takut berteriak karena todongan pistol kami.
Setelah kami menemukan barang-barang berharga dan sejumlah uang tunai, secepatnya kami bergegas meninggalkan mereka. Kusuruh anak buahku duluan mengantar barang-barang tersebut ke mobil kami. Mereka kira aku tidak memperhatikan, mereka meronta-ronta hendak melepaskan tali pengikat. Tapi tiba-tiba aku menoleh ke mereka yang membuat mereka langsung terdiam. Mungkin karena berusaha melepaskan tali, membuat baju istri pejabat itu tersingkap sehingga memperlihatkan pantatnya yang bulat.
Posisinya tertidur menyamping dengan kaki dan tangan terikat jadi satu. Sehingga aku dapat melihat lekukan pinggulnya yang sangat indah. Kulihat pantatnya yang berhadapan denganku saat itu.
"Ooohh.." tiba-tiba aku tersentak melihat pantatnya yang bulat.
Vaginanya terjepit diantara kedua belah pahanya. Terlihat wajah kedua suami istri itu cemas dengan apa yang akan kulakukan. Mereka heran bagaimana bisa sang nyonya tidak mengenakan celana dalam lagi. Perlaha kudekatkan wajahku ke belahan pantat dan vagina si nyonya yang terjepit pahanya.
Kembali jantungku berdebar kencang tak teratur. Siapa yang tahan lihat pemandangan seperti ini. Wajah si nyonya tampak semakin cemas saja melihat aku mulai mengendus vaginanya.
"Tolong jangan sentuh istriku, ambillah semua yang ada asal jangan kau ganggu istriku.." kata Pak pejabat memohon.
Bukannya aku tak berperasaan, tetapi apapun rasanya tak sanggup untuk menggantikan vagina istrinya yang telah membuat birahiku naik. Kujulurkan lidahku sampai menyentuh bibir vagina si nyonya yang sekaligus menyentuh clitorisnya yang keluar dari bibir vaginanya.
"Auwww.. Jangan.. Kumohon.. Jangan sentuh aku.." kata si nyonya memohon. Dengan posisi seperti ini, berarti dia memunggungi aku. Dia berusaha menoleh ke arah wajahku yang mulai menjilati vaginanya.
"Auhh.. Jangan.. Auhh.." katanya dengan suara memelas dan kegelian.
Aku tak perduli lagi, kali ini aku mau merasakan vaginanya secara utuh, sebagai balasan yang tadi. Kembali kujilati bibir-bibir vaginanya sambil mengelus-elus bongkahan pantatnya yang bulat besar. Terlihat belahan pantatnya membelah sampai ke vaginanya, sungguh pemandangan yang sangat indah.
Sementara batang zakarku kembali tegang. Segera kubuka semua pakaianku tanpa melepas cadar zorro ku. Sepertinya Pak pejabat sudah pasrah, mungkin sebagai lelaki dia dapat merasakan apa yang kurasakan, yaitu nafsu yang harus dituntaskan. Untuk itu sia-sia saja dia memohon bila sudah sejauh ini.
Kemudian kubuka pakaian tidur istrinya dengan mengguntingnya. Terpampanglah tubuh nyonya pejabat yang sangat mulus dan putih. Kugunting lagi BH nya dan tersembullan buah dadanya yang lumayan besar dan sudah mulai mengeras. Kedua tanganku meraba buah dadanya dari samping. Kuremas-remas dengan gemasnya.
"Akhh.. Jangan.. Akhh.." saya jadi merasa lucu tidak bisa membedakan larangan atau erangan yang keluar dari mulutnya.
Sambil meremas buah dadanya, kuciumi tengkuknya sampai ke punggungnya yang membuat bulu romanya merinding.
"Akhh.. Tolong.. Jangan teruskan.. Akhh.." katanya lagi berusaha menghentikanku.
Sementara badannya menggeliat-geliat merespon ciumanku. Ciumanku terus turun menyusuri pinggangnya yang ramping sampai ke buah pantatnya. Kujilati buah pantatnya dua-duanya. Kugigit daging pantatnya yang kenyal.
"Auwww.. Sakit.." erangnya kesakitan.
Kususupkan kepalaku ke pusarnya yang terjepit diantara ikatan tangan dan kakinya. Kujangkau sedapat mungkin bagian depan vaginanya sampai bagian itu basah dengan ludahku. Puas dengan itu, kembali kedua tanganku meremas dua buah pantatnya sementara mulutku melumat bibir vaginanya yang terjepit tanpa tersisa. Lubang vaginanya mulai mengeluarkan lendir bening, pertanda dia juga mulai terangsang.
Kujilati kedua batang pahanya yang mulus dan kembali lagi ke lubang vaginanya. Kucoba memasukkan lidahku ke lobang vaginanya.
"Auw.. Jangan.. Akhh.. Jangan.." dia mulai menangis tapi seperti kenikmatan juga.
Mungkin karena di depan suaminya membuat dia tersiksa antara menikmati tapi takut dengan suaminya. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan tubuh nyonya pejabat ini tapi karena keburu pagi dan anak buahku terlalu lama nunggu dan bisa curiga, akhirnya aku berusaha menuntaskannya.
Tubuhku kurebahkan dan mensejajarkan dengan posisi tubuhnya dimana bagian tubuhnya yang sebelah kiri berada dibawah. Dia memunggungiku sementara badanku menghadap punggungnya. Perlahan kupaskan posisi selangkanganku dengan pantatnya yang membuat batang zakarku menyentuh belahan pantat dan bibir vaginanya. Tanganku yang kiri kususupkan dari bawah tubuhnya sampai dapat menggenggam buah dadanya sebelah kiri. Kupegang dengan erat yang membuat dia mengerang.
"Akhh.. Aaku mau diapakan.." tanyanya.
Tangan kananku mulai menggenggam batang zakarku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya yang terjepit pahanya.
"Auw.. Jangan.. Tolong.. Jangan dimasukkan.." katanya sambil menjauhkan vaginanya dari penisku yang mulai menyentuh bibir vaginanya.
Biar tidak bergerak, kuangkat kaki kananku dan meletakkan diatas pinggulnya serta mengunci pergerakannya. Setelah tenang kembali kuarahkan batang zakarku ke lubang vaginanya.
Perlahan kuselipkan kepala penisku ke lubang vaginanya, dan..
"Auw.. Jangan.. Kumohon jangan masukkan.." katanya mengerang.
Tapi aku tak perduli lagi, kutekan pantatku sampai kepala penisku terbenam di jepitang lubang vaginanya.
"Pah.. Gimana donghh.. Ini.." katanya sambil menoleh ke suaminya yang wajahnya memerah.
Tapi Pak pejabat tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kurasakan kepala penisku sudah mantap terjepit di lubang vaginanya, kemudian tangan kananku meraih buah dadanya yang satu lagi.
"Tolong.. Jangan.. Tekaann.. Auw.." tiba-tiba dia menjerit ketika kutekan penisku hingga batang zakarku amblas semuanya yang membuat tubuhku sampai melengkung.
"Bleessek" suara batang zakarku menyusuri liang vaginanya.
Sesaat kudiamkan penisku didalam liang vaginanya. Kuciumi tengkuknya dan berusaha menciumi bibirnya tapi tidak sampai. Perlahan kuayun pantatku mengocok vaginanya. Karena terjepit pahanya membuat lubang vaginanya agak keset dan nikmat sekali rasanya.
"Akhh.. Hentikan.." katanya masih menangis berusaha menolak nikmat yang semakin dia rasakan.
Kupercepat ayunan pantatku membuat badannya terdorong-dorong ke depan.
"Auw.. Auwww.. Akhh.." erangannya keluar setiap penisku kudorong kedepan.
"Akhh.. Pahh.. Tolongin.. Pahh.. Akhh.." tiba-tiba kurasakan tubuhnya mengejang, pahanya semakin keras menjepit kontolku.
Badannya semakin menggulung ke depan menyebabkan badanku semakin ikut melangkung karena tertarik kontolku yang dijepit kuat vaginanya.
"Akkhh.. Pahh.." erangnya disaat kurasakan kepala zakarku disirami oleh cairan orgasmenya didalam liang vaginanya.
Kemudian dia lemas dan pasrah ketika semakin cepat kugoyang tubuhnya. Pak pejabat sekilas kulihat malah menonton keluar masuknya batang zakarku di vagina istrinya. Nampak wajahnya merah padam, mungkin ikut terbawa suasana juga. Beberapa menit kemudian aku ingin menuntaskan permainan ini. Kupercepat kocokan penisku di vaginanya, sampai menimbulkan bunyi, blessep.. bleessep.. blep, perpaduan antara batang zakarku dengan lubang vagina ibu pejabat itu.
Sesaat kemudian kudekap erat tubuhnya. Kedua tanganku dengan kuat membetot buah dada nyonya besar itu.
"Auwww.." jeritnya kaget merasakan ketatnya genggaman tanganku di buah dadanya.
Kemudian kaki kananku kembali kuletakkan di atas pahanya dan menjepitnya dengan kuat. Dengan pegangan yang kuat terhadap buah dadanya dan disertai jepitan kakiku di sekitar pahanya, kutekan penisku perlahan ke dalam liang vaginanya sampai mentok terganjal buah pantatnya. Walaupun sudah mentok, kudorong terus sekuat tenaga sampai tubuhnya terdekap dengan sangat kuat oleh tangan dan kakiku.
"Akhh.. Ohh.. Ampuunn.." erangnya masih dengan malu-malu mengeluarkan ekspresi kenikmatannya. Kelihatannya dia juga hendak orgasme yang kedua kalinya. Kurasakan dia juga mendorong pantatnya dengan kuat agar batang zakarku lebih dalam masuk ke laing vaginanya.
"Akhh.." erangan suaraku sangat berat melepaskan spermaku ke liang vaginanya.
"Cabuutt.. Jang.. an.. Keelluuaarrkhaann.. Di.. Dal.. lam.." katanya disaat spermaku muncrat didalam rahimnya tetapi sudah tidak kuperdulikan lagi. Spermaku terasa muncrat menembaki dinding rahimnya yang membuat banjir liang vaginanya.
"Aukhh.. Akhh.. Oohh.." tiba-tiba tubuhnya juga mengejang sampai melengkung ke depan. Kurasakan lagi semprotan cairan orgasmenya menyirami kepala penisku.
"Ahh.." erangnya lagi di sisa-sisa orgasmenya sementara masih terasa kedutan vaginanya mengurut-urut batang zakarku.
Tubuh kami berdua melemas. Untuk sesaat masih kudekap tubuhnya dan membiarkan batang zakarku tetap terbenam didalam liang vaginanya. Kami berdua terdiam dan dia juga tidak memperdulikan suaminya lagi. Mungkin ini kenikmatan yang paling indah dia rasakan dengan tubuh yang terikat.
Beberapa saat kemudian kucabut penisku dari dalam vaginanya."Plop!" terdengar suara dari lubang vaginanya manakala penisku tercabut.
"Akhh.." erangnya lagi merasakan gesekan penisku meninggalkan liang vaginanya.
Segera kukenakan pakaianku. Sesaat kutatap mereka berdua.
"Maaf.. Pak, Bu, saya tidak bisa menahan diri," kataku sambil berlalu meninggalkan kamar itu.
Di tangga kudapati anak buahku mau menyusul aku. Mereka takut apa yang terjadi padaku di atas. Setelah kubilang semuanya aman dan terkendali, kami bergegas meninggalkan rumah itu dengan hasil yang paling besar artinya sepanjang karirku merampok.
Sesaat kami hendak meninggalkan rumah itu, terdengar dari atas suara teriakan seorang perempuan.
"Rampookk..!"
E N D
Kamis, 05 Februari 2009
TIRAI PENGANTIN YG TERKOYAK
Dudung masih menanti jawaban dari lelaki sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama, yakni 48 tahun!
"Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti sudah tidak waras!!", hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon mertuanya itu.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini untuk melamarnya", tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu takluk pada kemauannya.
"Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh mereka ini yang akan berumah tangga nantinya", sela si ibu Dina yang duduk di sebelah Somad.
Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak kemarin-kemarin.
"Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik kita, istriku?", jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
"Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak", tutur istrinya seakan membela Dudung.
Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh dengan Dudung dalam wangsit tersebut.
"Ngghh..", tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti kehabisan kata-kata sesaat.
Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak unggasnya.
"Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian kota", saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.
Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.
*****
"Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya untukmu", pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana jasnya.
"Baik Bu", jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.
Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu.. Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.
"Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya sampai putus hanya karena pernikahan ini", tukas ibu mertuanya lagi.
Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah. Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.
Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka. Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu indah dan sangat mahal tentunya.
Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya, Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang penghulu kembali mengucapkan kalimat;
"Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua??"
"Ya! Saya bersedia!", fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
"Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua?"
Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..
"I.. Ya.. Bersedia"
*****
Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ selain dirinya.
Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.
Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat. Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya terlihat nyata di penglihatan Dudung.
Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting.. Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.
"Dina istriku.. Kamu sudah mandi?", tanya Dudung dengan wajah dan suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu, wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.
Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya, sehingga ciuman itu luput.
"Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu", tanya Dudung sambil menahan kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
"Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini", keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.
Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis tangan suaminya itu.
"Ahh.. Kenapa?", Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
"Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan masih ada hari esok", jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.
Hari-hari berikutnya pun begitu.
"Aku sedang mendapat haid Mas"
"Bah!", umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
"Mas Dudung mau kemana?"
"Apa pedulimu? Aku mau plesir..!", gerutunya pada Dina. Tujuannya cuma satu, ia akan meminta 'jatah' ranjang dari salah satu istrinya yang lain malam itu juga untuk digauli.
Setelah seminggu lewat pun masih belum ada perubahan. Padahal seharusnya masa menstruasi istri ketiganya ini telah berakhir.
"Dina ada ujian mid-test besok Mas, harus kebut belajar malam ini"
Dudung pun terdiam. Sia-sia usaha rayuan dan cumbuan yang ia lakukannya selama ini pada Dina yang selalu menolaknya secara halus. Masih juga dia pakai alasan klise untuk menolakku? Lihat saja nanti! Umpatnya dalam hati.
Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu, bahkan sejak siang hari tadi.
Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.
Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala. Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan Dina telah tercekal oleh Dudung.
"Mas?! Mau apa kamu?!!"
"Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!"
"Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!"
"Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!"
Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.
"Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!", jerit Dina akhirnya.
"Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!", balas Dudung.
Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.
Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi satu dengan kaki kirinya.
"Jangan Mas! Ampun! Ampunn!", mohon Dina begitu mengiba pada suaminya ini. Tapi Dudung malah membekap mulutnya dengan gelungan sapu tangan yang diikatkan melewati belakang kepalanya.
"Mmph.. Mmphh!", habislah daya upaya Dina untuk berteriak kini. Mulut mungil gadis itu telah dibungkam sepenuhnya oleh sang suami.
Dudung demi mendapati istrinya telah tak berdaya itu segera melolosi baju tidurnya yang seperti jubah dengan tali di pinggangnya. Seketika tubuh bugilnya yang hitam namun kekar itu dipertunjukkannya kepada Dina istrinya. Dina pun terkesiap, tak disangka sosok kurus suaminya itu begitu tegap dan ia secara refleks memandang ke arah selangkangan Dudung yang telah bugil ini serta melihat kemaluannya yang panjang mengangguk-angguk di antara jembutnya yang merona putih dan hitam di sana-sini seperti rambut di kepalanya yang bercampur dengan uban.
Dina terduduk di ranjang itu dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Bola mata indahnya nan bening itu tetap memancarkan belas kasihan yang mendalam. Tapi Dudung sudah tak peduli lagi akan hal itu. Kesabarannya telah habis untuk memaklumi istri mudanya yang belum berhasil ia tundukkan. Ilmunya tak akan sempurna kalau belum menggauli gadis itu. Ditatapnya wajah Dina yang cantik menawan itu. Hidung istri ketiganya begitu bangir dan mungil, semungil tubuhnya yang saat ini terikat erat. Bibirnya ranum merekah memerah di balik sumpalan sapu tangan. Rambutnya panjang terurai melewati bahu. Ah! Betapa cantiknya dara belia ini.
Dina pun meronta-ronta ketika Dudung berusaha membuka kancing seragam SMU-nya yang masih menyisakan rona keringat di sana-sini. Mereka berdua masing-masing bertahan pada kemauannya yang bertolak belakang. Terjadi pergumulan seru di antara keduanya. Meskipun dalam keadaan terikat Dina terus mengelak ke kanan dan ke kiri sehingga Dudung kesulitan untuk melepaskan kancing-kancing seragam sekolahnya. Namun tak diduganya sebuah tamparan telak menghantam pipi kirinya yang mulus putih itu. Plak!
Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya bahwa suaminya akan berbuat kasar pada dirinya. Sesaat ia seperti tak sadar, sehingga memudahkan Dudung membuka kancingnya. Namun itu tak berlangsung lama, Dina berontak lagi menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dudung kesulitan dalam menjalankan aksinya. Mulut Dina menceracau tak jelas di balik bungkaman sapu tangan. Baru dua buah kancing yang terlepas di dadanya. Sampai sini Dudung sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya gunting dari laci meja rias, kemudian diguntingnya seragam sekolah istrinya sampai menyisakan kutangnya saja. Namun rok abu-abunya masih menutup lengkap dari belahan pinggang rampingnya sampai ke bawah mendekati kedua lututnya.
Dina menangis sesenggukan, sementara Dudung semakin liar matanya menatap tubuh mulus istrinya itu yang telah sah dinikahi. Benar-benar putih dan bersih dari jenjang leher sampai pusarnya. Dudung pun lelah dengan ulah istrinya yang selalu mengiba lewat kelopak mata bening indahnya menatap minta dikasihani olehnya. Ia lalu membalikkan tubuh istri mudanya itu sehingga menungging di atas ranjang pelaminan mereka.
Dalam keadaan demikian posisi Dina benar-benar terjepit. Ikatan pergelangan tangan kanan dengan mata kaki kanan serta pergelangan tangan kiri dengan mata kaki kirinya benar-benar mengunci dirinya saat menungging. Pipi kanannya terpuruk di kasur ranjang dengan berurai air mata kesedihannya, namun dalam posisi itu Dudung sudah tak melihatnya. Dan memang itulah yang diinginkan Dudung, agar ia bisa puas menikmati jenjang tubuh dara belia ini tanpa harus melihat ekspresi mengiba itu.
Dudung melepas sepasang sepatu sekolah Dina yang masih melekat di kedua kakinya. Aroma pengap kaus kakinya yang putih bersih tercium oleh Dudung bagaikan undangan birahi yang datang dari surga ketujuh untuknya. Bagai kesetanan Dudung melolosi sepasang kaus kaki sekolah istri mudanya yang berpeluh tersebut untuk kemudian tanpa sepengetahuan Dina kaus kaki itu di ciuminya bergantian. Dengan tangan tuanya, dudung mengelus punggung gadis belia itu dengan lembut sebelum melepaskan tali kutang istri ketiganya tersebut.
Bra Dina kini telah jatuh ke sprei ranjang itu. Dudung kini jakunnya turun naik menikmati keindahan kedua bukit payudara istri mudanya yang menggantung membulat padat merangsang. Dielusnya puting payudara gadis itu bergantian kanan dan kiri sambil sesekali diremasnya. Tubuh Dudung kini membungkuk di atasnya seraya mencumbui tengkuk istrinya yang menungging tak berkutik dan masih tetap mengusap-usap kedua belah gunung kembarnya yang begitu kenyal di jari-jari tangannya.
Dina mulai merasakan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya ketika tangan-tangan tua lelaki ubanan itu merayap di belahan dadanya. Memang seumur-umur ia sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki sedekat dan seintim ini. Tapi ketidaksukaannya terhadap suaminya yang main paksa itu masih teramat kuat, sehingga ia berusaha menahan gairah dan rasa yang mulai mengisi sendi-sendi di tubuhnya.
Namun usaha Dudung tak hanya sampai di situ. Tak percuma ia sudah beristri lebih dari satu kalau tidak bisa membangkitkan birahi perempuan. Lewat sentuhan jari-jari tangannya ia mulai mengelusi titik-titik gairah istri ketiganya yang paling muda ini. Bahkan kini wajah Dudung menyusup ke kolong dada Dina yang menungging menggantung dan sambil telentang Dudung mulai menjilati dan mengulumi puting payudara indah milik istri mudanya tersebut.
Percuma saja Dina bertahan dengan kekukuhannya untuk menolak gairah perawannya yang tengah dibangkitkan oleh sang suami. Maklumlah seorang gadis belia seusianya belum mampu mengendalikan diri serta belum tahu cara bermain cinta. Seperti bermain layang-layang, ia tidak tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Demikian pula saat bermain cinta, gadis itu tidak dapat mengendalikan sensasi birahi pada dirinya, sehingga langsung terhanyut ke dalam pusaran arus dahsyat yang disodorkan suaminya.
Puting payudaranya yang masih berwarna merah muda itu perlahan-lahan mulai membesar dan mengeras serta semakin kenyal memadat. Dudung pun merasakan perubahan itu dan ia pun senang karena daya upayanya membangkitkan gairah perawan istri ketiganya itu mulai menampakkan hasil. Ia semakin tekun menjelajahi lekuk liku tubuh dara belia yang telah separuh telanjang di hadapannya kini.
Setelah puas mempermainkan bukit kembar istrinya yang begitu indah menawan dipandang mata, Dudung pun bangkit berdiri dan mengambil posisi duduk di belakang pinggul Dina yang menungging. Perlahan ia menyibakkan rok abu-abu seragam sekolah istri mudanya itu sampai pinggangnya, maka kini terlihatlah sepasang paha putih Dina begitu indah terpampang baginya. Diusapnya paha putih bak lobak milik sang dara belia yang ceracaunya sudah tak diindahkan lagi oleh lelaki tua itu di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya.
Sesekali diciuminya bongkahan paha putih istrinya yang masih beraroma keringat sehabis pulang tadi dan Dudung senang sekali dengan bau yang melekat di situ. Dudung pun tersenyum menatap bagian selangkangan Dina yang masih tertutup oleh celana dalam putih berenda miliknya, sebab ada rembesan basah nan lengket bening seperti putih telur di situ. Tahulah dia, istrinya sudah terangsang juga oleh keahliannya membangkitkan birahi wanita.
Tak sabar Dudung menantikan saat dimana ia akan dapat melihat apa yang tersembunyi di balik celana dalam putih berenda yang telah basah mencetak bening seperti sebuah kepulauan pada sebuah atlas. Diraihnya karet celana dalam itu serta diperosotkannya perlahan sampai setengah paha atas istrinya saja. Celana dalam yang tadi menutup belahan selangkangan Dina kini telah merosot setengah paha dengan bagian yang tadi menutupi keintimannya menjadi berbentuk mangkuk seakan mewadahi miliknya yang sangat pribadi itu.
Sampai di sini Dudung pun terpana menyaksikan keindahan dari selangkangan istrinya yang begitu menawan hatinya. Betapa tidak.. Baru kali ini ia dapat melihat kemaluan perempuan yang masih perawan, apalagi si Dina ini adalah seorang gadis yang masih sangat muda belia untuknya. Bulu-bulu jembut dara itu masih begitu halus dan tidaklah lebat seperti kedua orang istrinya terdahulu. Gundukan kemaluannya sangat kencang membentuk lekukan nan indah menawan hati. Dan yang lebih membuat Dudung terkesima dibuatnya, lubang keintiman Dina masih tertutup rapat menyerupai garis vertikal yang tak terlalu panjang menunjukkan bahwa lubang kegadisannya pasti sempit dan kecil.
Di atas celah kegadisannya bertengger pula lubang sempit ketat kepunyaan istri ketiganya ini berwarna merah muda yang berkeriput sedikit pucat yakni liang anus Dina. Betapa Dudung merasa sangat beruntung sekali malam itu, karena ia akan berkesempatan untuk menikmati kehangatan tubuh mungil istrinya yang sedemikian montok menggemaskan ini.
Dengan kedua belah ibu jarinya, Dudung membuka bibir belahan kemaluan Dina. Tampaklah isi dalamnya terkuak berwarna merah nan nyata bak buah pepaya mengkal yang dibelah dihiasi dengan kelentit kecilnya nan menjulang ke bawah dan bermuara pada rimbunan jembut kelaminnya yang menukik sedemikian rupa. Kira-kira sedalam satu buku jari dari celah yang terbuka itu, terlihatlah selaput dara gadis itu masih menyegel jalan masuk ke dalam lubang yang telah lama diidam-idamkan oleh suaminya ini.
Dudung pun merasa takjub, bahwa baru kali inilah dia dapat memandangi kemaluan perempuan yang masih suci lengkap dengan selaput keperawanannya yang berbentuk bulan sabit kembar nan menutupi atas dan bawah rongga keintiman dari istri mudanya ini sehingga hanya menyisakan sedikit rongga nan sedemikian kecil dan sempitnya untuk jalan masuk penisnya nanti. Aih! Sempit banget?
Dudung pun hanyut oleh fantasi pikiran yang dibuatnya sendiri bagaimana nanti ia akan merasakan kenikmatan dari jepitan selaput perawan kepunyaan Dina sang istri termudanya tersebut. Dapatkah nanti kelelakiannya menembus celah yang begitu mungil pada selangkangan gadis itu? Tak sadar bibirnya tersenyum mesum pada wajah tuanya yang penuh bopeng di sana sini.
Bagaimana Dudung tak merasa sangat beruntung mendapatkan Dina, sebab istri ketiganya ini bak bidadari nan jatuh dari langit saja dan sebenarnya sama sekali tak ada sebanding apapun dengan dirinya yang sudah di ambang kerentaan ini. Namun berkat keampuhan guna-gunanya kepada ayah dan ibu gadis itu, kini ia berhasil memperistrinya secara sah! Dan ia berhak menuntut haknya sebagai suami pada istrinya yang sah tersebut dalam ikatan benang merah perkawinan resmi di antara keduanya nan sudah terjalin.
Kini.. Dan di kamar ini ia akan membagi kebahagian ranjangnya bersama sang istri tercinta yang tengah tergolek menungging tak berdaya di hadapannya yang masih tak henti-hentinya menyaksikan celah keintiman nan memukau dalam pandangannya itu.
Liang itu masih membasah pada dinding-dinding dalamnya dengan cairan bening lengket di sana-sini. Baunya sangat sedap di penciuman Dudung kala ia mendekatkan hidungnya di belahan indah yang ia rekahkan dengan jari-jarinya. Aromanya sangat nyata terpancar dari dalamnya, begitu memancarkan keharuman nan pekat bercampur dengan bau pesing yang memikat. Namun wanginya tentu sangatlah jauh melebihi kedua istri tuanya yang sudah mendekati masa menopause. Tak heran karena kemaluan Dina masih suci serta belum pernah disetubuhi oleh lelaki, tentu saja baunya masih sangat sembab asli perawan murni!
Siapa yang tahan menyaksikan pemandangan itu begitu lama? Dan ini pun berlaku juga buat si Dudung yang langsung menyelipkan lidahnya di antara celah keintiman istri mudanya untuk kemudian melahap lendir bagian terlarang itu dengan rakus dan lahap. Sruph! Sruph! Dihirupnya air madu di selangkangan Dina untuk kemudian di telannya tanpa rasa jijik sama sekali olehnya di antara geliatan-geliatan sensasi geli yang dirasakan istrinya tersebut, padahal rasanya agak-agak asin sedikit.
Dina semakin berkelojotan diperlakukan demikian, bahkan semakin Dudung gencar menjilati belahan kegadisannya, lendir kemaluannya juga terus-terusan mengalir dari dalam selangkangannya. Bokongnya turut bergerak-gerak seirama jilatan lidah Dudung yang seakan mengorek-ngorek isi belahan kegadisannya nan intim. Selain itu kedua tangannya sibuk pula mengelusi bongkahan pantat Dina nan menyesaki rongga-rongga dada Dudung yang dipenuhi birahi hebatnya selama ini.
Ingin rasanya Dudung segera menikmati kepunyaan Dina, namun ia tak mau terburu-buru melaksanakan niatnya, apalagi langsung main hantam kromo. Dia ingin membuat Dina juga sama-sama menikmati permainan asmara ini berdua dengannya nanti, karena itulah janji yang telah ia ucapkan kepada penghulu maupun kepada ayah dan ibu Dina, bahwa ia akan membuat Dina bahagia dengan perkawinannya. Selain itu situasi rumah kini mendukung sekali niat Dudung untuk menggauli istrinya malam itu seiring dengan pekatnya malam nan mulai temaram dengan kedinginannya.
Dengan kelincahan lidahnya yang menari-nari di dalam belahan liang kegadisan milik Dina, Dudung juga mengait-ngait kelentit dara belia muda ini sehingga tampak melejit-lejit dibuatnya. Umbai itilnya turut bergoyang-goyang seirama ulasan lidah suami tuanya yang sah. Rasanya sungguh membuatnya lupa daratan, bagaikan di tengah laut lepas terombang-ambing tak bertepi hanyut dalam gerakan badai ombak ganas namun serasa lembut di awang-awang. Semakin lama kelentit dara itu mengembang memerah terisi oleh buluh-buluh darahnya nan tersirap sudah di pangkuan wajah suami tuanya.
Diam-diam Dina membatin dalam dirinya dengan hati berkecamuk antara kebenciannya pada Dudung serta gejolak pada tubuhnya nan seperti tak bisa ia bendung lagi. Tubuh dara yang menungging terikat itu bergetar hebat diperlakukan sedemikian rupa. Seluruh urat-urat di tubuhnya yang setengah telanjang itu seakan bereaksi menjadi satu menciptakan sebuah gelombang besar yang siap meletup setiap saat. Semakin ia berusaha menekan rasa itu, semakin beratlah ia menanggung derita karenanya. Celah keintimannya semakin berdenyut-denyut disertai rasa gatal nan menyerang berkepanjangan.
Perlahan-lahan kedua belah telapak kaki indahnya menekuk hingga tampak berjinjit di hamparan sprei putih mahligai cinta rumah persembahan orang tuanya untuk mereka. Getaran di tubuh mulusnya semakin kuat sampai mirip menyerupai geleparan-geleparan kecil. Otot-otot di perutnya yang ramping nan terbuka separuh telanjang itu terlihat berkedut-kedut seiring dengan bongkahan pantatnya yang semakin mengeras. Dudung pun mengetahui apa yang tengah menimpa istrinya sekarang dan ia pun menambah kuluman serta jilatannya mengulas ke segenap penjuru daerah keintiman istrinya yang terlarang bagi lelaki lain selain dirinya yang telah disahkan resmi sebagai suaminya.. Itulah keuntungan terbesarnya malam ini.
"Ouggh! Efhh.. Ouh.. Aaffrghh!!"
Itulah jeritan gadis sekolah berusia 18 tahun saat di ambang puncak kenikmatannya yang tak tertahankan lagi seiring dengan banjirnya isi lubang kemaluannya nan kini sarat dengan cairan putih seperti air santan kelapa. Lendir itulah yang kiranya dinanti-nantikan oleh Dudung sejak tadi, sebab air kemaluan orgasme seorang perawan dianggap berkhasiat sebagai obat awet muda serta dapat menguatkan kembali keperkasaan lelaki.
Serta merta disedotnya air santan yang mengalir dari lubang berbulu basah milik sang istri mudanya itu bak orang haus di padang pasir saat meneguk air oase pada sela-sela pinggul dara itu yang masih berkelojotan melepas luapan puncak birahi pertamanya di hadapan sang suami. Curahan air santan itu bersemburat lewat isi dalam liang kemaluannya yang dilihat Dudung berdenyut bahkan cenderung mengempot. Dudung pun terkesiap melihat empotan pada lubang kemaluan Dina yang masih utuh dengan selaput keperawanannya sambil berpikir.. Seperti inikah?
Dina pun terkapar dalam keadaan masih menungging di ranjang bersimbah peluh di sekujur tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan duniawi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Baru kali ini ia mencapai keadaan surgawi dunia perkawinan, padahal suaminya belum lagi menyebadaninya. Gadis itu terlena beberapa saat sehingga ia sama sekali tak sadar bahwa Dudung di belakangnya tengah mengambil posisi berlutut pada bokongnya nan terhidang sambil menggenggam batang pelirnya yang telah tegang mengacung.
Batang pelirnya berukuran cukup panjang di usia senjanya itu dan sudah mempunyai jam aksi yang sangat banyak bersama kedua istrinya terdahulu. Kepala kejantanannya diarahkan tepat pada celah masuk gerbang surga sang dara belia nan cantik yang sungguh mempesona dirinya, sebab saat itu dirasanya paling tepat untuk memulai penetrasinya pada Dina yang memeknya sudah sembab membasah tertimpa oleh orgasme pertamanya sendiri barusan.
Daging kepala kontolnya telah lekat pada pintu masuk belahan kemaluan sang istri dan dalam kondisi siap untuk melakukan ritual persetubuhan dengannya. Ujung penisnya yang seperti helm baja serdadu itu sudah terarah sepenuhnya ke belahan selaput bulan sabit kembar kepunyaan Dina istrinya nan masih perawan tersebut. Gadis itu terhenyak ketika Dudung menghentakkan pinggulnya berusaha menembus gerbang pintu surga miliknya yang paling berharga. Namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dalam kondisi terikat erat kedua tangan dan kakinya, apalagi Dudung mencengkeram kuat-kuat pinggang rampingnya dimana rok abu-abunya masih melekat tersibak di situ.
Dina hanya bisa melenguh kesakitan saat suaminya mulai menodainya. Berkali-kali pelir Dudung terpeleset-peleset ketika dihunjamkan ke dalam lubang memek berbulu basah itu. Dara itu pun hanya dapat menjerit dalam bungkaman sumbatan sapu tangan di mulutnya. Peluh keduanya telah mengucur membasahi sprei ranjang perkawinan mereka malam itu. Dudung pun baru tahu bahwa ternyata memperawani seorang gadis akan sesulit ini. Tapi kepalang tanggung sudah, ia terus berusaha sekuatnya menembus benteng pertahanan istri ketiganya itu dengan gencar. Akhirnya topi baja sang dukun pengobatan ini berhasil jua terjepit oleh bibir memek Dina yang perawan.
Kini dirasa oleh Dudung bahwa ujung kontolnya telah bersentuhan dengan selaput dara gadis bidadari impiannya itu. Sudah terasa hawa hangat mengaliri daging kepala pelirnya dan memberikan rasa nyaman yang sukar dilukiskan. Perlahan ia menekan selangkangan Dina dengan kekuatan pinggulnya nan berotot dan kontolnya mulai melesak masuk ke dalam kemaluan istri termudanya ini. Dina menggigit kuat-kuat saputangan penyumbat mulut mungilnya berusaha menahan pedih pada memeknya yang mulai dijejali pelir lelaki tua itu. Wajahnya yang terpuruk pada kasur dihentak-hentakkannya ke kiri dan kanan menghalau rasa sakit saat selaput daranya mulai ditembusi oleh kontol lelaki yang hampir sebulan setengah telah menjadi suaminya itu.
Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Dina, Dudung malah merasakan nikmat nan amat sangat menjalari tonggak kejantanannya. Kontolnya serasa menembus sesuatu yang lunak basah namun sangat lembut dan begitu hangat saat daging keduanya berpadu. Tidak hanya itu, lelaki tua itu juga merasakan kontolnya seperti diurut-urut oleh daging hangat yang berdenyut-denyut menjepit kuat urat-urat kejantanannya ini. Semakin dalam kontolnya ia benamkan ke dalam celah memek yang penuh sesak itu, makin terasa hangatnya daging belia si Dina yang masih sekal dan ranum ini. Ketika masih menyisakan kira-kira satu setengah sentimeter dari pangkal selangkangannya yang berjembut ini, pelir Dudung telah berhenti sampai di situ.
Saat ia kembali menekan pinggulnya, tetap saja kontolnya sudah tidak dapat terbenam semuanya dan paling mentok sisa satu sentimeter saja. Agaknya kontol Dudung telah mentok ke dasar belahan memek gadis belia itu dan memang gadis seusia Dina lorong kemaluannya masih belum berkembang sempurna untuk menerima kehadiran kontol lelaki, namun itu bukan berarti mengurangi kenikmatan sama sekali jika bersanggama dengannya. Malahan lelaki akan merasa perkasa bila pelirnya mentok di dasar peranakannya. Itu memberi sugesti bahwa kejantanannya sungguh panjang dan kuat. Demikian pula dengan Dudung, ia pun bangga demi mendapati kontolnya mentok ke dasar belahan kemaluan gadis itu. Apalagi dasar memek Dina dirasanya begitu nikmat menahan helm bajanya kini.
Diremasnya kedua belah payudara Dina yang menggantung bebas itu sambil merasakan jepitan selaput daranya yang begitu menciptakan nikmat yang tak tertandingi dari apa yang didapat dari para istrinya terdahulu tanpa peduli lagi akan raungan yang tersumbat dari mulut istri terakhirnya ini nan sudah terpedaya di tangannya. Setelah puas barulah Dudung mencabut tonggak zakarnya dari lubang peraduan itu diiringi dengan genangan darah kesucian Dina yang membasahi kulit luar batang pelirnya. Sebagian lagi menetes-netes jatuh ke gumpalan celana dalam yang masih berkutat di paha putihnya nan mulus. Celana dalam putih berenda miliknya kini telah bernoda darah keperawanannya sendiri dan inilah yang diinginkan Dudung sebagai bukti penyerahan diri sepenuhnya dari sang istri kepadanya.
Setelah itu mulailah Dudung menggenjot tubuh Dina yang sudah mempersembahkan keperawanannya ini perlahan-lahan agar memek Dina yang masih terasa peret namun legit itu dapat menyesuaikan diri dengan ukuran pelirnya yang dikeluar-masukkan ke dalam lubang sanggama istri termudanya ini. Betapa hancur hati Dina demi mengetahui dirinya sudah berserah segala-galanya bagi lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu. Tak ada lagi sikap tinggi hatinya ketika kini dalam posisi sedemikian rupa ia dipaksa melayani kemauan sang suami yang menuntut haknya. Dina pun sadar bahwa sebagai seorang perempuan yang telah menikah berkewajiban untuk melayani sang suami termasuk pelayanan ranjang seperti dirinya sekarang.
Pertanyaan di benak Dudung terjawab sudah dengan apa yang dirasannya detik ini. Rupanya lorong merah kemaluan istrinya mempunyai kekhasan yang khusus dan jarang sekali bisa ditemui dari setiap memek wanita. Dinding lubang vagina gadis itu dapat mengempot-empot dan menyedot-nyedot kelelakian Dudung yang terbenam di dalamnya. Agaknya ini merupakan tanda lahiriah nan dimaksudkan oleh gurunya. Tentunya wanita seperti Dina ini dapat memuaskan seorang suami dengan keistimewaan yang dipunyainya itu. Dan Dudung pun merasakan hal itu seraya mengusap peluhnya di dahi dengan penuh rasa puas, sudah dapat perawan, bisa ngempot lagi memeknya!
Dudung begitu terlena oleh permainan asmara paksa dan siksa ini atas istri termudanya ini. Bibirnya mendesah-desah seperti orang yang kepedasan di antara laju batang pelirnya yang keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina sang dara belia nan terus mengurut zakar tuanya. Perlawanan Dina sudah tiada lagi, yang ada tubuhnya hanya mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Dudung pada memeknya dalam keadaan menungging seperti anjing. Lelaki bermuka bopeng yang beruban di rambutnya itu pun sangat senang mendapati istrinya telah bertekuk lutut dan paha padanya kini dan ia semakin gencar mengayuh biduk-biduk birahinya yang tertunda sekian lama akibat sifat ketak-acuhan gadis ini pada dirinya.
Hmm.. Somad! Lihatlah..! Kini anak semata wayangmu ini sedang kugauli di kamar rumahmu dan ia sudah berhasil kuperawani serta kutundukkan. Ternyata sungguh enak sekali memek anakmu ini Somad! Aku telah memenuhi janjiku akan membahagiakannya lagi.. Dan lagi setelah ini.. Sampai aku benar-benar puas nantinya.. Hmm.. Telah sekian lama aku bersabar dari hinaan dan cercaan darimu saat aku bermaksud baik meminang putrimu ini.. Lihatlah Somad! Aku dan putrimu telah bersatu dalam hubungan badan yang ditentang keras olehmu.. Padahal anakmu ini sebetulnya telah haus akan belaian seorang lelaki di usia belianya ini. Tak tahukah engkau bahwa putrimu begitu cantik untuk hanya dipajang di rumah mewahmu ini? Tak sadarkah engkau kemaluan anakmu ini sudah matang untuk dibuahi oleh seorang lelaki? Tetapi kau tidak mungkin menyaksikan semua ini, karena hal ini tabu bagimu, meskipun ia anakmu, tapi aku..? Dapat menyaksikan semua bagian-bagian yang tersembunyi dari anak gadismu kini, sebab akulah yang berhak melakukan ini padanya! Ha.. Ha.. Ha..
{Demikianlah umpatan hati Dudung di sela-sela ritual persetubuhannya}
Dudung menjatuhkan dirinya dari posisi berlutut ke berbaring miring sambil menarik pinggul Dina yang masih tercengkeram oleh tangan-tangan tuanya tanpa kejantanannya lepas dari kemaluan istrinya. Dalam posisi tubuh keduanya rebah miring tersebut pelir Dudung semakin dirasa menusuk-nusuk tajam ke dalam lubang surga gadis itu. Duhh.. Kebayang nggak sih? Dina di usia belianya itu cantiknya seperti gadis pom-pom girls yang selalu menyemangati pagelaran olahraga. Tubuh rampingnya meliuk-liuk seirama hentakan Dudung pada selangkangannya yang terbuka bebas itu di ranjang. Kaki sebelah kanannya terjuntai bergoyang-goyang di udara menambah gairah bagi setiap lelaki yang melihatnya saat demikian sementara kontol sang suami keluar masuk di bawahnya menyumpal memeknya yang basah berjembut lembab namun berdenyut-denyut itu.
Lelaki tua seumuran ayah gadis itu leluasa sekali tengah membuahi rahimnya malam itu mendaki jenjang demi jenjang luapan syahwat nan menggelora diburu birahi terpendamnya yang menuntut penuntasan secepat-cepatnya. Batang zakar Dudung sudah berkilat-kilat berlumur cairan kewanitaan Dina dan hentakan yang diarahkan ke liang vagina sang dara ini dirasa semakin menggelitik kembali umbai kelentitnya serta membawa rasa gatal tak berkesudahan meminta untuk digesek dan digesek lagi.. Terus dan terus..
Sampai di sini Dina pun tak tahan lagi. Sekujur tubuhnya yang miring membelakangi suaminya itu tergetar hebat oleh pancaran dahsyat arus birahi nan melanda dirinya demi melayani keliaran dan kebuasan pelir lelaki tua tersebut. Kaki kanannya yang terjuntai tadi bergerak menendang-nendang di udara dengan semua otot-otot tubuhnya menegang sudah. Kedua terlapak kakinya yang mulus putih itu tertekuk kaku sudah mewarnai puncak orgasme keduanya nan telah tiba. Dudung pun merasa kontolnya makin dipijit-pijit dahsyat dalam kenyamanannya pada vagina sang gadis belia, namun sebagai lelaki berpengalaman yang sering melakukan permainan syahwat dia masih dapat mengendalikan orgasmenya sendiri.
"Aarghh! Ouaafrghh..!!"
"Oh.. Uoohh.. Dina istriku.. Enak sekali punyamu Sayangghh.."
"Uffh.. Affghh.."
"Aku senang kau bisa merasakan surga dunia pula bersamaku.. Ayo kita ganti gaya.."
Tubuh sensual milik Dina didudukkan di atas pangkuan Dudung kini setelah rok abu-abu beserta celana dalamnya dilucuti semua hingga telanjang bulat sudah. Tangan-tangan liar Dudung tak lepas jua dari belahan dada gadis itu yang tengah mekar meranum di usia belianya dan terus meremas-remas dan memilin puting payudara indah mungil namun merangsang kepunyaan dara manis ini.
Dari bawah pantat Dudung turun naik seakan mengulek memek istri termudanya yang telah takluk itu dari bawah. Tiada sekejap pun batang pelir Dudung beristirahat di bagian paling pribadi di tubuh Dina, terus saja melaksanakan aksi ganasnya keluar masuk pada liang selangkangannya nan sudah berair santan kembali. Pada bongkahan pantat Dina, sepasang buah pelir Dudung yang bergoyang-goyang itu sudah terlumuri pula dengan cairan santan putih istri mudanya nan menandakan gadis itu kini telah menikmati pula permainan asmara paksa tersebut.
Kepala Dina terayun ke kanan dan ke kiri menyibakkan rambut hitam panjangnya nan melewati bahu ke setengah punggungnya seperti terlecut-lecut disodok-sodok oleh Dudung. Air mata telah kering dari kedua belah pipinya yang halus mulus. Mungkin ia sudah berusaha menyesuaikan perlakuan sang suaminya dan liang sanggamanya mulai terbiasa dengan ukuran pelir Dudung. Bibir memeknya mengembang dan menyusut sebentar seperti menelan batang pelir itu, tapi secepat itu pula seakan memuntahkannya terus menerus dan berulang kali tak terhitung sudah banyaknya. Tatapan mata Dina sudah sendu padanya di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya yang mungil itu, namun Dudung bertekad sebelum ia membuahi peranakan istrinya, tak akan ia lepaskan ikatan itu terlebih dahulu.
Malahan lelaki tua ubanan yang bopeng itu semakin gencar saja mengoyak-ngoyak isi dalam lubang sanggama istrinya nan terus mengempot urat-urat kelelakiannya yang bersemayam sekian lama mengisi keheningan malam. Denyut vagina Dina memang lain daripada yang lain, namun tak percuma Dudung yang berasal dari madura nan terkenal dengan ramuannya yang telah ia minum terlebih dahulu sebelum memperkosa istrinya ini. Keperkasaan tubuh tuanya masih dapat mengimbangi pelayanan memek gadis ini nan memberi fantasi birahi terdahsyat selama hidupnya yang pernah ada. Bahkan tubuh ramping nan polos milik Dina dalam ketelanjangan di atasnya kembali dibuat meraih orgasmenya lagi.
Tubuh bugil gadis itu telah jatuh tertelungkup dalam dekapan Dudung seakan semua tulang-tulangnya telah terlolosi pada seluruh sendi-sendinya. Dudung segera membalikkan tubuh mungil istrinya hingga telentang di sebelahnya, kemudian ia bangun dan membuka kembali belahan paha Dina sampai kedua kakinya mengangkang lebar. Memeknya yang basah sudah bolong seukuran kontolnya, ia pun sudah tak melihat lagi selaput dara bulan sabit kembar yang tadinya dimiliki oleh istri termudanya ini. Banggalah Dudung menikmati pemandangan tersebut, sebab kini dialah lelaki pertama yang mengisi hidup Dina sekaligus mengenalkan gadis itu dengan permainan cinta dua insan nan terpaut umur sangatlah jauh ini.
Dudung menempatkan pinggulnya di antara celah paha yang terbuka itu lagi, kedua kaki dan tangan Dina ditempelkan pada pinggangnya sampai mengepit di situ. Dia kembali lagi melakukan haknya sebagai suami untuk mencurahkan segenap hasratnya yang akan ditumpahkan ke rahim istrinya yang seharusnya berkewajiban melayani kemauan dan kehendaknya tanpa harus dipaksa seperti pada apa yang terjadi di malam ini. Ia kembali menembusi dasar belahan surga dara belia itu lagi dan pelirnya tetap harus mentok seperti tadi, tidak bisa maksimal! Tapi ia senang sekali.. Sebab dasar vagina seorang gadis usia sekolah seperti layaknya Dina ini benar-benar sukar untuk dilukiskan dengan untaian kata-kata apapun!
Sang malam pun sudah merambah jauh dari puncak kepekatannya dan hening pun masih menyelimuti kawasan rumah besar nan mewah dimana kedua insan itu berada. Tidak seorang pun yang tahu bahwa di malam nan sepi itu telah terjadi pemaksaan kehendak sang suami kepada istrinya dalam ikatan benang merah perkawinan. Senandung balada birahi Dudung dan Dina masih mewarnai permainan ranjang pasangan suami istri ini nan belum juga berujung.
Kini di atas ranjang Dudung berdiri dengan badan tertekuk sedikit ke belakang dengan kedua tangan kekarnya menahan kedua tungkai kaki serta tubuh telanjang istrinya yang terkangkang di pelukannya. Punggung Dina menempel ketat pada dada bidang serta perut milik Dudung yang kekar berotot serta berbulu agak lebat itu. Dalam posisi sedemikian rupa inilah Dudung kini mengentoti istri ketiganya ini dengan sangat gagah perkasa.
Kedua belah kaki Dina yang tergantung tampak bergoyang-goyang pasrah dan lemas dalam pelayanan seorang istri nan telah takluk sepenuhnya pada sang suami ini. Tubuh bugil miliknya telah lunglai bersimbah peluh nafsu durjana dari sang dukun pengobatan, sebab sudah terhitung empat kali gadis itu orgasme dibuatnya. Rasanya.. Lendir memek dan cairan air santan kelapa kepunyaannya sudah tercurah habis dari tubuh mungilnya ini, namun Dudung masih tiada henti menyetubuhinya hingga larut menjelang pagi. Setelah dirasa istrinya telah benar-benar lunglai dalam gendongannya serta terkuras habis seluruh tenaganya, barulah Dudung mulai mendekati orgasmenya sendiri.
Dina kembali direbahkan di ranjang nan penuh noda perkawinan sepasang insan yang tak layak oleh perbedaan usia itu, sementara Dudung berada di atas menindih tubuh telanjang mungil istrinya yang kedua belah tungkai kakinya dikunci dengan tangan-tangan kekar tuanya. Sodokan pada vagina gadis itu semakin kuat dan gencar mengayuh biduk-biduk birahi yang menyala sedemikian membaranya. Kelentit dara itu pun semakin mengembang kembali dalam kebasahannya nan sensual di mata suaminya yang sibuk mempersiapkan moment terakhir ritual persebadanan itu. Sepasang testis suaminya tampak menampar-nampar dengan keras lubang anus dara itu yang berada di bawahnya dalam persetubuhan liar nan penuh nafsu badani tersebut.
Dudung pun tahu bahwa istri mudanya ini sedang menuju pula ke orgasmenya yang terakhir dan ini ditunjukkan oleh jepitan kedua belah kaki dara belia itu pada kedua belah pinggangnya kiri dan kanan yang semakin bertambah kuat menekan panggul dan pantatnya dengan kedua jari-jari kakinya bersilangan mengunci dirinya. Tangan Dina pun mencengkram lengan Dudung menahan rasa geli dan gatal yang menyerang kembali vaginanya nan berdenyut-denyut hangat menelan keberadaan penis suaminya. Dan.. Tubuh lelaki tua itu pun menegang sudah, tertekuk seperti udang di atas sang dara cantik yang diangkat pinggulnya sampai tidak lagi menempel di kasur ranjang. Tubuh sang dukun ini langsung berkelojotan mencurahkan segenap hajatnya ke dalam rongga peranakan istrinya. Seluruh air mani Dudung muncrat-muncrat tanpa bisa dikendalikan lagi olehnya mengisi setiap kisi dan celah lorong hangat sejuta kenikmatan surgawi kepunyaan Dina.
Gadis inipun menggelepar-gelepar laksana ikan dari kolam yang dilemparkan ke tanah nan kering bersamaan dengan semburat pertama mani lelaki itu di rahimnya. Dina pun meraih orgasme terakhirnya bersama-sama dengan sang suami yang telah memberikan kepuasan padanya berkali-kali dalam semalam ini. Kedua tubuh telanjang nan larut dalam persetubuhan panjang itu ambruk seketika pada luapan puncak persanggamaan penuh paksa ini bersimbah dengan tetesan peluh kenikmatan mereka masing-masing.
Kontol Dudung masih menancap di lubang memek Dina dan ia tak rela kalau air maninya sampai tersia-sia, jadi sampai tetesan terakhir ia rembesi untuk mengisi rongga peranakan gadis itu. Akan tetapi tubuh mungil Dina mana mampu menampung sperma suaminya yang tercurah sekian banyak dalam lubang kemaluannya. Belahan bibir memeknya yang masih merekah menelan pelir Dudung telah kebanjiran oleh cairan mani lelaki tua itu. Maka tak heran jika cairan sperma dukun tua itu sampai meleleh ke bawah membasahi lubang anus dan bokong putihnya serta menetes-netes di sprei ranjang perkawinannya.
*****
"Mas Dudung! Jangan!"
Dina terbangun dari tidurnya, tetapi ia mendapati tubuh bugilnya kembali menungging dengan kedua tangannya kini terikat ke belakang punggungnya. Padahal baru jam tiga pagi sekarang, berarti ia cuma tertidur beberapa jam saja. Dirasanya jari-jari suaminya sedang membuka belahan pantatnya dan tengah melumuri lubang anusnya dengan lelehan madu, setelah itu dijilatinya sambil menikmati aroma manisnya.
"Jangan Mas! Khan jijik.. Jangan di situ ahh..", rengek Dina lagi.
"Diam kamu! Mana kewajibanmu sebagai istri hah?! Sekarang layani aku lagi.."
"Ampun Mas Dudung.. Aku masih capai sekali Mas.. Auh!"
Percuma saja Dina memohon untuk kedua kalinya, Dudung malah semakin menguakkan lubang pantatnya yang sempit dan kecil mirip kelip bintang di angkasa itu serta lidahnya menyusup gencar di dalam celah duburnya. Kalau lelehan madunya sudah habis dijilatnya, Dudung melumuri kembali dengan tetesan yang baru lalu dijilatinya lagi berulang-ulang. Betapa nikmat cara lelaki tua ini mempermainkan istri termudanya ini.
Dina menggelinjang mulai keenakan menerima sensasi baru lagi yang diberikan Dudung padanya. Lubang pantatnya serasa diceboki oleh lidah lelaki tua itu yang nafsu dan keliarannya tak jua berhenti di malam menjelang pagi hari ini. Dudung tertawa dalam hatinya, Hmm.. Kapan lagi aku dapat mencobai pantat perempuan muda seperti Dina ini, sebab kalau dari istrinya yang menjanda itu, tidak pernah sekalipun ia mau merelakan pantatnya dicucup seperti ini. Istri yang satunya lagi juga begitu, jijik katanya, cuih! Payah banget..
Lambat laun lubang vagina di bawahnya kembali dipenuhi oleh air kemaluannya di luar kesadaran Dina sendiri tubuhnya bereaksi atas perlakuan suami tuanya itu. Wajah keriput Dudung membenam di memek Dina untuk kembali menyedot cairan getah bening yang berasal dari rongga peranakannya, sayang untuk dilewatkan begitu saja lendir vagina ini. Somad! Aku akan memperawani juga anus putrimu ini.. Lihat saja sekarang.. Umpat Dudung lagi dalam hati. Setelah itu kontolnya diarahkan ke jalan masuk celah anus yang telah ia buka dengan kedua ibu jarinya, kemudian mendorong dengan tenaga penuh pada pinggangnya.
"Ahh! Ampun Mas Dudung! Sakit.. Sakitt! Auhh! Perih Mas.. Jangan di situ! Ampun..!!"
Dudung tak menanggapi rengekan istrinya, ia malah mengambil sebotol minyak miliknya untuk kemudian mengolesi lubang pantat gadis itu sebanyak-banyaknya. Ditusukkan lagi batang pelirnya yang sudah tegak berdiri mengacung ke dalam sempitnya anus Dina.
"Akhh! Jangan keras-keras Mas! Pedih! Akhh! Nyeri sekali.. Aduh!!"
Sudah sepertiga batang kejantanannya menyelusup masuk ke dalam dubur istrinya yang penuh sesak namun legit dan hangat sekali. Dudung mengeluarkan sedikit pelirnya, lalu digenjotnya lagi sampai separuh penisnya melesak ke lubang pelepasan dara belia yang tengah diperawani anusnya itu. Sesudahnya suara Dina sudah tak terdengar lagi, sebab ia telah tak sadarkan diri menahan rasa sakit pada anusnya yang diperkosa oleh sang suami.
Dudung tak peduli akan hal itu, ia bahkan tersenyum menyeringai puas dapat merasakan mengentot Dina melalui lobang pantatnya yang sangat lezat. Dara itu masih berusia delapan belas tahun, tentu saja lubang pantatnya masih terasa ketat menjepit pelir Dudung. Kontol Dudung yang keluar masuk masih terasa kesat dan peret sekali di dalam poros usus perempuan muda ini. Otot bibir anus gadis itu membentuk lingkaran cincin sungguh mengunci kuat-kuat batang penisnya yang keluar masuk di dalamnya.
Kini sudah dua pertiga kontol itu menembusi lubang pantatnya nan mungil menawan ini. Minyak yang tadinya melumasi dubur gadis itu sudah mengering, tapi sudah mulai terganti dengan lendir lengket yang berasal dari lubang hajat Dina kini. Dudung seakan tertunaikan keinginannya untuk menyetubuhi anus wanita dan ia semakin menjejalkan seluruh batang pelirnya sampai semua tonggak kejantanannya benar-benar amblas terbenam ke dalam lorong pelepasan sang dara cantik ini. Sangat enak nian anus si Dina ini mencengkeram erat batang kontolnya dari ujung hingga pangkal selangkangan Dudung. Lelaki tua itu bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, terus dimainkannya tubuh istrinya ini laksana seorang budak pemuas nafsu saja.
Tangan kekarnya mencengkeram erat-erat pinggul istrinya yang pingsan ini sambil terus mengaduk-aduk isi belahan dalam anal nan disenggamainya dengan sangat liar tak terkendali lagi melampaui akal sehatnya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Dudung tak melihat tetesan air mata istrinya mengalir membasahi kedua pipinya kembali yang merembes saat detik-detik terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Dukun tua itu malahan berterima kasih pada wangsit dari gurunya yang begitu sangat menguntungkan dirinya dapat mempersunting Dina sebagai istri ketiganya yang sah. Dudung semakin larut dalam kemaksiatan nafsu birahi rendah nan menjurus ke arah kebrutalan. Kontolnya terus mengayun-ayun mengulek-ulek keberadaan anus Dina nan sudah tiada daya sama sekali dalam rengkuhannya.
Bibir anus gadis belia ini mengembang dan menguncup semakin memerah disodok-sodok oleh kelelakian sang dukun. lubang pantatnya memonyong dan mengempot berkesinambungan seakan tengah mengunyah keluar masuk kontol sang lelaki tua itu yang sudah keriput dimakan usia. Batang zakar Dudung telah basah berlumur lendir lengket anus istri mudanya nan lezat tak tertandingi dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain.
Akhirnya setelah lama menyodomi anus Dina, Dudung pun memuntahkan segenap sisa-sisa air maninya yang telah diproduksi oleh sepasang testisnya hari itu ke dalam celah lorong lembab nan lengket pada pantat sang gadis belia ini, kemudian tubuh lelaki tua itu terhempas lemas pada hamparan kasur empuk ranjang mewah di rumah besar mahligai perkawinan mereka.
*****
Tangan halus yang menyisakan garis-garis merah tak beraturan di pergelangannya itu tampak bergetar memegang sebatang pena, sementara di sebelahnya masih mendengkur lelaki tua keriput kurus dengan wajah bopeng serta rambut ubannya yang telah resmi menjadi suami sahnya. Lembaran buku itu sesekali ditetesi oleh air yang jatuh dari kedua pelupuk matanya yang sembab sembari terus menulis kata demi kata di diary-nya. Hanya itulah satu-satunya tempat mengadu dari gadis yang bernama Dina itu kini tentang pernikahannya yang sama sekali tak lumrah di mata umum serta dirasanya bahwa tirai perkawinannya telah terkoyak sebelum waktunya.. Sebelum kesiapannya menerima kehadiran lelaki itu dalam hari-hari dan kehidupannya.. Apalagi membalas tulus dengan sesuatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan insan di belahan dunia ini.. Yaitu, C I N T A.
*****
Ide cerita: Sdri. Ayeng Waldesi
Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang dibuat berdasarkan khayalan serta daya imajinatif penulis, jikalau ada kesamaan nama tokoh, tempat ataupun hal lainnya, itu semata-mata hanyalah bersifat kebetulan belaka saja.
Demikian pula dengan judul terdahulu sebelum karya kedua ini yang bertajuk "Tragedi Malam Pengantin", juga demikianlah adanya. Berhubung banyaknya tanggapan tidak sedap yang diterima oleh penulis. Mohon maklum adanya.. Sekian dan terima kasih.
E N D
Dudung masih menanti jawaban dari lelaki sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama, yakni 48 tahun!
"Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti sudah tidak waras!!", hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon mertuanya itu.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini untuk melamarnya", tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu takluk pada kemauannya.
"Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh mereka ini yang akan berumah tangga nantinya", sela si ibu Dina yang duduk di sebelah Somad.
Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak kemarin-kemarin.
"Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik kita, istriku?", jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
"Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak", tutur istrinya seakan membela Dudung.
Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh dengan Dudung dalam wangsit tersebut.
"Ngghh..", tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti kehabisan kata-kata sesaat.
Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak unggasnya.
"Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian kota", saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.
Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.
*****
"Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya untukmu", pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana jasnya.
"Baik Bu", jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.
Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu.. Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.
"Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya sampai putus hanya karena pernikahan ini", tukas ibu mertuanya lagi.
Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah. Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.
Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka. Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu indah dan sangat mahal tentunya.
Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya, Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang penghulu kembali mengucapkan kalimat;
"Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua??"
"Ya! Saya bersedia!", fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
"Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua?"
Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..
"I.. Ya.. Bersedia"
*****
Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ selain dirinya.
Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.
Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat. Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya terlihat nyata di penglihatan Dudung.
Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting.. Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.
"Dina istriku.. Kamu sudah mandi?", tanya Dudung dengan wajah dan suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu, wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.
Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya, sehingga ciuman itu luput.
"Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu", tanya Dudung sambil menahan kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
"Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini", keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.
Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis tangan suaminya itu.
"Ahh.. Kenapa?", Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
"Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan masih ada hari esok", jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.
Hari-hari berikutnya pun begitu.
"Aku sedang mendapat haid Mas"
"Bah!", umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
"Mas Dudung mau kemana?"
"Apa pedulimu? Aku mau plesir..!", gerutunya pada Dina. Tujuannya cuma satu, ia akan meminta 'jatah' ranjang dari salah satu istrinya yang lain malam itu juga untuk digauli.
Setelah seminggu lewat pun masih belum ada perubahan. Padahal seharusnya masa menstruasi istri ketiganya ini telah berakhir.
"Dina ada ujian mid-test besok Mas, harus kebut belajar malam ini"
Dudung pun terdiam. Sia-sia usaha rayuan dan cumbuan yang ia lakukannya selama ini pada Dina yang selalu menolaknya secara halus. Masih juga dia pakai alasan klise untuk menolakku? Lihat saja nanti! Umpatnya dalam hati.
Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu, bahkan sejak siang hari tadi.
Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.
Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala. Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan Dina telah tercekal oleh Dudung.
"Mas?! Mau apa kamu?!!"
"Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!"
"Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!"
"Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!"
Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.
"Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!", jerit Dina akhirnya.
"Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!", balas Dudung.
Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.
Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi satu dengan kaki kirinya.
"Jangan Mas! Ampun! Ampunn!", mohon Dina begitu mengiba pada suaminya ini. Tapi Dudung malah membekap mulutnya dengan gelungan sapu tangan yang diikatkan melewati belakang kepalanya.
"Mmph.. Mmphh!", habislah daya upaya Dina untuk berteriak kini. Mulut mungil gadis itu telah dibungkam sepenuhnya oleh sang suami.
Dudung demi mendapati istrinya telah tak berdaya itu segera melolosi baju tidurnya yang seperti jubah dengan tali di pinggangnya. Seketika tubuh bugilnya yang hitam namun kekar itu dipertunjukkannya kepada Dina istrinya. Dina pun terkesiap, tak disangka sosok kurus suaminya itu begitu tegap dan ia secara refleks memandang ke arah selangkangan Dudung yang telah bugil ini serta melihat kemaluannya yang panjang mengangguk-angguk di antara jembutnya yang merona putih dan hitam di sana-sini seperti rambut di kepalanya yang bercampur dengan uban.
Dina terduduk di ranjang itu dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Bola mata indahnya nan bening itu tetap memancarkan belas kasihan yang mendalam. Tapi Dudung sudah tak peduli lagi akan hal itu. Kesabarannya telah habis untuk memaklumi istri mudanya yang belum berhasil ia tundukkan. Ilmunya tak akan sempurna kalau belum menggauli gadis itu. Ditatapnya wajah Dina yang cantik menawan itu. Hidung istri ketiganya begitu bangir dan mungil, semungil tubuhnya yang saat ini terikat erat. Bibirnya ranum merekah memerah di balik sumpalan sapu tangan. Rambutnya panjang terurai melewati bahu. Ah! Betapa cantiknya dara belia ini.
Dina pun meronta-ronta ketika Dudung berusaha membuka kancing seragam SMU-nya yang masih menyisakan rona keringat di sana-sini. Mereka berdua masing-masing bertahan pada kemauannya yang bertolak belakang. Terjadi pergumulan seru di antara keduanya. Meskipun dalam keadaan terikat Dina terus mengelak ke kanan dan ke kiri sehingga Dudung kesulitan untuk melepaskan kancing-kancing seragam sekolahnya. Namun tak diduganya sebuah tamparan telak menghantam pipi kirinya yang mulus putih itu. Plak!
Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya bahwa suaminya akan berbuat kasar pada dirinya. Sesaat ia seperti tak sadar, sehingga memudahkan Dudung membuka kancingnya. Namun itu tak berlangsung lama, Dina berontak lagi menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dudung kesulitan dalam menjalankan aksinya. Mulut Dina menceracau tak jelas di balik bungkaman sapu tangan. Baru dua buah kancing yang terlepas di dadanya. Sampai sini Dudung sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya gunting dari laci meja rias, kemudian diguntingnya seragam sekolah istrinya sampai menyisakan kutangnya saja. Namun rok abu-abunya masih menutup lengkap dari belahan pinggang rampingnya sampai ke bawah mendekati kedua lututnya.
Dina menangis sesenggukan, sementara Dudung semakin liar matanya menatap tubuh mulus istrinya itu yang telah sah dinikahi. Benar-benar putih dan bersih dari jenjang leher sampai pusarnya. Dudung pun lelah dengan ulah istrinya yang selalu mengiba lewat kelopak mata bening indahnya menatap minta dikasihani olehnya. Ia lalu membalikkan tubuh istri mudanya itu sehingga menungging di atas ranjang pelaminan mereka.
Dalam keadaan demikian posisi Dina benar-benar terjepit. Ikatan pergelangan tangan kanan dengan mata kaki kanan serta pergelangan tangan kiri dengan mata kaki kirinya benar-benar mengunci dirinya saat menungging. Pipi kanannya terpuruk di kasur ranjang dengan berurai air mata kesedihannya, namun dalam posisi itu Dudung sudah tak melihatnya. Dan memang itulah yang diinginkan Dudung, agar ia bisa puas menikmati jenjang tubuh dara belia ini tanpa harus melihat ekspresi mengiba itu.
Dudung melepas sepasang sepatu sekolah Dina yang masih melekat di kedua kakinya. Aroma pengap kaus kakinya yang putih bersih tercium oleh Dudung bagaikan undangan birahi yang datang dari surga ketujuh untuknya. Bagai kesetanan Dudung melolosi sepasang kaus kaki sekolah istri mudanya yang berpeluh tersebut untuk kemudian tanpa sepengetahuan Dina kaus kaki itu di ciuminya bergantian. Dengan tangan tuanya, dudung mengelus punggung gadis belia itu dengan lembut sebelum melepaskan tali kutang istri ketiganya tersebut.
Bra Dina kini telah jatuh ke sprei ranjang itu. Dudung kini jakunnya turun naik menikmati keindahan kedua bukit payudara istri mudanya yang menggantung membulat padat merangsang. Dielusnya puting payudara gadis itu bergantian kanan dan kiri sambil sesekali diremasnya. Tubuh Dudung kini membungkuk di atasnya seraya mencumbui tengkuk istrinya yang menungging tak berkutik dan masih tetap mengusap-usap kedua belah gunung kembarnya yang begitu kenyal di jari-jari tangannya.
Dina mulai merasakan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya ketika tangan-tangan tua lelaki ubanan itu merayap di belahan dadanya. Memang seumur-umur ia sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki sedekat dan seintim ini. Tapi ketidaksukaannya terhadap suaminya yang main paksa itu masih teramat kuat, sehingga ia berusaha menahan gairah dan rasa yang mulai mengisi sendi-sendi di tubuhnya.
Namun usaha Dudung tak hanya sampai di situ. Tak percuma ia sudah beristri lebih dari satu kalau tidak bisa membangkitkan birahi perempuan. Lewat sentuhan jari-jari tangannya ia mulai mengelusi titik-titik gairah istri ketiganya yang paling muda ini. Bahkan kini wajah Dudung menyusup ke kolong dada Dina yang menungging menggantung dan sambil telentang Dudung mulai menjilati dan mengulumi puting payudara indah milik istri mudanya tersebut.
Percuma saja Dina bertahan dengan kekukuhannya untuk menolak gairah perawannya yang tengah dibangkitkan oleh sang suami. Maklumlah seorang gadis belia seusianya belum mampu mengendalikan diri serta belum tahu cara bermain cinta. Seperti bermain layang-layang, ia tidak tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Demikian pula saat bermain cinta, gadis itu tidak dapat mengendalikan sensasi birahi pada dirinya, sehingga langsung terhanyut ke dalam pusaran arus dahsyat yang disodorkan suaminya.
Puting payudaranya yang masih berwarna merah muda itu perlahan-lahan mulai membesar dan mengeras serta semakin kenyal memadat. Dudung pun merasakan perubahan itu dan ia pun senang karena daya upayanya membangkitkan gairah perawan istri ketiganya itu mulai menampakkan hasil. Ia semakin tekun menjelajahi lekuk liku tubuh dara belia yang telah separuh telanjang di hadapannya kini.
Setelah puas mempermainkan bukit kembar istrinya yang begitu indah menawan dipandang mata, Dudung pun bangkit berdiri dan mengambil posisi duduk di belakang pinggul Dina yang menungging. Perlahan ia menyibakkan rok abu-abu seragam sekolah istri mudanya itu sampai pinggangnya, maka kini terlihatlah sepasang paha putih Dina begitu indah terpampang baginya. Diusapnya paha putih bak lobak milik sang dara belia yang ceracaunya sudah tak diindahkan lagi oleh lelaki tua itu di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya.
Sesekali diciuminya bongkahan paha putih istrinya yang masih beraroma keringat sehabis pulang tadi dan Dudung senang sekali dengan bau yang melekat di situ. Dudung pun tersenyum menatap bagian selangkangan Dina yang masih tertutup oleh celana dalam putih berenda miliknya, sebab ada rembesan basah nan lengket bening seperti putih telur di situ. Tahulah dia, istrinya sudah terangsang juga oleh keahliannya membangkitkan birahi wanita.
Tak sabar Dudung menantikan saat dimana ia akan dapat melihat apa yang tersembunyi di balik celana dalam putih berenda yang telah basah mencetak bening seperti sebuah kepulauan pada sebuah atlas. Diraihnya karet celana dalam itu serta diperosotkannya perlahan sampai setengah paha atas istrinya saja. Celana dalam yang tadi menutup belahan selangkangan Dina kini telah merosot setengah paha dengan bagian yang tadi menutupi keintimannya menjadi berbentuk mangkuk seakan mewadahi miliknya yang sangat pribadi itu.
Sampai di sini Dudung pun terpana menyaksikan keindahan dari selangkangan istrinya yang begitu menawan hatinya. Betapa tidak.. Baru kali ini ia dapat melihat kemaluan perempuan yang masih perawan, apalagi si Dina ini adalah seorang gadis yang masih sangat muda belia untuknya. Bulu-bulu jembut dara itu masih begitu halus dan tidaklah lebat seperti kedua orang istrinya terdahulu. Gundukan kemaluannya sangat kencang membentuk lekukan nan indah menawan hati. Dan yang lebih membuat Dudung terkesima dibuatnya, lubang keintiman Dina masih tertutup rapat menyerupai garis vertikal yang tak terlalu panjang menunjukkan bahwa lubang kegadisannya pasti sempit dan kecil.
Di atas celah kegadisannya bertengger pula lubang sempit ketat kepunyaan istri ketiganya ini berwarna merah muda yang berkeriput sedikit pucat yakni liang anus Dina. Betapa Dudung merasa sangat beruntung sekali malam itu, karena ia akan berkesempatan untuk menikmati kehangatan tubuh mungil istrinya yang sedemikian montok menggemaskan ini.
Dengan kedua belah ibu jarinya, Dudung membuka bibir belahan kemaluan Dina. Tampaklah isi dalamnya terkuak berwarna merah nan nyata bak buah pepaya mengkal yang dibelah dihiasi dengan kelentit kecilnya nan menjulang ke bawah dan bermuara pada rimbunan jembut kelaminnya yang menukik sedemikian rupa. Kira-kira sedalam satu buku jari dari celah yang terbuka itu, terlihatlah selaput dara gadis itu masih menyegel jalan masuk ke dalam lubang yang telah lama diidam-idamkan oleh suaminya ini.
Dudung pun merasa takjub, bahwa baru kali inilah dia dapat memandangi kemaluan perempuan yang masih suci lengkap dengan selaput keperawanannya yang berbentuk bulan sabit kembar nan menutupi atas dan bawah rongga keintiman dari istri mudanya ini sehingga hanya menyisakan sedikit rongga nan sedemikian kecil dan sempitnya untuk jalan masuk penisnya nanti. Aih! Sempit banget?
Dudung pun hanyut oleh fantasi pikiran yang dibuatnya sendiri bagaimana nanti ia akan merasakan kenikmatan dari jepitan selaput perawan kepunyaan Dina sang istri termudanya tersebut. Dapatkah nanti kelelakiannya menembus celah yang begitu mungil pada selangkangan gadis itu? Tak sadar bibirnya tersenyum mesum pada wajah tuanya yang penuh bopeng di sana sini.
Bagaimana Dudung tak merasa sangat beruntung mendapatkan Dina, sebab istri ketiganya ini bak bidadari nan jatuh dari langit saja dan sebenarnya sama sekali tak ada sebanding apapun dengan dirinya yang sudah di ambang kerentaan ini. Namun berkat keampuhan guna-gunanya kepada ayah dan ibu gadis itu, kini ia berhasil memperistrinya secara sah! Dan ia berhak menuntut haknya sebagai suami pada istrinya yang sah tersebut dalam ikatan benang merah perkawinan resmi di antara keduanya nan sudah terjalin.
Kini.. Dan di kamar ini ia akan membagi kebahagian ranjangnya bersama sang istri tercinta yang tengah tergolek menungging tak berdaya di hadapannya yang masih tak henti-hentinya menyaksikan celah keintiman nan memukau dalam pandangannya itu.
Liang itu masih membasah pada dinding-dinding dalamnya dengan cairan bening lengket di sana-sini. Baunya sangat sedap di penciuman Dudung kala ia mendekatkan hidungnya di belahan indah yang ia rekahkan dengan jari-jarinya. Aromanya sangat nyata terpancar dari dalamnya, begitu memancarkan keharuman nan pekat bercampur dengan bau pesing yang memikat. Namun wanginya tentu sangatlah jauh melebihi kedua istri tuanya yang sudah mendekati masa menopause. Tak heran karena kemaluan Dina masih suci serta belum pernah disetubuhi oleh lelaki, tentu saja baunya masih sangat sembab asli perawan murni!
Siapa yang tahan menyaksikan pemandangan itu begitu lama? Dan ini pun berlaku juga buat si Dudung yang langsung menyelipkan lidahnya di antara celah keintiman istri mudanya untuk kemudian melahap lendir bagian terlarang itu dengan rakus dan lahap. Sruph! Sruph! Dihirupnya air madu di selangkangan Dina untuk kemudian di telannya tanpa rasa jijik sama sekali olehnya di antara geliatan-geliatan sensasi geli yang dirasakan istrinya tersebut, padahal rasanya agak-agak asin sedikit.
Dina semakin berkelojotan diperlakukan demikian, bahkan semakin Dudung gencar menjilati belahan kegadisannya, lendir kemaluannya juga terus-terusan mengalir dari dalam selangkangannya. Bokongnya turut bergerak-gerak seirama jilatan lidah Dudung yang seakan mengorek-ngorek isi belahan kegadisannya nan intim. Selain itu kedua tangannya sibuk pula mengelusi bongkahan pantat Dina nan menyesaki rongga-rongga dada Dudung yang dipenuhi birahi hebatnya selama ini.
Ingin rasanya Dudung segera menikmati kepunyaan Dina, namun ia tak mau terburu-buru melaksanakan niatnya, apalagi langsung main hantam kromo. Dia ingin membuat Dina juga sama-sama menikmati permainan asmara ini berdua dengannya nanti, karena itulah janji yang telah ia ucapkan kepada penghulu maupun kepada ayah dan ibu Dina, bahwa ia akan membuat Dina bahagia dengan perkawinannya. Selain itu situasi rumah kini mendukung sekali niat Dudung untuk menggauli istrinya malam itu seiring dengan pekatnya malam nan mulai temaram dengan kedinginannya.
Dengan kelincahan lidahnya yang menari-nari di dalam belahan liang kegadisan milik Dina, Dudung juga mengait-ngait kelentit dara belia muda ini sehingga tampak melejit-lejit dibuatnya. Umbai itilnya turut bergoyang-goyang seirama ulasan lidah suami tuanya yang sah. Rasanya sungguh membuatnya lupa daratan, bagaikan di tengah laut lepas terombang-ambing tak bertepi hanyut dalam gerakan badai ombak ganas namun serasa lembut di awang-awang. Semakin lama kelentit dara itu mengembang memerah terisi oleh buluh-buluh darahnya nan tersirap sudah di pangkuan wajah suami tuanya.
Diam-diam Dina membatin dalam dirinya dengan hati berkecamuk antara kebenciannya pada Dudung serta gejolak pada tubuhnya nan seperti tak bisa ia bendung lagi. Tubuh dara yang menungging terikat itu bergetar hebat diperlakukan sedemikian rupa. Seluruh urat-urat di tubuhnya yang setengah telanjang itu seakan bereaksi menjadi satu menciptakan sebuah gelombang besar yang siap meletup setiap saat. Semakin ia berusaha menekan rasa itu, semakin beratlah ia menanggung derita karenanya. Celah keintimannya semakin berdenyut-denyut disertai rasa gatal nan menyerang berkepanjangan.
Perlahan-lahan kedua belah telapak kaki indahnya menekuk hingga tampak berjinjit di hamparan sprei putih mahligai cinta rumah persembahan orang tuanya untuk mereka. Getaran di tubuh mulusnya semakin kuat sampai mirip menyerupai geleparan-geleparan kecil. Otot-otot di perutnya yang ramping nan terbuka separuh telanjang itu terlihat berkedut-kedut seiring dengan bongkahan pantatnya yang semakin mengeras. Dudung pun mengetahui apa yang tengah menimpa istrinya sekarang dan ia pun menambah kuluman serta jilatannya mengulas ke segenap penjuru daerah keintiman istrinya yang terlarang bagi lelaki lain selain dirinya yang telah disahkan resmi sebagai suaminya.. Itulah keuntungan terbesarnya malam ini.
"Ouggh! Efhh.. Ouh.. Aaffrghh!!"
Itulah jeritan gadis sekolah berusia 18 tahun saat di ambang puncak kenikmatannya yang tak tertahankan lagi seiring dengan banjirnya isi lubang kemaluannya nan kini sarat dengan cairan putih seperti air santan kelapa. Lendir itulah yang kiranya dinanti-nantikan oleh Dudung sejak tadi, sebab air kemaluan orgasme seorang perawan dianggap berkhasiat sebagai obat awet muda serta dapat menguatkan kembali keperkasaan lelaki.
Serta merta disedotnya air santan yang mengalir dari lubang berbulu basah milik sang istri mudanya itu bak orang haus di padang pasir saat meneguk air oase pada sela-sela pinggul dara itu yang masih berkelojotan melepas luapan puncak birahi pertamanya di hadapan sang suami. Curahan air santan itu bersemburat lewat isi dalam liang kemaluannya yang dilihat Dudung berdenyut bahkan cenderung mengempot. Dudung pun terkesiap melihat empotan pada lubang kemaluan Dina yang masih utuh dengan selaput keperawanannya sambil berpikir.. Seperti inikah?
Dina pun terkapar dalam keadaan masih menungging di ranjang bersimbah peluh di sekujur tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan duniawi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Baru kali ini ia mencapai keadaan surgawi dunia perkawinan, padahal suaminya belum lagi menyebadaninya. Gadis itu terlena beberapa saat sehingga ia sama sekali tak sadar bahwa Dudung di belakangnya tengah mengambil posisi berlutut pada bokongnya nan terhidang sambil menggenggam batang pelirnya yang telah tegang mengacung.
Batang pelirnya berukuran cukup panjang di usia senjanya itu dan sudah mempunyai jam aksi yang sangat banyak bersama kedua istrinya terdahulu. Kepala kejantanannya diarahkan tepat pada celah masuk gerbang surga sang dara belia nan cantik yang sungguh mempesona dirinya, sebab saat itu dirasanya paling tepat untuk memulai penetrasinya pada Dina yang memeknya sudah sembab membasah tertimpa oleh orgasme pertamanya sendiri barusan.
Daging kepala kontolnya telah lekat pada pintu masuk belahan kemaluan sang istri dan dalam kondisi siap untuk melakukan ritual persetubuhan dengannya. Ujung penisnya yang seperti helm baja serdadu itu sudah terarah sepenuhnya ke belahan selaput bulan sabit kembar kepunyaan Dina istrinya nan masih perawan tersebut. Gadis itu terhenyak ketika Dudung menghentakkan pinggulnya berusaha menembus gerbang pintu surga miliknya yang paling berharga. Namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dalam kondisi terikat erat kedua tangan dan kakinya, apalagi Dudung mencengkeram kuat-kuat pinggang rampingnya dimana rok abu-abunya masih melekat tersibak di situ.
Dina hanya bisa melenguh kesakitan saat suaminya mulai menodainya. Berkali-kali pelir Dudung terpeleset-peleset ketika dihunjamkan ke dalam lubang memek berbulu basah itu. Dara itu pun hanya dapat menjerit dalam bungkaman sumbatan sapu tangan di mulutnya. Peluh keduanya telah mengucur membasahi sprei ranjang perkawinan mereka malam itu. Dudung pun baru tahu bahwa ternyata memperawani seorang gadis akan sesulit ini. Tapi kepalang tanggung sudah, ia terus berusaha sekuatnya menembus benteng pertahanan istri ketiganya itu dengan gencar. Akhirnya topi baja sang dukun pengobatan ini berhasil jua terjepit oleh bibir memek Dina yang perawan.
Kini dirasa oleh Dudung bahwa ujung kontolnya telah bersentuhan dengan selaput dara gadis bidadari impiannya itu. Sudah terasa hawa hangat mengaliri daging kepala pelirnya dan memberikan rasa nyaman yang sukar dilukiskan. Perlahan ia menekan selangkangan Dina dengan kekuatan pinggulnya nan berotot dan kontolnya mulai melesak masuk ke dalam kemaluan istri termudanya ini. Dina menggigit kuat-kuat saputangan penyumbat mulut mungilnya berusaha menahan pedih pada memeknya yang mulai dijejali pelir lelaki tua itu. Wajahnya yang terpuruk pada kasur dihentak-hentakkannya ke kiri dan kanan menghalau rasa sakit saat selaput daranya mulai ditembusi oleh kontol lelaki yang hampir sebulan setengah telah menjadi suaminya itu.
Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Dina, Dudung malah merasakan nikmat nan amat sangat menjalari tonggak kejantanannya. Kontolnya serasa menembus sesuatu yang lunak basah namun sangat lembut dan begitu hangat saat daging keduanya berpadu. Tidak hanya itu, lelaki tua itu juga merasakan kontolnya seperti diurut-urut oleh daging hangat yang berdenyut-denyut menjepit kuat urat-urat kejantanannya ini. Semakin dalam kontolnya ia benamkan ke dalam celah memek yang penuh sesak itu, makin terasa hangatnya daging belia si Dina yang masih sekal dan ranum ini. Ketika masih menyisakan kira-kira satu setengah sentimeter dari pangkal selangkangannya yang berjembut ini, pelir Dudung telah berhenti sampai di situ.
Saat ia kembali menekan pinggulnya, tetap saja kontolnya sudah tidak dapat terbenam semuanya dan paling mentok sisa satu sentimeter saja. Agaknya kontol Dudung telah mentok ke dasar belahan memek gadis belia itu dan memang gadis seusia Dina lorong kemaluannya masih belum berkembang sempurna untuk menerima kehadiran kontol lelaki, namun itu bukan berarti mengurangi kenikmatan sama sekali jika bersanggama dengannya. Malahan lelaki akan merasa perkasa bila pelirnya mentok di dasar peranakannya. Itu memberi sugesti bahwa kejantanannya sungguh panjang dan kuat. Demikian pula dengan Dudung, ia pun bangga demi mendapati kontolnya mentok ke dasar belahan kemaluan gadis itu. Apalagi dasar memek Dina dirasanya begitu nikmat menahan helm bajanya kini.
Diremasnya kedua belah payudara Dina yang menggantung bebas itu sambil merasakan jepitan selaput daranya yang begitu menciptakan nikmat yang tak tertandingi dari apa yang didapat dari para istrinya terdahulu tanpa peduli lagi akan raungan yang tersumbat dari mulut istri terakhirnya ini nan sudah terpedaya di tangannya. Setelah puas barulah Dudung mencabut tonggak zakarnya dari lubang peraduan itu diiringi dengan genangan darah kesucian Dina yang membasahi kulit luar batang pelirnya. Sebagian lagi menetes-netes jatuh ke gumpalan celana dalam yang masih berkutat di paha putihnya nan mulus. Celana dalam putih berenda miliknya kini telah bernoda darah keperawanannya sendiri dan inilah yang diinginkan Dudung sebagai bukti penyerahan diri sepenuhnya dari sang istri kepadanya.
Setelah itu mulailah Dudung menggenjot tubuh Dina yang sudah mempersembahkan keperawanannya ini perlahan-lahan agar memek Dina yang masih terasa peret namun legit itu dapat menyesuaikan diri dengan ukuran pelirnya yang dikeluar-masukkan ke dalam lubang sanggama istri termudanya ini. Betapa hancur hati Dina demi mengetahui dirinya sudah berserah segala-galanya bagi lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu. Tak ada lagi sikap tinggi hatinya ketika kini dalam posisi sedemikian rupa ia dipaksa melayani kemauan sang suami yang menuntut haknya. Dina pun sadar bahwa sebagai seorang perempuan yang telah menikah berkewajiban untuk melayani sang suami termasuk pelayanan ranjang seperti dirinya sekarang.
Pertanyaan di benak Dudung terjawab sudah dengan apa yang dirasannya detik ini. Rupanya lorong merah kemaluan istrinya mempunyai kekhasan yang khusus dan jarang sekali bisa ditemui dari setiap memek wanita. Dinding lubang vagina gadis itu dapat mengempot-empot dan menyedot-nyedot kelelakian Dudung yang terbenam di dalamnya. Agaknya ini merupakan tanda lahiriah nan dimaksudkan oleh gurunya. Tentunya wanita seperti Dina ini dapat memuaskan seorang suami dengan keistimewaan yang dipunyainya itu. Dan Dudung pun merasakan hal itu seraya mengusap peluhnya di dahi dengan penuh rasa puas, sudah dapat perawan, bisa ngempot lagi memeknya!
Dudung begitu terlena oleh permainan asmara paksa dan siksa ini atas istri termudanya ini. Bibirnya mendesah-desah seperti orang yang kepedasan di antara laju batang pelirnya yang keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina sang dara belia nan terus mengurut zakar tuanya. Perlawanan Dina sudah tiada lagi, yang ada tubuhnya hanya mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Dudung pada memeknya dalam keadaan menungging seperti anjing. Lelaki bermuka bopeng yang beruban di rambutnya itu pun sangat senang mendapati istrinya telah bertekuk lutut dan paha padanya kini dan ia semakin gencar mengayuh biduk-biduk birahinya yang tertunda sekian lama akibat sifat ketak-acuhan gadis ini pada dirinya.
Hmm.. Somad! Lihatlah..! Kini anak semata wayangmu ini sedang kugauli di kamar rumahmu dan ia sudah berhasil kuperawani serta kutundukkan. Ternyata sungguh enak sekali memek anakmu ini Somad! Aku telah memenuhi janjiku akan membahagiakannya lagi.. Dan lagi setelah ini.. Sampai aku benar-benar puas nantinya.. Hmm.. Telah sekian lama aku bersabar dari hinaan dan cercaan darimu saat aku bermaksud baik meminang putrimu ini.. Lihatlah Somad! Aku dan putrimu telah bersatu dalam hubungan badan yang ditentang keras olehmu.. Padahal anakmu ini sebetulnya telah haus akan belaian seorang lelaki di usia belianya ini. Tak tahukah engkau bahwa putrimu begitu cantik untuk hanya dipajang di rumah mewahmu ini? Tak sadarkah engkau kemaluan anakmu ini sudah matang untuk dibuahi oleh seorang lelaki? Tetapi kau tidak mungkin menyaksikan semua ini, karena hal ini tabu bagimu, meskipun ia anakmu, tapi aku..? Dapat menyaksikan semua bagian-bagian yang tersembunyi dari anak gadismu kini, sebab akulah yang berhak melakukan ini padanya! Ha.. Ha.. Ha..
{Demikianlah umpatan hati Dudung di sela-sela ritual persetubuhannya}
Dudung menjatuhkan dirinya dari posisi berlutut ke berbaring miring sambil menarik pinggul Dina yang masih tercengkeram oleh tangan-tangan tuanya tanpa kejantanannya lepas dari kemaluan istrinya. Dalam posisi tubuh keduanya rebah miring tersebut pelir Dudung semakin dirasa menusuk-nusuk tajam ke dalam lubang surga gadis itu. Duhh.. Kebayang nggak sih? Dina di usia belianya itu cantiknya seperti gadis pom-pom girls yang selalu menyemangati pagelaran olahraga. Tubuh rampingnya meliuk-liuk seirama hentakan Dudung pada selangkangannya yang terbuka bebas itu di ranjang. Kaki sebelah kanannya terjuntai bergoyang-goyang di udara menambah gairah bagi setiap lelaki yang melihatnya saat demikian sementara kontol sang suami keluar masuk di bawahnya menyumpal memeknya yang basah berjembut lembab namun berdenyut-denyut itu.
Lelaki tua seumuran ayah gadis itu leluasa sekali tengah membuahi rahimnya malam itu mendaki jenjang demi jenjang luapan syahwat nan menggelora diburu birahi terpendamnya yang menuntut penuntasan secepat-cepatnya. Batang zakar Dudung sudah berkilat-kilat berlumur cairan kewanitaan Dina dan hentakan yang diarahkan ke liang vagina sang dara ini dirasa semakin menggelitik kembali umbai kelentitnya serta membawa rasa gatal tak berkesudahan meminta untuk digesek dan digesek lagi.. Terus dan terus..
Sampai di sini Dina pun tak tahan lagi. Sekujur tubuhnya yang miring membelakangi suaminya itu tergetar hebat oleh pancaran dahsyat arus birahi nan melanda dirinya demi melayani keliaran dan kebuasan pelir lelaki tua tersebut. Kaki kanannya yang terjuntai tadi bergerak menendang-nendang di udara dengan semua otot-otot tubuhnya menegang sudah. Kedua terlapak kakinya yang mulus putih itu tertekuk kaku sudah mewarnai puncak orgasme keduanya nan telah tiba. Dudung pun merasa kontolnya makin dipijit-pijit dahsyat dalam kenyamanannya pada vagina sang gadis belia, namun sebagai lelaki berpengalaman yang sering melakukan permainan syahwat dia masih dapat mengendalikan orgasmenya sendiri.
"Aarghh! Ouaafrghh..!!"
"Oh.. Uoohh.. Dina istriku.. Enak sekali punyamu Sayangghh.."
"Uffh.. Affghh.."
"Aku senang kau bisa merasakan surga dunia pula bersamaku.. Ayo kita ganti gaya.."
Tubuh sensual milik Dina didudukkan di atas pangkuan Dudung kini setelah rok abu-abu beserta celana dalamnya dilucuti semua hingga telanjang bulat sudah. Tangan-tangan liar Dudung tak lepas jua dari belahan dada gadis itu yang tengah mekar meranum di usia belianya dan terus meremas-remas dan memilin puting payudara indah mungil namun merangsang kepunyaan dara manis ini.
Dari bawah pantat Dudung turun naik seakan mengulek memek istri termudanya yang telah takluk itu dari bawah. Tiada sekejap pun batang pelir Dudung beristirahat di bagian paling pribadi di tubuh Dina, terus saja melaksanakan aksi ganasnya keluar masuk pada liang selangkangannya nan sudah berair santan kembali. Pada bongkahan pantat Dina, sepasang buah pelir Dudung yang bergoyang-goyang itu sudah terlumuri pula dengan cairan santan putih istri mudanya nan menandakan gadis itu kini telah menikmati pula permainan asmara paksa tersebut.
Kepala Dina terayun ke kanan dan ke kiri menyibakkan rambut hitam panjangnya nan melewati bahu ke setengah punggungnya seperti terlecut-lecut disodok-sodok oleh Dudung. Air mata telah kering dari kedua belah pipinya yang halus mulus. Mungkin ia sudah berusaha menyesuaikan perlakuan sang suaminya dan liang sanggamanya mulai terbiasa dengan ukuran pelir Dudung. Bibir memeknya mengembang dan menyusut sebentar seperti menelan batang pelir itu, tapi secepat itu pula seakan memuntahkannya terus menerus dan berulang kali tak terhitung sudah banyaknya. Tatapan mata Dina sudah sendu padanya di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya yang mungil itu, namun Dudung bertekad sebelum ia membuahi peranakan istrinya, tak akan ia lepaskan ikatan itu terlebih dahulu.
Malahan lelaki tua ubanan yang bopeng itu semakin gencar saja mengoyak-ngoyak isi dalam lubang sanggama istrinya nan terus mengempot urat-urat kelelakiannya yang bersemayam sekian lama mengisi keheningan malam. Denyut vagina Dina memang lain daripada yang lain, namun tak percuma Dudung yang berasal dari madura nan terkenal dengan ramuannya yang telah ia minum terlebih dahulu sebelum memperkosa istrinya ini. Keperkasaan tubuh tuanya masih dapat mengimbangi pelayanan memek gadis ini nan memberi fantasi birahi terdahsyat selama hidupnya yang pernah ada. Bahkan tubuh ramping nan polos milik Dina dalam ketelanjangan di atasnya kembali dibuat meraih orgasmenya lagi.
Tubuh bugil gadis itu telah jatuh tertelungkup dalam dekapan Dudung seakan semua tulang-tulangnya telah terlolosi pada seluruh sendi-sendinya. Dudung segera membalikkan tubuh mungil istrinya hingga telentang di sebelahnya, kemudian ia bangun dan membuka kembali belahan paha Dina sampai kedua kakinya mengangkang lebar. Memeknya yang basah sudah bolong seukuran kontolnya, ia pun sudah tak melihat lagi selaput dara bulan sabit kembar yang tadinya dimiliki oleh istri termudanya ini. Banggalah Dudung menikmati pemandangan tersebut, sebab kini dialah lelaki pertama yang mengisi hidup Dina sekaligus mengenalkan gadis itu dengan permainan cinta dua insan nan terpaut umur sangatlah jauh ini.
Dudung menempatkan pinggulnya di antara celah paha yang terbuka itu lagi, kedua kaki dan tangan Dina ditempelkan pada pinggangnya sampai mengepit di situ. Dia kembali lagi melakukan haknya sebagai suami untuk mencurahkan segenap hasratnya yang akan ditumpahkan ke rahim istrinya yang seharusnya berkewajiban melayani kemauan dan kehendaknya tanpa harus dipaksa seperti pada apa yang terjadi di malam ini. Ia kembali menembusi dasar belahan surga dara belia itu lagi dan pelirnya tetap harus mentok seperti tadi, tidak bisa maksimal! Tapi ia senang sekali.. Sebab dasar vagina seorang gadis usia sekolah seperti layaknya Dina ini benar-benar sukar untuk dilukiskan dengan untaian kata-kata apapun!
Sang malam pun sudah merambah jauh dari puncak kepekatannya dan hening pun masih menyelimuti kawasan rumah besar nan mewah dimana kedua insan itu berada. Tidak seorang pun yang tahu bahwa di malam nan sepi itu telah terjadi pemaksaan kehendak sang suami kepada istrinya dalam ikatan benang merah perkawinan. Senandung balada birahi Dudung dan Dina masih mewarnai permainan ranjang pasangan suami istri ini nan belum juga berujung.
Kini di atas ranjang Dudung berdiri dengan badan tertekuk sedikit ke belakang dengan kedua tangan kekarnya menahan kedua tungkai kaki serta tubuh telanjang istrinya yang terkangkang di pelukannya. Punggung Dina menempel ketat pada dada bidang serta perut milik Dudung yang kekar berotot serta berbulu agak lebat itu. Dalam posisi sedemikian rupa inilah Dudung kini mengentoti istri ketiganya ini dengan sangat gagah perkasa.
Kedua belah kaki Dina yang tergantung tampak bergoyang-goyang pasrah dan lemas dalam pelayanan seorang istri nan telah takluk sepenuhnya pada sang suami ini. Tubuh bugil miliknya telah lunglai bersimbah peluh nafsu durjana dari sang dukun pengobatan, sebab sudah terhitung empat kali gadis itu orgasme dibuatnya. Rasanya.. Lendir memek dan cairan air santan kelapa kepunyaannya sudah tercurah habis dari tubuh mungilnya ini, namun Dudung masih tiada henti menyetubuhinya hingga larut menjelang pagi. Setelah dirasa istrinya telah benar-benar lunglai dalam gendongannya serta terkuras habis seluruh tenaganya, barulah Dudung mulai mendekati orgasmenya sendiri.
Dina kembali direbahkan di ranjang nan penuh noda perkawinan sepasang insan yang tak layak oleh perbedaan usia itu, sementara Dudung berada di atas menindih tubuh telanjang mungil istrinya yang kedua belah tungkai kakinya dikunci dengan tangan-tangan kekar tuanya. Sodokan pada vagina gadis itu semakin kuat dan gencar mengayuh biduk-biduk birahi yang menyala sedemikian membaranya. Kelentit dara itu pun semakin mengembang kembali dalam kebasahannya nan sensual di mata suaminya yang sibuk mempersiapkan moment terakhir ritual persebadanan itu. Sepasang testis suaminya tampak menampar-nampar dengan keras lubang anus dara itu yang berada di bawahnya dalam persetubuhan liar nan penuh nafsu badani tersebut.
Dudung pun tahu bahwa istri mudanya ini sedang menuju pula ke orgasmenya yang terakhir dan ini ditunjukkan oleh jepitan kedua belah kaki dara belia itu pada kedua belah pinggangnya kiri dan kanan yang semakin bertambah kuat menekan panggul dan pantatnya dengan kedua jari-jari kakinya bersilangan mengunci dirinya. Tangan Dina pun mencengkram lengan Dudung menahan rasa geli dan gatal yang menyerang kembali vaginanya nan berdenyut-denyut hangat menelan keberadaan penis suaminya. Dan.. Tubuh lelaki tua itu pun menegang sudah, tertekuk seperti udang di atas sang dara cantik yang diangkat pinggulnya sampai tidak lagi menempel di kasur ranjang. Tubuh sang dukun ini langsung berkelojotan mencurahkan segenap hajatnya ke dalam rongga peranakan istrinya. Seluruh air mani Dudung muncrat-muncrat tanpa bisa dikendalikan lagi olehnya mengisi setiap kisi dan celah lorong hangat sejuta kenikmatan surgawi kepunyaan Dina.
Gadis inipun menggelepar-gelepar laksana ikan dari kolam yang dilemparkan ke tanah nan kering bersamaan dengan semburat pertama mani lelaki itu di rahimnya. Dina pun meraih orgasme terakhirnya bersama-sama dengan sang suami yang telah memberikan kepuasan padanya berkali-kali dalam semalam ini. Kedua tubuh telanjang nan larut dalam persetubuhan panjang itu ambruk seketika pada luapan puncak persanggamaan penuh paksa ini bersimbah dengan tetesan peluh kenikmatan mereka masing-masing.
Kontol Dudung masih menancap di lubang memek Dina dan ia tak rela kalau air maninya sampai tersia-sia, jadi sampai tetesan terakhir ia rembesi untuk mengisi rongga peranakan gadis itu. Akan tetapi tubuh mungil Dina mana mampu menampung sperma suaminya yang tercurah sekian banyak dalam lubang kemaluannya. Belahan bibir memeknya yang masih merekah menelan pelir Dudung telah kebanjiran oleh cairan mani lelaki tua itu. Maka tak heran jika cairan sperma dukun tua itu sampai meleleh ke bawah membasahi lubang anus dan bokong putihnya serta menetes-netes di sprei ranjang perkawinannya.
*****
"Mas Dudung! Jangan!"
Dina terbangun dari tidurnya, tetapi ia mendapati tubuh bugilnya kembali menungging dengan kedua tangannya kini terikat ke belakang punggungnya. Padahal baru jam tiga pagi sekarang, berarti ia cuma tertidur beberapa jam saja. Dirasanya jari-jari suaminya sedang membuka belahan pantatnya dan tengah melumuri lubang anusnya dengan lelehan madu, setelah itu dijilatinya sambil menikmati aroma manisnya.
"Jangan Mas! Khan jijik.. Jangan di situ ahh..", rengek Dina lagi.
"Diam kamu! Mana kewajibanmu sebagai istri hah?! Sekarang layani aku lagi.."
"Ampun Mas Dudung.. Aku masih capai sekali Mas.. Auh!"
Percuma saja Dina memohon untuk kedua kalinya, Dudung malah semakin menguakkan lubang pantatnya yang sempit dan kecil mirip kelip bintang di angkasa itu serta lidahnya menyusup gencar di dalam celah duburnya. Kalau lelehan madunya sudah habis dijilatnya, Dudung melumuri kembali dengan tetesan yang baru lalu dijilatinya lagi berulang-ulang. Betapa nikmat cara lelaki tua ini mempermainkan istri termudanya ini.
Dina menggelinjang mulai keenakan menerima sensasi baru lagi yang diberikan Dudung padanya. Lubang pantatnya serasa diceboki oleh lidah lelaki tua itu yang nafsu dan keliarannya tak jua berhenti di malam menjelang pagi hari ini. Dudung tertawa dalam hatinya, Hmm.. Kapan lagi aku dapat mencobai pantat perempuan muda seperti Dina ini, sebab kalau dari istrinya yang menjanda itu, tidak pernah sekalipun ia mau merelakan pantatnya dicucup seperti ini. Istri yang satunya lagi juga begitu, jijik katanya, cuih! Payah banget..
Lambat laun lubang vagina di bawahnya kembali dipenuhi oleh air kemaluannya di luar kesadaran Dina sendiri tubuhnya bereaksi atas perlakuan suami tuanya itu. Wajah keriput Dudung membenam di memek Dina untuk kembali menyedot cairan getah bening yang berasal dari rongga peranakannya, sayang untuk dilewatkan begitu saja lendir vagina ini. Somad! Aku akan memperawani juga anus putrimu ini.. Lihat saja sekarang.. Umpat Dudung lagi dalam hati. Setelah itu kontolnya diarahkan ke jalan masuk celah anus yang telah ia buka dengan kedua ibu jarinya, kemudian mendorong dengan tenaga penuh pada pinggangnya.
"Ahh! Ampun Mas Dudung! Sakit.. Sakitt! Auhh! Perih Mas.. Jangan di situ! Ampun..!!"
Dudung tak menanggapi rengekan istrinya, ia malah mengambil sebotol minyak miliknya untuk kemudian mengolesi lubang pantat gadis itu sebanyak-banyaknya. Ditusukkan lagi batang pelirnya yang sudah tegak berdiri mengacung ke dalam sempitnya anus Dina.
"Akhh! Jangan keras-keras Mas! Pedih! Akhh! Nyeri sekali.. Aduh!!"
Sudah sepertiga batang kejantanannya menyelusup masuk ke dalam dubur istrinya yang penuh sesak namun legit dan hangat sekali. Dudung mengeluarkan sedikit pelirnya, lalu digenjotnya lagi sampai separuh penisnya melesak ke lubang pelepasan dara belia yang tengah diperawani anusnya itu. Sesudahnya suara Dina sudah tak terdengar lagi, sebab ia telah tak sadarkan diri menahan rasa sakit pada anusnya yang diperkosa oleh sang suami.
Dudung tak peduli akan hal itu, ia bahkan tersenyum menyeringai puas dapat merasakan mengentot Dina melalui lobang pantatnya yang sangat lezat. Dara itu masih berusia delapan belas tahun, tentu saja lubang pantatnya masih terasa ketat menjepit pelir Dudung. Kontol Dudung yang keluar masuk masih terasa kesat dan peret sekali di dalam poros usus perempuan muda ini. Otot bibir anus gadis itu membentuk lingkaran cincin sungguh mengunci kuat-kuat batang penisnya yang keluar masuk di dalamnya.
Kini sudah dua pertiga kontol itu menembusi lubang pantatnya nan mungil menawan ini. Minyak yang tadinya melumasi dubur gadis itu sudah mengering, tapi sudah mulai terganti dengan lendir lengket yang berasal dari lubang hajat Dina kini. Dudung seakan tertunaikan keinginannya untuk menyetubuhi anus wanita dan ia semakin menjejalkan seluruh batang pelirnya sampai semua tonggak kejantanannya benar-benar amblas terbenam ke dalam lorong pelepasan sang dara cantik ini. Sangat enak nian anus si Dina ini mencengkeram erat batang kontolnya dari ujung hingga pangkal selangkangan Dudung. Lelaki tua itu bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, terus dimainkannya tubuh istrinya ini laksana seorang budak pemuas nafsu saja.
Tangan kekarnya mencengkeram erat-erat pinggul istrinya yang pingsan ini sambil terus mengaduk-aduk isi belahan dalam anal nan disenggamainya dengan sangat liar tak terkendali lagi melampaui akal sehatnya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Dudung tak melihat tetesan air mata istrinya mengalir membasahi kedua pipinya kembali yang merembes saat detik-detik terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Dukun tua itu malahan berterima kasih pada wangsit dari gurunya yang begitu sangat menguntungkan dirinya dapat mempersunting Dina sebagai istri ketiganya yang sah. Dudung semakin larut dalam kemaksiatan nafsu birahi rendah nan menjurus ke arah kebrutalan. Kontolnya terus mengayun-ayun mengulek-ulek keberadaan anus Dina nan sudah tiada daya sama sekali dalam rengkuhannya.
Bibir anus gadis belia ini mengembang dan menguncup semakin memerah disodok-sodok oleh kelelakian sang dukun. lubang pantatnya memonyong dan mengempot berkesinambungan seakan tengah mengunyah keluar masuk kontol sang lelaki tua itu yang sudah keriput dimakan usia. Batang zakar Dudung telah basah berlumur lendir lengket anus istri mudanya nan lezat tak tertandingi dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain.
Akhirnya setelah lama menyodomi anus Dina, Dudung pun memuntahkan segenap sisa-sisa air maninya yang telah diproduksi oleh sepasang testisnya hari itu ke dalam celah lorong lembab nan lengket pada pantat sang gadis belia ini, kemudian tubuh lelaki tua itu terhempas lemas pada hamparan kasur empuk ranjang mewah di rumah besar mahligai perkawinan mereka.
*****
Tangan halus yang menyisakan garis-garis merah tak beraturan di pergelangannya itu tampak bergetar memegang sebatang pena, sementara di sebelahnya masih mendengkur lelaki tua keriput kurus dengan wajah bopeng serta rambut ubannya yang telah resmi menjadi suami sahnya. Lembaran buku itu sesekali ditetesi oleh air yang jatuh dari kedua pelupuk matanya yang sembab sembari terus menulis kata demi kata di diary-nya. Hanya itulah satu-satunya tempat mengadu dari gadis yang bernama Dina itu kini tentang pernikahannya yang sama sekali tak lumrah di mata umum serta dirasanya bahwa tirai perkawinannya telah terkoyak sebelum waktunya.. Sebelum kesiapannya menerima kehadiran lelaki itu dalam hari-hari dan kehidupannya.. Apalagi membalas tulus dengan sesuatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan insan di belahan dunia ini.. Yaitu, C I N T A.
*****
Ide cerita: Sdri. Ayeng Waldesi
Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang dibuat berdasarkan khayalan serta daya imajinatif penulis, jikalau ada kesamaan nama tokoh, tempat ataupun hal lainnya, itu semata-mata hanyalah bersifat kebetulan belaka saja.
Demikian pula dengan judul terdahulu sebelum karya kedua ini yang bertajuk "Tragedi Malam Pengantin", juga demikianlah adanya. Berhubung banyaknya tanggapan tidak sedap yang diterima oleh penulis. Mohon maklum adanya.. Sekian dan terima kasih.
E N D
tragedi malam pengantin
Tragedy malam pengantin
Aku adalah seorang bujangan yang mempunyai sebuah rumah di perumahan yang terletak di pedalaman pinggiran kota. Telah lama aku tak mengunjungi rumahku itu, karena aku telah lama kost di kota dan bekerja di sana. Sampai suatu hari aku memutuskan mengambil cuti seminggu untuk sekadar beristirahat setelah lama jenuh bekerja. Saat itulah waktu cutiku kugunakan untuk mengunjungi rumahku yang telah lama aku tinggalkan.
Lingkungan daerah rumahku memang masih sangat sepi sekali. Terlihat hanya beberapa rumah yang terisi pada setiap kompleknya. Keamanannya sudah tidak terjamin sejak pengembangnya terkena kredit macet. Lampu penerangannya di kala malam hari masih sangat kurang, sehingga aku malas untuk menginap disana. Tetapi kini guna untuk mengisi waktu luang cutiku, maka aku putuskan untuk menginap disana.
Hari itu telah gelap dan tak seorangpun yang tahu aku memasukki rumahku, namun aku sempat melihat rumah sebelahku tinggal terdapat tanda pengenal bahwa rumah itu adalah rumah sepasang pengantin baru. Sekejap hatiku tergetar, sejak kecil aku mempunyai hobi mengintip, terutama dalam hal mengintip perempuan dan yang paling aku berhasil melaksanakan aksiku adalah ketika ia sedang mandi, tak lebih dari itu. Namun saat ini keinginan untuk mengintip seperti apa sepasang pengantin baru ini begitu sangat menggugah hatiku untuk tidak menolaknya.
Kupastikan rumah sebelahku itu dalam keadaan kosong. Rasanya mereka masih berpesta dan belum pulang ke rumah baru mahligai tersebut. Kutatap seisi teras depannya, belum ada sendal atau sepatu diluar, menandakan penghuninya masih bepergian. Secepat kilat aku mempelajari situasi rumah tetanggaku itu, meskipun aku tak tahu siapa yang menghuninya, sebab sejak kubeli rumahku ini, rumah yang berdempetan dengan rumahku ini masih kosong, namun kini telah bersih dan dicat begitu rapihnya laksana rumah baru saja.
Aku yakin sekali bahwa kamar pengantin itu pasti bersebelahan dengan kamarku dan letaknya ada di lantai dua juga serta hanya terhubung oleh satu bata saja dengan rumahku. Kuambil sebuah bor dari perkakas tua dirumahku, tanpa pikir panjang lagi aku menduga-duga sebelah mana dinding kamarku yang harus kubor agar aku dapat mengintip kedalam. Setelah kira-kira pas dengan ukuran mataku, penuh nekat karena sudah mempunyai maksud yang kuat aku membor dinding itu. Suara bising dari bor tersebut menyadarkanku akan bahaya kalau aksiku ketahuan oleh si pemilik rumah sebelahku. Sesaat lamanya aku terdiam tanpa berani bergerak, khawatir kalau dugaanku salah bahwa penghuninya belum pulang dari resepsi pernikahan.
Dinding kamarku kini berlubang sudah, sebesar ibu jari orang dewasa. Kudekatkan bola mataku ke lubang tersebut, ada gelungan kelambu putih yang tembus pandang kedalam dan aku lega karena dengan adanya gelungan kelambu tersebut yang mungkin merupakan aksesoris kamar pengantin tersebut agak menutupi samar lubang yang telah aku buat. Aku dapat menatap ranjang yang terpampang di ruangan kamar yang tak begitu besar itu.
Dan benar, itu adalah kamar pengantin mereka, terlihat dari adanya hiasan-hiasan yang melekat di dalam kamar tersebut seperti pernak-pernik bebungaan yang menempel di tepian meja rias yang bercermin serta lemari dua pintu yang bercermin pula menghadap padaku. Terbayang di otakku jika nanti aku dapat menyaksikan malam pengantin mereka bisa dari berbagai sudut karena adanya cermin-cermin itu.
Suara deru mesin mobil dari kejauhan segera membuyarkan lamunanku dan aku segera mengintip dari jendela kamarku yang dilantai dua melihat kedepan rumahku. Ada dua mobil berhenti tepat di depan rumah sebelahku dan salah satunya benar mobil pengantin yang aku tunggu sejak tadi. Kulirik arlojiku, hmm.. masih jam 9 malam, namun daerah rumahku ini sudah seperti komplek mati saja sejak jam setengah sembilan tadi. Pintu mobil pengantin itu terbuka, keluarlah sang dayang pengiring pengantin terlebih dahulu untuk mengiringi kedua mempelai yang akan memasukki rumah, sedangkan mobil dibelakangnya adalah kerabat-kerabat dari kedua mempelai. Tetapi kini pandanganku terfokus kepada mempelai wanitanya dari balik tirai jendela kamarku yang lusuh aku menatap dan ingin tahu seperti apakah gerangan wajah dan tubuh si pengantin wanitanya.
Dan betis indah yang terbalut oleh stocking berwarna hitam serta kaki seorang dara yang bersepatu pengantin putih mempesona itu terjuntai keluar dari celah pintu mobil itu. Tampak begitu mulus dan kencang ketika sosok wanita yang menjadi pengantin itu telah keluar dari dalamnya, aku begitu terkesima dibuatnya. Ternyata gadis yang menjadi mempelai perempuan sebelah rumahku ini masih belia serta sangat cantik sekali dan itu terlihat dari wajahnya yang terlihat manis, bersih dan putih kulitnya. Tubuhnya begitu langsing padat berisi terbalut oleh busana pengantin masa kini yang menampakkan lekuk liku tubuhnya tanpa gembungan hola hop yang biasa dikenakan pengantin yang mempunyai bodi biasa-biasa saja. Ada mahkota geraian bunga-bunga di rambut hitamnya yang sebahu turut mempercantik penampilannya yang begitu sangat mempesona di mataku.
Dara itu tersenyum manis pada suaminya yang juga seorang lelaki muda berbadan sedang dan ganteng, namun mengapa saat itu aku merasa ia tersenyum untukku? Ah! dasar aku ini seorang bujang lapuk yang hobinya hanya mengintip saja dan tak berani sama sekali untuk mendekati makhluk wanita dimanapun dan kapanpun, tetapi herannya kalau mengintip dan menguntitnya aku berani. Kutepak dahiku sendiri, tolol! Mana mungkin senyum gadis itu untukku? Itu hanya untuk suaminya seorang, tak lebih! Selain itu dia tidak melihatku yang tengah menatapnya dari sela-sela jendela kamar di lantai dua yang mana lampu terasnya tak kunyalakan, sehingga mereka menyangka kalau rumahku ini masih kosong dan tak berpenghuni.
Mereka semua di dalam rumah itu kini dan aku tak berkutik sama sekali serta hanya dapat menunggu acara ramah tamahnya kerabat-kerabat mereka. Namun ternyata hanya kisaran setengah jam saja mereka di rumah itu, setelahnya aku kembali mendengar suara mesin mobil keduanya dihidupkan dan deru kedua mobil itu semakin jauh di telingaku. Inilah saat yang aku telah nanti-nantikan sejak tadi, aku kembali ke kamarku yang dindingnya telah bolong itu dan dengan hati berdebar-debar karena masih takut ketahuan aku menempatkan bola mataku lagi pada celah lobang dinding yang telah tembus ke kamar pengantin tersebut.
Dari celah dinding yang berlubang itu aku dapat mendengar suara langkah kaki bersepatu dara itu yang tengah menaikki tangga dan di akhiri dengan suara bukaan pintu kamar pelaminan tersebut. Hatiku semakin dag dig dug tatkala aku kembali melihat gadis itu dari jarak yang begitu dekat. Betapa sungguh cantik wajah dara itu dan masih begitu belia diusianya yang berkisar dua puluhan tahunan ini dengan busana pengantinnya yang masih lengkap berikut sepatunya.
Tertegun aku menikmati kecantikannya yang aduhai tak terlukiskan ini bak mutiara indah yang meluluh lantakkan isi hati setiap pria. Gadis itu tengah mematut-matut diri di depan cermin meja riasnya membelakangiku, namun raut wajahnya masih dapat kulihat dengan jelas pada pantulan cermin yang menghadap ke posisi tempatku mengintip. Kulihat ia tersenyum manis sekali di hari dalam kehidupannya yang baru itu, mungkin ia sangat bahagia sekali berpasangan dengan suaminya yang telah kulihat pula begitu serasi dengannya tadi.
Aku semakin gembira saja membayangkan hal yang sebentar lagi akan terjadi diantara mereka itu, karena sebentar lagi mereka akan melakukan ritual malam pertama sebagai kewajiban dari pasangan suami istri yang telah mengikat diri dalam mahligai perkawinan. Kini untuk memastikan keadaan aman untuk selanjutnya, aku melihat situasi depan rumahku untuk kedua kalinya, namun kali ini aku melihat sesuatu yang membuat aku terkejut.
Pintu pagar rumah sebelahku tengah di loncati oleh tiga orang tak dikenal yang bertubuh gelap diantara penerang lampu yang begitu remang-remang dan kejadian itu begitu sangat cepatnya sehingga membuatku takut setengah mati. Pasti ketiga lelaki itu berniat jahat kepada penghuni rumah pengantin baru ini, namun belum lagi jelas aku melihatnya, tubuh ketiga lelaki itu telah melesat masuk kedalam rumah tersebut. Ingin rasanya aku berteriak untuk mencegah kejadian itu, tetapi aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Apalagi aku sempat melihat ketiga sosok lelaki itu bertubuh jauh lebih besar dariku yang kerempeng ini serta bernyali kecil. Otomatis aku hanya dapat terpana untuk beberapa saat.
Lalu terdengar suara dari daun jendela yang dibuka paksa di lantai bawah rumah sebelahku itu, disertai keributan sesudahnya. Aku mengintip kembali pada celah dinding kamar itu dan kudapati gadis pelaminan itu wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat akibat dilanda keterkejutannya dengan adanya ribut-ribut di bawah itu. Ia bangkit dari duduknya dari meja rias dan bergegas membuka pintu kamarnya untuk melihat apa yang tengah terjadi di bawah dimana sang suaminya masih berada. Namun terlambat, karena salah satu sosok tamu tak diundang itu membarenginya masuk ke kamar itu seraya menahan laju tubuh gadis cantik ini dan mendekapnya.
"Ahh..! Siapa ini?! Lepaskan! Aah.. tol.. hmmpph!", jerit gadis itu yang langsung tertahan oleh bekapan telapak tangan sosok pria berkulit gelap yang bertubuh besar dan sangat kekar itu.
Seseorang dari belakang lelaki itu menyusulnya dan membantu lelaki pertama yang mendekapnya tadi yang masih dalam posisi berdiri berhimpitan sambil mendekatkan sebilah belati yang telah terhunus di leher jenjang gadis mempelai itu yang putih mulus.
"Jangan melawan manis, kalau ingin selamat!!", ancam lelaki yang menodongkan belati di lehernya sambil mencengkram kedua tangan gadis itu dengan tangan yang satunya lagi.
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik sang mempelai wanita ini.
"Mmmpphh..!", hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
"Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis pula..", seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu. Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh kejantanannya itu.
"Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini, sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!", perintah kepala rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding kamarku.
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah kelelakiannya. Perlahan ia melepaskan sepatu kanan pengantin gadis itu yang mungkin telah dipakainya sejak pagi tadi hingga malam hari ini pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.
Sepatu itu terlepas sudah, menyisakan telapak kaki indah milik seorang dara jelita yang masih belia berbalut stocking hitamnya yang tampak serasi menutupi kulit jenjang kakinya. Segenap aroma sembab dari kakinya menebar seisi ruangan kamar pengantinnya, bahkan melalui celah itu aku dapat membauinya pula, namun lelaki kepala para perampok itu malahan menciumi telapak kaki gadis itu tepat di depan penglihatanku dengan penuh gairah dan nafsu serta menjilat dan menghisap-hisap jari kaki lentik milik gadis korbannya yang terus meronta-ronta dalam ketakberdayaannya di mataku. Puas dengan kaki kanan, ia melanjutkannya dengan kaki yang kiri sambil sesekali membelai-belai betis indah gadis itu yang terpampang indah dipelupuk matanya.
"Kamu jaga di bawah dululah! Nanti kalau aku sudah selesai, baru aku panggil kau!", perintah kepala rampok itu pada anak buahnya itu, mungkin ia merasa terganggu dan risih oleh tatapan anak buahnya yang melihat aksi maniaknya itu.
"Oke boss! Aku akan mengantongi barang-barang berharga di rumah ini segera!", ujar anak buahnya penuh semangat, lalu ia keluar kamar tersebut meninggalkan bossnya bersama dengan gadis belia tersebut. Aku tak tahu apa yang telah terjadi dengan sang suami dari gadis itu, agaknya mereka telah berhasil melumpuhkannya dan entah bagaimana dengan nasibnya sekarang.
Keadaan di malam sepi itu benar-benar menunjang aksi mereka untuk menguras harta benda rumah itu secara perlahan-lahan. Bahkan dengan santainya lelaki ketiganya kini tengah duduk di teras rumah sebelahku itu sambil merokok sekaligus berjaga-jaga dan melihat situasi keadaan di luar. Sangat sepi diluar dan hanya menyisakan hawa dingin dan lampu penerang yang sangat redup serta hampir tidak kelihatan apa-apa dari jendela kamarku yang gelap.
Ketika kulihat kembali, tampak lelaki itu meraih gaun pengantin gadis itu di bagian dadanya kemudian menariknya dengan kasar hingga robeklah busana pelaminan di dada gadis belia cantik itu. Aku sangat iba sekali terhadap perlakuan kasar lelaki itu pada gadis tersebut, tetapi aku sangat ingin sekali melihat kelanjutannya, sehingga aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah ini. Terus terang aku tak mau tersangkut paut dengan peristiwa ini, namun dibalik itu aku ingin menikmati pula hobi mengintipku yang baru kali ini mendapati adegan yang lain dari biasanya seumur perjalanan hidupku.
Lelaki bajingan itu merengkuh tubuh gadis itu yang bagian dadanya telah terbuka menampilkan kedua belah payudaranya yang begitu indah, padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku sendiri pun mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela sama sekali terpampang di hadapan bajingan itu dan aku. Daging dadanya saat tersentuh oleh jari-jari perkasa lelaki itu begitu kenyalnya dan lelaki kekar itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang selama ini belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini bajingan kepala perampok itu begitu leluasanya mempermainkan bagian sensitif dari dara itu yang terlarang.
Seketika kelelakianku mulai terangsang dan bangkit seraya membayangkan seperti apa rasa nikmatnya memelintir-lintir puting susu dari seorang gadis, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana seorang dewi bagiku dan mungkin saja bagi lelaki bajingan itu merasakannya pula bahawa pada malam itu adalah malam keberuntungannya mendapati mangsanya yang begitu secantik ini.
Benar-benar jauh dari film-film biru yang selama ini aku tonton, dan betapa adegan bajingan itu yang tengah mengulum puting payudara gadis yang sedang mekar-mekarnya itu membuat gairah kejantananku mulai bangkit di antara penderitaan yang tengah dialami gadis itu yang terpaksa membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki itu. Namun di tengah-tengah kerakusan bajingan itu melahap payudara indah milik sang mempelai perempuan, ia juga perlahan-lahan mulai membangkitkan gairah korbannya agar tidak sepenuhnya nanti akan melayaninya secara terpaksa saat di gaulinya. Kedua tangannya yang kasar dan kelihatan sangat kuat berotot itu terus digunakan untuk mengusap-usap kedua belah paha kaki gadis itu yang terkangkang akibat terikat tambang di tiang-tiang kelambu ranjang pelaminannya.
Akhirnya aku mendengar suara lenguhan pertama yang keluar dari bibir gadis itu, meskipun teredam oleh secarik ikatan kain yang menyumpal mulut mungilnya.
"Ehmm... hmmphh..!", erang gadis belia itu yang masih terikat tanpa daya, sementara wajah cantiknya telah penuh dengan linangan air matanya masih tergolek ke kiri dan ke kanan berusaha menahan adanya sensasi yang mulai mendera tubuhnya. Suatu sensasi yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya dan perlahan-lahan sensasi itu semakin melanda dirinya begitu membuatnya semakin merasa malu dan terhina diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang bukan suaminya dan bahkan tidak ia cintai sama sekali.
"Manisku.. kalau kau terus meronta dan melawan, maka aku tak akan segan-segan untuk menyuruh anak buahku di bawah untuk menghabisi nyawa suamimu!! Patuhlah kepadaku, maka kau akan kulepaskan esok pagi!", ancam kepala bajingan itu tepat ditelinga gadis belia ini.
"Bagaimana hah?! Sekarang aku akan melepaskan ikatan pada kedua kakimu, tetapi kau harus berjanji untuk tidak melawan dan memberontak lagi, mengerti?!", tukas kepala perampok itu lagi.
Agak lama aku menunggu jawaban dari gadis itu untuk sesaat waktu dan dengan perlahan kepala si gadis itu mengangguk dengan sangat berat hati seakan hatinya telah tersayat oleh sembilu mendengar ancaman yang menghentikan perlawanannya. Wajah cantiknya semakin penuh dengan derai air mata pilu keterpaksaannya malam itu kepada lelaki bajingan ini yang tersenyum girang mendapati korbannya telah takluk olehnya.
Dengan senyum menyeringai yang menyeramkan lelaki bajingan bertubuh tinggi besar yang sangat kekar itu melepaskan ikatan tambang yang tadi mengikat kedua mata kaki sang dara belia. Setelah itu ia membiarkan tubuh gadis itu terlentang di kasurnya yang berwarna putih bersih itu. Selanjutnya lelaki itu merobek kembali gaun pengantin bagian atasnya kemudian melorotkan kain itu sampai kepinggang.
Betapa tubuh telanjang gadis itu kini terpampang di depan matanya yang begitu buas bak singa lapar yang tengah menghampiri mangsanya, hingga yang tersisa dari tubuh indah gadis itu adalah tinggal celana dalam putihnya dan stocking hitam yang berbentuk jala-jala kecil itu yang masih membungkus kedua kakinya yang halus dengan cabikkan gaun pengantinnya masih melingkari pinggangnya, tetapi mulutnya masih tersumbat dan kedua tangannya masih terikat pula ke belakang.
Perut gadis itu rata dengan pusar yang menantang menghiasi lekuk liku perutnya yang begitu sensual mempesona berikut kaki indahnya yang dihiasi gelang kaki terbuat dari emas yang melingkar di mata kaki kanannya. Leher jenjangnya begitu mulus menopang wajahnya yang begitu sedap dipandang mata dari sudut manapun juga dan pada lehernya juga dihiasi kalung emas dengan liontin berbentuk hati yang melambangkan cinta dari pasangan pengantin itu. Rambutnya yang sebahu tergerai indah beruntaikan penuh pernak-pernik mahkota bebungaan perhiasan pengantin wanita.
Lelaki itu berdiri dan membuka kaos berwarna gelapnya, terlihatlah tubuh kekarnya yang berotot begitu perkasa membentuk tonjolan-tonjolan yang jelas serta dadanya yang penuh dengan bulu-bulu hitam yang kasar. Perutnya begitu sempurna dengan otot-otot perutnya begitu mencetak tubuh kelelakiannya. Iapun kini melucuti celananya di hadapan gadis itu yang ketakutan meringkuk di tepian ranjang mahligai perkawinannya.
Kejantanan lelaki itu masih tidur namun terlihat besar dengan kedua biji pelirnya yang menggantung dengan gagahnya kira-kira ukurannya ada dua kali lebih besar dari punyaku. Agaknya tak secepat itu lelaki perkasa ini terangsang kelelakiannya hanya cuma dengan mengemuti payudara gadis belia nan cantik yang kukira akan menawan hati bagi setiap pria yang melihatnya.
Kedua bola mata nan indah milik gadis belia cantik itu begitu kagetnya demi melihat apa yang terpampang di hadapannya dari sosok seorang lelaki gagah yang demikian perkasa, dan rasanya sang suaminya belum tentu akan memilikki tonjolan di selangkangannya seperti lelaki bajingan kepala perampok yang menyatroni rumahnya ini. Seketika tubuhnya semakin ciut saja menanti apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya sesudahnya. Berikutnya lengan kirinya yang terikat erat itu dicekal oleh sang jahanam yang serta menariknya dari ranjang untuk kemudian dipaksa berdiri bersebelahan dengan tubuh lelaki itu yang telah telanjang kini.
Ketika kedua tubuh berlainan jenis kelamin itu telah berdiri, aku melihat dengan jelas bahwa ukuran lelaki tubuh lelaki itu ada dua kali lebih besar dari tubuh sang gadis malang ini. Tubuh gadis itu diraihnya sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan, lelaki itu berjongkok tepat dihadapan tubuh sang pengantin perempuan itu kemudian dengan perlahan-lahan menyusupi gaun serta melucuti celana dalam dara itu yang tersisa.
Aku terus memandangi detil kejadian itu, saat lelaki itu mulai menarik celana itu dari bongkahan pantatnya sampai melorot ke betis indah sang wanita muda, diiringi suara sesenggukkan tangis gadis cantik nan malang ini. Kulihat sesuatu bagian dari miliknya yang terlarang dapat kulihat dengan jelas, yakni di sela-sela pangkal pahanya yang putih mulus bak lobak itu dihiasi dengan bulu-bulu halus garis kemaluannya yang masih tertutup rapat sama sekali.
Namun yang membuatku lebih bernafsu lagi adalah ketika mataku tertumbuk pada celana dalam putih sutranya gadis itu yang kini telah tergantung di betis indah kirinya, tampak pada bagian yang menutupi auratnya pada kain celana tersebut terlihat bercak lendir yang berasal dari keintimannya. Bercak cairan itu sedikit menggumpal seperti jelly yang membuatku teringat akan apa yang tertulis dalam buku pengetahuan sex yang pernah aku baca, bahwa ada beberapa wanita dalam usia suburnya akan mengalami hal seperti ini dan itu adalah tanda rahimnya telah siap untuk dibuahi oleh lelaki.
Kepala perampok itu agaknya juga telah mengetahui noda percikkan lendir gadis itu pada celananya, dan ia meraih celana dalam yang tergantung di betis kiri itu kemudian menyorongkan hidungnya mengendus sisa cairan itu. Bagai seorang maniak tulen, bajingan itu menjilati sekaligus melahap lendir di celana sang dara dengan rakus dan buas bak menjilati es krim saja layaknya.
Gadis itu hanya dapat memejamkan matanya menyaksikannya dengan penuh kengerian serta juga perasaan malu yang amat sangat dengan penuh rona merah di kedua pipinya, bahwa lelaki itu ternyata menyukai sekali cairan yang berasal dari kemaluannya serta apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu selanjutnya terhadap seorang wanita seperti dirinya ketika telah sama-sama berdua di dalam kamar tanpa diketahui oleh orang lain. Sama sekali tak pernah diduganya bahwa seorang lelaki itu akan begitu penuh dengan nafsu binatang tatkala mencumbui seorang wanita, dan kembali air matanya berderai jatuh untuk yang kesekian kalinya. Belum pernah ia telanjang seperti ini dihadapan seorang lelaki manapun dan rasa malu itu terus mendera hati dan perasaan halusnya sebagai seorang wanita baik-baik.
"Hahaha.. manis.. lendir kemaluanmu begitu wangi dan lezat.. marilah kita nikmati malam bahagia ini berdua, bersamaku kita akan mengarungi surga kenikmatan yang tak akan kau dapatkan dari suamimu itu..", rayu lelaki bajingan yang jantan itu sambil mendekatkan wajahnya diantara celah miliknya yang selama ini belum pernah dilihat atau tersentuh oleh lelaki manapun, tak terkecuali oleh suaminya sendiri yang belum sempat mereguk kebahagiaan malam pertama mereka itu.
Dengan paksa kini ia mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab di atas kasur pelaminannya kembali, serta merta sebelum gadis itu tersadar apa yang akan terjadi selanjutnya, ia menyibakkan gaun pengantin yang menutupi selangkangannya, kemudian mencengkram kedua tungkai kaki gadis itu hingga dengkulnya kini tertahan pada kedua belah puting payudaranya yang memerah basah oleh sisa air liur lelaki itu saat tadi mencumbunya. Aku tak dapat melihat apa yang dilihat oleh lelaki itu kini, yang pasti aku juga sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana bentuk dari kemaluan seorang wanita yang sama sekali belum pernah bersetubuh dengan laki-laki, tak seperti yang sering kusaksikan dalam filem biru yang rata-rata telah rusak dan bentuknya sudah jelek dan tak menggairahkan lagi untuk dilihat.
Percuma saja gadis itu berusaha mengatupkan kedua belah pahanya yang mulus itu karena cengkeraman tangan bajingan kepala perampok itu begitu kuat menahan kedua tungkai kakinya, bahkan bukaan kedua kakinya semakin melebar saja manakala kekuatan dorong lelaki itu di tambah untuk melawan daya tolak gadis itu. Aku yakin sekali lelaki itu telah berhasil menyaksikan serta menikmati keindahan dari kemaluan gadis itu seutuhnya sudah, lalu dengan menggunakan telapak kaki kanannya yang besar dan berotot, ia menginjak tungkai kaki kiri gadis itu menggantikan tangan kanannya untuk menahan agar gadis itu tetap mengangkang, kemudian tangan kanannya ia gunakan untuk membuka bibir belahan berbulu milik sang dara yang tak berdaya diperlakukan serendah dan sehina itu.
Wajah lelaki itu semakin senang setelah melihat apa yang ada dalam pangkal paha sang dara yang terbuka tersebut, agaknya ia telah melihat kesucian gadis itu yang selama ini telah banyak kubaca dan kudengar dari cerita-cerita temanku yang telah menikah, bahwa seorang wanita yang belum pernah disetubuhi lelaki masih mempunyai selaput dara yang menjaga jalan masuk liang kewanitaannya sekaligus sebagai tanda keperawanannya.
Sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya dengan jelas sebagaimana yang dilihat oleh lelaki jahanam itu, karena pantulan dari kaca meja rias dan lemari pakaian itu tertutup oleh bayangan punggung belakang tubuh telanjang lelaki tersebut. Terlihat wajah lelaki itu semakin mendekat kearah pangkal paha dari kedua belah kaki yang terkangkang dan tengah menghirup aroma yang terpancar dari selangkangan gadis belia itu yang terbuka lebar. Kata orang, wanita mempunyai bau yang khas pada vaginanya apalagi yang masih gadis, maka aroma baunya masih kental sekali, begitu sangat sembab asli perawan murni!
Aku iri dengan lelaki itu saat ini, karena seumurku sama sekali aku belum pernah mengetahui seperti apa rasanya kenikmatan yang asli ketika bersamaan dengan seorang wanita, apalagi sedekat dan seintim mereka kini. Walaupun gadis itu sedang dalam paksaan, namun tak membuat lelaki itu kehilangan selera kenikmatannya, bahkan kini setalah mencengkram kembali tungkai kiri gadis itu dengan tangannya, ia membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya tepat ditengah-tengah lubang berbulu gadis itu.
Aku hanya mendapati betapa kumis lelaki itu seakan telah menyatu dengan bulu-bulu jembut sang dara belia yang malang ini. Lidahnya terus bergerak-gerak lincah menyapu area terlarang milik mempelai perempuan ini yang berusaha menahan gairah keperawanannya yang terus dibangkitkan gejolaknya oleh sentuhan-sentuhan lelaki itu pada organ intimnya.
Dan jilatan itu semakin dalam dan turun kebawah diiringi geliatan-geliatan kecil tubuh dara itu yang disertai pula dengan lenguhan tertahannya manakala lidah lelaki itu telah sampai ke bawah bongkahan pantatnya yang terbuka dimana terletak lubang anusnya. Betapa tanpa rasa jijik sama sekali lelaki bajingan itu menjilati anus gadis itu, wajahnya semakin lekat saja pada celah-celah paha korbannya yang semakin keras suara lenguhannya yang teredam sumpalan kain di mulutnya menahan sensasi birahi yang tampaknya mulai bergejolak dalam tubuhnya. Kurasa lelaki itu begitu memaksa memasukkan lidahnya yang sengaja dibuat kaku menegang, apalagi lelaki itu mempunyai lidah yang panjang dari biasanya sehingga membuat anus gadis itu yang sempit serasa ditusuk-tusuk oleh daging lunak yang hangat.
Semua ini memang sama sekali tak pernah disangka oleh gadis itu yang sama sekali belum pernah mempunyai pengalaman bercinta dengan seorang lelaki apalagi hubungan intim seperti sekarang ini yang dirasakannya. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa andai saja kekasih hatinya itu yang kini telah menjadi suaminya itu mungkin akan berbuat seperti ini pula pada dirinya di malam ritual pengantin mereka. Namun kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa tubuh telanjangnya tengah dicumbui oleh seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan bahkan amat dibencinya karena telah menawan suaminya apalagi dicintainya.
Tubuh indahnya masih terkapar tak berdaya dalam posisi menggangkang kedua belah kakinya sementara lelaki itu masih terus tak henti-hentinya menjilati kedua belahan lubang di sela-sela pangkal pahanya, yakni lubang kemaluannya dan lubang anusnya. ia mulai merasa tersiksa sekali dikarenakan ternyata lelaki itu perlahan-lahan telah berhasil membuat tubuhnya yang menahan sensasi dari birahi gairah perawannya telah terpedaya oleh keahlian bercinta lelaki bajingan itu yang agaknya telah mempunyai pengalaman dalam bercinta dan menaklukkan wanita.
Setiap lekuk liku dari tubuh telanjangnya yang sensitif itu dibelai dan di elus, sehingga ketika tangan lelaki itu sudah berpindah meremas-remas kedua belah susunya yang padat berisi, montok indah menggiurkan itu kiri dan kanan, gadis ini telah lupa untuk memberontak lagi, kedua tungkai kakinya yang telah terbebas dari cengkeraman erat tangan-tangan kekar sipejantan itu masih saja terbuka lebar seakan-akan masih terpegang saja layaknya.
Berganti-gantian lidah lelaki perkasa itu mengulas lubang memek dan anus gadis itu. Semakin lama bongkahan pantat sang dara itu semakin mencuat keatas seiring dengan naiknya kedua tungkai kakinya yang semakin mengangkang. Tubuh telanjangnya menggeliat-liat hebat menahan sensasi kenikmatan yang diberikan lelaki bajingan itu kepada dirinya, sementara dari dalam tubuhnya terasa ada yang tersumbat dan ingin meledak-ledak seperti akan mau pipis saja, karena lidah lelaki itu selalu menjilati lubang yang biasanya ia selalu gunakan untuk buang air kecil ini.
Derai air mata yang membasahi kedua belah pipi dari wajah nan cantik ini telah mengering dan kini yang ada hanyalah wajah seorang gadis belia yang tengah melawan birahi pertamanya yang menuntut untuk dituntaskan dari seorang lelaki yang tak pantas meraih kenikmatan bersamanya itu. Tubuh telanjangnya melejang-lejang menawan bagi setiap lelaki yang menyaksikannya, terlebih-lebih aku yang terus melihat adegan itu tanpa berkedip sambil memegangi batang pelirku yang telah tegang setengah mati seraya mengocok-ngocoknya dengan penuh nafsu, betapa aku juga terbawa arus permainan birahi paksa tersebut. Entah kapan aku lupa saat aku memasukkan tanganku kedalam celana dan mengelus batang kontolku yang sama sekali belum pernah singgah kedalam memek gadis manapun.
"Mpphh..!! Huphf...haphf!", semakin bertubi-tubi telingaku mendengar luapan erangan dari mulut mungilnya yang tersumpal itu menambah sensasi indah adegan dari ketidakberdayaan seorang gadis yang tengah dipaksa menjalani kodratnya sebagai wanita yang harus melayani lelaki.
Sampai suatu saat terlihat tubuh telanjang gadis itu terhenti kaku seketika, jari-jari kedua belah kakinya yang indah mengatup begitu eratnya dan seketika jatuh terjuntai di atas kasur pelaminan itu dengan menopang pada lekukan jari kakinya yang masih menekuk kedalam mengacak-ngacak sprei putih dibawahnya dengan tumit terangkat, sedangkan belahan pinggulnya mencuat tinggi keatas dengan bongkahan pantatnya menjungkit diwajah lelaki itu, jeritan tertahannya memecah segenap isi ruangan kamar percintaan paksa dari kedua insan berlainan jenis, dan itulah agaknya orgasme pertama dari gadis yang masih perawan ini yang serta merta disambut gembira oleh lelaki bajingan kepala perampok itu.
Aku merasa bahwa kini selangkangan gadis itu telah luber oleh cairan lendir yang tadi telah kulihat menempel pada celana dalamnya yang masih tergantung di betisnya, hal ini dibuktikan dengan jilatan-jilatan lidah lelaki itu yang kini sangat gencar kembali menyapu pangkal pahanya yang terbuka pasrah begitu indah mempesona pada penglihatanku. Dari balik tembok aku mengamati setiap juluran lidah lelaki itu kini selalu membawa tetesan lendir yang dihasilkan oleh kemaluan sang dara cantik tersebut.
"Bagaimana manis ?? Enak bukan ?? ha.. ha.. ha.. kini kau telah merasakan betapa nikmatnya surga dunia pada malam ini bersamaku, kau sangat cantik sekali manisku.. aku ingin mencicipi lezatnya kehangatan tubuhmu malam ini sepenuhnya sayang.. hmm.. hmm.. enak sekali lendir kegadisanmu ini..", seloroh lelaki perkasa itu di sela-sela jilatan pada vaginanya. Tak satupun rasanya lelaki itu menyisakan cairan surgawi sang dara korbannya yang terus direguknya sampai licin tandas sama sekali. Lendir sari keperawanan gadis itu sampai ludes ditelan semuanya oleh bajingan yang memaksanya malam itu.
Tubuh telanjang gadis itu yang masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya tadi langsung diangkat oleh lelaki perkasa tersebut kemudian di balikkan posisi kepalanya menghadap kepadanya yang telah berdiri dengan gagahnya. Kini tubuh telanjang dan kedua kaki gadis itu berubah posisinya yang selonjoran menghadapku, akhirnya inilah yang aku tunggu! Betapa kini aku dapat menikmati paha putihnya yang sedari tadi hanya dapat kulihat lebih jelas melalui pantulan cermin disana.
Kulit kakinya begitu indah dan ramping mulus dengan kuku-kuku kakinya terhias oleh kutek bening kebiruan yang transparan berkilat indah dibalik stocking hitamnya yang seperti jala-jala kecil itu. Namun kedua belah kaki itu masih berselonjor rapat serta belum terbuka, sehingga aku kesulitan melihat isi kemaluannya yang masih berupa garis vertikal yang rapat di antara bulu-bulu kelamin yang mengelilinginya.
Terlihat batang kontol lelaki itu baru agak menegak keatas yang baru separuh ereksi dengan rimbunan bulu jembut yang begitu lebat dan perkasa dihadapan wajah gadis cantik itu yang dipaksa tengadah. Sambil membuka dagu lancip gadis belia nan cantik itu sehingga bibir mungilnya terbuka, lelaki itu tampaknya terlebih dahulu akan memerawani mulutnya yang telah ia lepas sumbatan kainnya seraya mengacung-acungkan parangnya ke atas kepala korbannya, sehingga tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang ketakutan setengah mati.
"Ayo! Keluarkan lidahmu sekarang manisku.. kini jilatilah kedua biji kejantananku ini sayang.. dan jangan macam-macam!!", hardik lelaki jahanam itu yang telah menyorongkan selangkangannya ke mulut mungil sang dara korbannya.
Dengan takut-takut gadis itu menuruti perintah lelaki bajingan itu mengeluarkan lidah kecilnya yang memerah, lalu dengan perlahan mendekati pangkal kedua buah pelir yang tergantung itu. Lelaki itu dalam penglihatanku juga merasakan sensasi yang nikmat manakala lidah mungil gadis belia itu menyentuh permukaan kulit biji pelirnya yang dihiasi dengan bulu-bulu jembut kasarnya. Begitu terasa hangat dan lembut baginya untuk lidah seorang perawan pada kejantanannya itu.
"Ketahuilah manisku.. bahwa aku berbahagia sekali mendapatimu malam ini, karena rupanya suamimu sama sekali belum pernah menjamah tubuhmu ini.. lama sekali aku menantikan saat-saat seperti ini.. saat dimana aku dapat mencicipi kehangatan serta kenikmatan dari tubuh seorang gadis belia sepertimu.. dan aku senang sekali bahwa kau telah menjaga dengan baik kesucianmu.. maka izinkan aku untuk mencicipi lezatnya rasa keperawanan itu dari tubuhmu ini.. ouh!", demikianlah curahan hati lelaki yang tengah dilanda nafsu terpendamnya untuk merasakan kehangatan dari kemaluan gadis belia yang masih suci.
Masih belum terdengar suara balasan terucap dari bibir mungil milik gadis itu untuk menanggapi kalimat yang dilontarkan bajingan perkasa tersebut, namun tanpa menunggu jawaban itu keluar, lelaki itu kini telah membuka paksa dagu sang dara korbannya, sampai bibir indah yang meranum itu merekah dan perlahan ia menjejali mulut mungil si gadis dengan kepala kejantanannya yang kini telah ereksi penuh dan mengacung tegak. Begitu besar dan panjang kontol lelaki itu yang dua kali ukuran kepunyaanku ini. Urat-urat tonjolannya begitu nyata bersemburat dari balik permukaan kulit batang pelir lelaki itu, benar-benar lelaki itu seorang lelaki pejantan yang akan membuat gadis ini akan bertekuk lutut dan pahanya sebentar lagi.
Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari belahan bibir seorang dara yang tak berdaya ini mengiringi setiap jejalan urat pelir lelaki itu yang semakin dalam memasukki rongga mulutnya serta menembusi pula kerongkongannya, hingga pada akhirnya hidung gadis itu yang mancung telak beradu dengan kedua biji pelir berbulu lelaki itu yang masih tergantung dengan gagahnya. Kini mulut mungil dara itu telah diperawani olehnya dan batang kejantanannya yang besar dan panjang itu telah basah didalamnya oleh ludah sang gadis suci itu. Pastilah gadis itu telah mencium pula aroma dari batang pelir gagah sang bajingan pemetik bunga ini, walaupun dengan keadaan terpaksa untuk menerimanya secara pasrah demi keselamatan sang suami yang tertawan oleh para perampok jahanam tersebut.
Setelah itu lelaki itu mulai membuat batang pelirnya keluar masuk dalam mulut mungil sang mempelai wanita yang telah terjejal penuh sesak oleh daging kejantanannya ini. Kulirik arlojiku dipergelangan tanganku, sepuluh lewat seperempat dan baru setengah jam waktu berlalu. Tak tahan menyaksikan adegan tersebut aku berlalu untuk pipis dulu sejenak di kamar kecil lantai bawah, sengaja tak kusiram agar tak terdengar suara gemericik cebokkan air, bahkan aku sampai pipis jongkok agar deru air seniku teredam. Dan ketika aku kembali melaksanakan aksiku mengintip dari celah lubang dinding itu, aku kini telah dapat melihat bagian intim dari gadis itu yang selama ini telah tersembunyi dariku.
Kini kedua tungkai kaki kiri dan kanan gadis itu dipegangi oleh lelaki itu sebagai acuan untuk mendorong tubuh telanjangnya sehingga mulutnya dapat terus dijadikan sebagai ajang nafsu untuk melayani pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi kerongkongannya. Gaun bagian bawah dari busana pengantinnya telah tersibak lagi sampai mengelilingi pinggangnya yang begitu ramping memukau. Otomatis kedua belah kaki itu kini mengangkang lebar pada penglihatanku yang pada akhirnya membuatku dapat melihat lubang sang perawan beserta lubang anusnya begitu terpampang jelas di antara selangkangannya yang begitu putih mulus indah nan bersih terawat.
Kedua lubang itu telah basah oleh ludah lelaki itu dan kini terlihat berkilat-kilat diterpa cahaya lampu kamar peraduan tersebut. Manakala lelaki itu tengah menarik kedua tungkai gadis itu, maka otot panggul gadis itu ikut tertarik sehingga menarik pula belahan bibir kemaluannya dan terkuak sedikit dan secara bersamaan pula aku dapat melihat isi didalam belahan keintiman gadis belia cantik ini yang begitu tiada cacat dan celanya.
Gerakan-gerakan yang membuat belahan bibir kemaluan berbulu basah gadis itu membuka dan menutup semakin memperjelaskanku akan apa yang terlihat pada isi dalamnya yang masih sempit memerah serta sudah agak lembab membasah setelah orgasmenya tadi. Dibalik belahan bibir luar dari memek gadis itu yang terbuka mengangkang, terdapat pula bibir dalamnya yang masih mengatup rapat dan hanya menyisakan lubang kecil sebesar ujung jari kelingking.
Aku melihat selaput keperawanan gadis itu terpampang menjaga jalan masuk di sekitar lubang kecil tersebut. Kegadisan yang selama ini betapa telah dijaga dan begitu dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali agar kelak dapat dipersembahkan secara utuh kepada sang suami tercinta, namun kini telah terhidang secara paksa untuk melayani dan memuaskan kepala rampok itu sebagai tebusan keselamatan suaminya yang terkasih.
Tangan rampok yang tadi mencengkeram tungkai kaki kanannya semakin berani saja beraksi, kini tangan itu telah berpindah pada permukaan celah kewanitaannya yang masih berbentuk garis membujur yang rapat dihiasi oleh jembutnya nan merangsang. Perlahan jari tengahnya yang besar dan berkulit kasar milik lelaki itu menyusup pada belahan selangkangan korbannya yang sangat intim serta menemukan tonjolan daging klentitnya yang bermuara pada bulu-bulu kelamin gadis itu. Tak ayal lagi, klitoris gadis itu yang membasah menjadi sasaran empuk bagi jari-jari itu untuk menari-nari diatasnya. Gadis itu mengerang kegelian diperlakukan seperti itu, dan memang bagi setiap wanita, bagian itu adalah hal yang paling sensitif untuk membangkitkan hasrat dan gairah terlarangnya.
Aku turut menikmati bagaimana dalam setiap gesekan turun naik yang dilakukan oleh jari pria itu pada itilnya memberi pengalaman dan sensasi baru pada korbannya. Dan belahan vagina si perempuan semakin terbuka secara alami dengan adanya kuakkan yang dilakukan oleh jari yang tenggelam didalamnya. Daging klentit korbannya semakin lama semakin bengkak dan memerah berlumur cairan memeknya yang merembes dari lubang keintimannya itu.
Akankah nantinya dara belia ini akan mampu melayani kehendak dari lelaki perkasa tersebut? Mampukah vagina gadis muda duapuluhan tahun ini menerima kehadiran batang pelir sang lelaki gagah ini ?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi otakku disela-sela permainan birahi penuh paksa terhadap seorang gadis muda belia nan cantik sempurna yang tak lama lagi akan dipaksa melewati malam pertamanya bukan dengan suaminya nan tercinta, tetapi dengan sang kepala perampok durjana tersebut.
Mungkin sangat enak sekali apabila batang kontolku berada dalam mulut gadis itu, tetapi semuanya itu hanyalah fantasiku belaka saja, melalui pikiranku aku hanya dapat membayangkan kehangatan dari rongga mulut wanita muda itu yang basah tengah mengulum pelirku dan menjilati kedua bijiku pula. Akan enak sekali apabila ditambah dengan lidah mungil dara itu yang turut menari-nari di dalamnya mempermainkan batang kontolku di dalam. Ahh.. membayangkan hal tersebut membuat celanaku kini semakin basah oleh cairan pelumas yang berasal dari ujung lubang kontolku ini. Tetapi aku masih sayang untuk mengeluarkan air maniku, karena aku masih yakin sekali bahwa lelaki durjana itu tak akan melepaskan begitu saja korbannya sebelum berhasil menggarap tubuh dara belia ini. Sedangkan jari tengahnya itu masih saja tak henti-hentinya memainkan daging kelentitnya yang telah menegang kencang.
Hanya lima menit saja kulihat lelaki itu mempermainkan batang zakarnya memperkosa mulut gadis belia korbannya, sebab akupun menyaksikan mulut dara itu begitu menganga lebar membentuk bulatan dengan penis yang menjejali keluar masuk melewati celah-celah bibir mungilnya nan indah menawan dan merangsang kelelakianku pula. Nafas keduanya memburu seisi ruangan dan aku mulai merasa dari celah lubang itu terasa hawa pengapnya mulai terasa sekali diantara tersengalnya nafas sang dara jelita yang kerongkongannya tersumbat oleh kejantanan si garong. Erangan dan lenguhan silih berganti keluar dari mulut sang perawan belia ini ketika melayani lelaki tak dikenalnya itu sebelum akhirnya tibalah pada saat yang telah lama kuidam-idamkan.
Sang lelaki perkasa mencabut batang zakarnya yang telah berlumur air ludah dari mulut mungil dara cantik tersebut serta melepas pula jarinya dari klentit itu. Kelihatan sekali sisa-sisa ludah gadis itu telah membuat tonggak dagingnya semakin berkilat-kilat membasah dari ujung sampai kepangkalnya, juga lendir kemaluan dara itu telah menempel pada jari tangannya yang menggosok itilnya. Batang kontol perkasanya telah tegak mengacung menjawab tantangan birahi sang perawan.
Lelaki kepala rampok itu segera berpindah posisinya setelah tadi berdiri menghadapku, kini ia seakan berjalan dan menghadap kearahku. Rasanya tak akan ia memergokki aksiku, karena aku tahu bahwa ia sudah cukup terangsang oleh ritual pemanasan hubungan intim yang diberikan secara paksa oleh si gadis. Dengan punggung kekarnya yang telah membelakangiku, ia menaikki ranjang peraduan yang tadinya sengaja disiapkan untuk malam pertama dari ritual pasangan suami istri baru itu.
"Ayo manis.. bukalah pahamu sekarang..", pinta lelaki itu.
"Ahh.. jangan!! Belum puaskah engkau setelah tadi kau mempermainkan tubuhku?! Mau apalagi kau sekarang bajingan?!", air mata gadis itu mulai meleleh lagi membanjiri kedua pipi dari wajahnya yang begitu menjanjikan birahi setiap pria.
Wahh..gadis itu sudah berani melawan, pikirku.
"Aku bilang buka, yah buka!! Kau berani membantah, hah?!", bentak garong itu.
"Aku tidak mau!!", teriak gadis itu sambil beringsut ke pinggir ranjang serta menekuk kedua kaki indahnya yang mempesonaku. Tubuhnya semakin meringkuk di sudut tepian tonggak kayu penyangga kelambu ranjang pengantinnya.
"Coy!! Matiin!!", teriak lelaki itu kencang sekali memecah kesunyian malam hingga didengar oleh anak buahnya yang berada dilantai bawah.
"Ohh! Tidakk!! jangan lakukan!!", tangis gadis ini membahana di antara rontaan kedua belah tangannya yang asih terikat tak berdaya di punggungnya. Namun tetap saja sia-sia, karena ikatan tambang itu begitu kuat mengikatnya.
"Rasain!!..", pekik kepala garong itu, namun kali ini ia menarik dengan kasar celana dalam yang masih terkait di betis kiri korbannya yang menolaknya hingga robek, kemudian menyumpal mulut mungil dara itu dengan kain celana dalam gadis itu sendiri.
"Ouhfh... aaufh... mmpphhf!", percuma saja ia berteriak, karena mulutnya sudah tersumbat lagi kini.
Karena memang lelaki itu sudah niat sekali untuk memperkosanya, maka tubuh dara itu kini ditariknya, tangan kekarnya kembali menangkap kaki kiri gadis itu kemudian melucuti stocking hitamnya, lalu mengikat kakinya itu dengan utas tambang tepat menghadap kearahku. Tampak dalam penglihatanku telapak kaki mulus milik dara itu yang telah telanjang meronta-ronta saat diikat, apalah daya seorang wanita lemah seperti dirinya melawan tenaga dari lelaki tegap ini.
Sebentar saja kedua belah kakinya telah tergantung di tiang kelambu kiri dan kanan ranjang itu, bergerak-gerak dalam rontaannya yang tersia-sia. Ditariknya untaian kalung emas yang melingkar dileher jenjang gadis itu, juga gelang emas dikakinya dibetot sampai putus, kemudian dilempar oleh garong itu ke meja rias kamar itu. Mahkota pengantinnya juga dilucuti paksa serta sisa gaun pengantin yang melingkar dipinggangnya di cabik-cabik dengan sangat kasarnya oleh bajingan terkutuk itu.
Kini kedua tubuh kedua insan berlainan jenis kelamin itu telah terpampang telanjang dimukaku, betapa sempurna bentuk tubuh keduanya itu. Tubuh pria berkulit gelap ini sangat kontras warnanya dengan tubuh putihnya gadis itu yang mulus, betapa yang satu begitu tampak kasar dan perkasanya, sedangkan yang satunya lagi begitu halus kulitnya, benar-benar serasi dipandang mata. Aku terkagum-kagum dengan bentuk tubuh keduanya diantara merambahnya sang malam yang tengah menuju ke pukul setengah sebelas malam. Kusaksikan lelaki itu telah menempatkan dirinya diantara kedua belah kaki dara itu yang sudah terkangkang dengan kedua lubang ditubuhnya terlihat jelas olehku.
Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, lelaki itu menyibakkan bulu-bulu jembut sang gadis belia nan begitu menawan, dikuakkannya belahan bibir vertikal yang berbentuk aluran indah lubang surga itu, membuatku dapat pula menyaksikannya lagi isi dalamnya yang masih lembab dan memerah lengkap beserta kelentit basahnya yang telah membengkak. Menggairahkan sekali isi belahan daging kemaluannya yang direkahkan, sayang sekali aku hanya dapat melihatnya tanpa dapat menyentuh atau merabanya, apalagi menikmatinya. Isi dalam liang sanggama kepunyaan gadis itu masih terdapat sisa-sisa rembesan lendir surgawinya, bibir dalamnya agak berkedut-kedut saat lelaki itu mengintip memeknya, saking takutnya gadis itu tanpa sengaja menggerak-gerakkan otot vaginanya untuk menolak apa yang akan dilakukan sebentar lagi dari lelaki bajingan itu kepadanya.
"Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha", tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.
Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.
Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?
Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.
Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.
"Oughh...! Aaghh!", begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.
Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.
Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.
Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.
Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya.
Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.
Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.
Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.
"Arghh!", jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.
Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.
"Slep.. slep.. blessek..!", begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.
Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.
Bajingan itu terus menikmati jepitan dinding kemaluan gadis itu beserta selaput keperawanannya dan ia terus bertahan disitu tanpa melakukan satu gerakan apapun terlebih dahulu. Pertama, ia masih belum rela melepaskan kenikmatannya yang tak terlukiskan oleh kata-kata tatkala dinding keperawanan gadis korbannya itu sangat memberi kelembutan serta kehangatan yang tiada terkira untuknya, sebab ia tahu apabila begitu batang pelir yang telah terbenam seluruhnya kini ke dalam dasar kemaluan dara itu ia tarik ataupun dicabut, maka kesuciannya akan terenggut sudah.
Rasanya tak ada satu kenikmatan apapun di belahan bumi ini yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya kala bersetubuh dengan seorang wanita yang masih perawan. Dan yang kedua, ia memberi nafas kepada gadis belia yang ditidurinya itu agar memeknya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran kontolnya yang begitu sangat besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksa harus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belah pahanya yang terbuka.
Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang dirasakan gadis muda belia itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadani oleh seorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang teredam sumpalan kain celdamnya begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelaki perkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat gadis itu dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.
Sementara rambut hitam panjang sebahu milik gadis itu seakan terlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas kasur putih ranjang pengantinnya ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering dan kini telah tergantikan.
Didekapnya tubuh telanjang dari gadis belia yang kini berada dibawahnya dan dada bidang perkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang kanan yang begitu halusnya dari si wanita sehingga membuat kepala wanita tak lagi dapat bergolek kesana kemari.
Dijilatinya leher jenjang sang perawan itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan air liur kemenangannya. Puting susu sebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yang masih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.
Celana dalam yang tersumpal di belahan mulut mungilnya ditarik lepas dan langsung tergantikan oleh ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya sebelum gadis itu sempat mengeluarkan erangan dan rintihannya kembali. Kedua bibir dari insan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha mengait-ngait lidah wanita yang masih belia tersebut nan telah dicicipi kehangatan dan kelembutannya saat tadi mengulum batang zakarnya.
Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini sang dara hanya bisa pasrah merelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis, kadang bisa dibuat tegang kaku saat waktu lalu digunakan menyodok-nyodok celah lubang duburnya, kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya kini. Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kini kontol yang cukup lama terbenam di dasar memek itu kini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.
"Psshh...! sleph.. wes hewess..!", suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan proses terenggutnya kesucian gadis itu dimulailah.
Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari dalam belahan intim kemaluan gadis itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang memeknya dimana kulit-kulit kontol bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.
"Mmpphff! Ugh! Ughff!!", itulah suara rintihan dari seorang dara yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkala melepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.
Betapa hancur hati sang dara itu kini, tangisan pilunya mewarnai tragedi di malam pengantinnya ini mengiringi kepergian sang suami tercinta yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, sedangkan dirinya kini telah jatuh dalam pelukan lelaki lain yang sama sekali tak dikenal apalagi dicintainya, namun tubuhnya telah menjadi satu dengan jahanam itu dan semua yang ada diketelanjangannya berbaur sudah. Tak ubahnya tubuh gadis itu adalah tubuh lelaki itu, demikian pula sebaliknya, tubuh lelaki itu adalah merupakan bagian dari tubuhnya kini. Ya! Mereka telah menjadi satu tubuh sekarang dalam adegan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki dan seorang perempuan nan telah dewasa dalam ikatan benang merah perkawinan.
Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsu hewaniah. Tubuh telanjang gadis itu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggul lelaki itu diantara kedua kaki indah nan mengangkang menggetarkan hatiku itu. Aku berkhayal andaikata saja gadis ini menjadi istriku, maka aku akan meminta jatah ranjang padanya setiap malam, dan aku akan meningkatkan staminaku untuk membahagiakannya. Mungkin madu dan telor akan menjadi menuku sehari-hari dan aku akan mengenjot terus tubuh telanjang mudanya yang aduhai begitu sempurna keindahannya bagaikan seorang dewi yang turun dari langit saja layaknya sampai sang pagi datang menjelang.
Ikatan tambang yang mengikat erat kedua kakinya ini kini dilepaskan oleh lelaki durjana itu, karena ia telah yakin bahwa kini korbannya telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pula oleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentang kencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang terjepit ketiak itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubang memeknya dan tubuhnya yang sudah bermandikan oleh peluh persebadanannya itu terhempas-hempas dibuatnya.
Oh seperti inikah yang dinamakan kenikmatan dari surga dunia? Saat kontol lelaki itu keluar masuk di lubang kenikmatan si wanita? Tapi yang pasti aku sangat yakin sekali kenikmatannya tak sebanding dengan diriku yang hanya bisa beronani saja, padahal aku yang hanya menonton saja adegan nikmat itu berlangsung sudah sedemikian nikmatnya, apalagi bila aku yang melakukannya terhadap gadis itu?
Dengan posisi setengah jongkok lelaki jahanam itu terus menggenjot tubuh belia yang masih begitu kencang dan padat diusia mudanya. Kedua tungkai paha gadis itu kini ditekan oleh kedua tangannya sehingga kangkangannya semakin jelas dan lebar dimataku dengan kedua tumit kaki indahnya bertumpu pada kedua belah pundak berkulit gelap sang pemimpin perampok tersebut. Wajah cantiknya yang tergerai rambut hitam panjangnya semakin tengadah membelakangiku hingga aku hanya dapat melihat dagu lancipnya saja nan cantik mempesona itu. Kedua kakinya semakin tertarik keatas bertopang pada pundak kiri dan kanan sang lelaki jahanam yang telah leluasa menikmati kehangatan tubuh mudanya itu.
Dalam posisi yang sebegitu rupa ini membuat bongkahan dari pantat gadis yang berkulit putih mulus licin itu semakin mencuat keatas mempertontonkan lonjakan-lonjakan kejantanan lelaki itu yang masih terlihat seret keluar masuk pada memeknya. Kedua biji pelir lelaki itu yang terpontang-panting menabrak-nabrak jalan masuk lobang pantatnya semakin nyata mengiringi lelehan lendir kewanitaannya yang telah bercampur aduk dengan darah kesuciannya nan terus menggenangi mulut vaginanya dan dijadikan bulan-bulanan olehnya.
Cairan surgawi kepunyaan gadis itu telah merembes sampai membasahi lubang anusnya yang begitu kecil tak berdaya nan berwarna merah muda sungguh menawan hati ini beserta bercak-bercak darah keperawanannya yang telah direnggut serta dicicipi lendir madunya itu. Ranjang mahligai indah kamar pelaminan yang menjadi tempat tumpuan adegan persetubuhan mereka itupun mulai berderit-derit seiring dengan suara decakan peret pada lubang kemaluan dara yang digagahi oleh kepala bajingan zina ini.
"Ough... ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh... Ouh", seloroh bangsat itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan daging belia korbannya ini.
"Ahh...! ahh..! aduhh..! perih Mas.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh.. ahh", pinta dara itu akhirnya.
"Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..", balas lelaki itu yang asyik mengentoti memeknya di hadapanku.
"Sshh.. ahh... sshh.. ohh.. pelan-pelan mas.. ahh.. ahh.. ahh", pintanya di sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
"Jangan ditahan terus dong kontolku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh", perintah bangsat itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelas bibir memeknya yang melesak ke dalam dan memonyong ke depan mengikuti hunjaman pelir besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya menghadapku.
Liang anus gadis itu juga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji pelir lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat dara itu yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang itu kepada diriku.
Kedua tubuh itu terus bergumul seakan tak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkan lagi dalam gelora nafsu membara yang menyala-nyala dikamar yang telah pengap dan sesak oleh permainan asmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.
Bahkan ketika aku mendekatkan hidungku pada lubang dinding kamarku, ternyata lewat endusan nafasku aku dapat pula membaui aroma rasa dari memek gadis itu yang telah sembab membasah dan ini pengalaman pertamaku dapat mencium bau pesing memikat nikmat yang khas dari celah memek seorang wanita nan masih begitu muda belia ini setelah berhasil membedakannya dari aroma pekat batang pelir lelaki itu. Bau-bau itu menyatu menghasilkan sensasi aroma persetubuhan yang melenakan aku untuk terus membuka mata pada malam yang telah larut itu.
Tak lama kulihat tubuh telanjang gadis itu yang berada dibawahnya terlejang-lejang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua. Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh bugilnya tanpa sehelaipun kain menutupi kulitnya lagi. Kedua kakinya kini menendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh polosnya itu dan belum lagi kelojotan dara itu terhenti, lelaki itu segera mencabut pelirnya dari dalam lubang memeknya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.
"Wess hewess.. poof!!", begitulah suara yang dihasilkan saat pelir kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan sang dara yang telah kehilangan keperawanannya ini.
Sekujur kulit luar dari kontol nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir memek yang bercampur dengan lumuran darah segar kesucian sang dara cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari ranjang pelaminannya sehingga ujung jari kaki yang dihiasi kutek bening transparant itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Kedua otot dari jari-jari kaki indahnya mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat berada pada wajah lelaki itu yang menadahkan lidahnya pada perbatasan antara belahan bibir memek gadis tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.
Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yang bengap dan basah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehan lendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telur burung puyuh. Cairan yang keluar dari memek itu langsung ditelan oleh lelaki itu dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan memek korbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Tubuh telanjang dara itu kini terjerembab pada hamparan kain sprei putih ranjangnya yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya pula selain dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuhnya kini yang telah lusuh tanpa tenaga lagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh telanjang gadis itu yang rmaping itu dibalikkan secara paksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.
Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging menghadap penglihatanku. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itu dengan mengambil gaya dari anjing yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi membuka pantat itu dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buang hajat. Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkan dengan nilai kenikmatan yang dapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpacar dari dalamnya.
Setelah puas menjilati dubur dari sang pengantin perempuan yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang pelirnya kembali ia selusupkan ke dalam memek gadis itu yang telah kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa memeknya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupun harus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparat hukum.
Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya. Kedua insan yang sedang kawin ini tak henti-hentinya mengajariku bagaimana cara melakukan hubungan intim suami istri dalam posisi yang lain dari biasanya.
Menjelang tengah malam, kusaksikan lagi tubuh telanjang dari itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula ia disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Mataku telah agak berkunang-kunang menyaksikan pemandangan tersebut, padahal aku selalu berganti-ganti mata kala mengintip adegan dewasa antara keduanya yang terus berlangsung. Malangnya aku melihat dara itu tak sadarkan diri lagi usai mencapai puncak surga duniawinya dari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.
Kalau diamat-amati rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti kepala garong yang sadis ini namun dapat memberi kebahagiaan badani pada wanita korbannya itu. Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh memek gadis itu pada puncak kenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudian menggenjot kembali tubuh si gadis belia ini dengan brutal.
Tampak di penglihatanku sekarang pompaan pelir lelaki ini pada memek korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan sprei dibawahnya itu telah benar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja dara itu tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti memeknya akan terasa nyeri diperlakukan sedemikian brutalnya oleh perampok bajingan tersebut.
Barulah kulihat pada pukul setengah satu pagi, tubuh lelaki itu bergetar hebat diatas tubuh korbannya yang pingsan untuk sekian lamanya dan tanpa sepengetahuan gadis muda belia nan cantik ini, bajingan ini memuntahkan segenap akhir puncak dari nafsunya yang meledak-ledak kedalam tubuhnya. Paha yang terbuka membentuk huruf "V" dari tubuh gadis itu ditekannya kuat-kuat. Tubuh kekarnya seakan telah lekat menjadi satu dengan korbannya dan tanpa aku sadari sebenarnya lelaki itu sedang memuntahkan seluruh persediaan cairan mani lelakinya yang sejak tadi tersimpan di kedua belah biji pelir besarnya nan perkasa. Tanpa sepengetahuanku sama sekali cairan kontol lelaki itu yang mengandung benih-benih cintanya kini muncrat-muncrat mengisi rongga rahim gadis itu yang tengah dalam keadaan subur malam itu.
"Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!", benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan memek gadis itu yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali ini.
Bahkan aku kini dapat melihat rembesan lendir mani lelaki jahanam itu keluar dari celah-celah memeknya yang masih menelan penuh keseluruhan dari batang kontol perkasanya itu didalamnya sampai melumuri lubang anusnya, bahkan sampai menetes-netes ke permukaan sprei pengantin itu dibawahnya setelah meleleh di bongkahan pantat sang dara belia yang terkalahkan. Saking terlampau banyaknya lendir nista dari lelaki itu sehingga membuat seluruh rongga rahim gadis belia nan mungil ini kini tak sanggup lagi untuk menampung semuanya.
Dan kini kedua tungkai kaki milik gadis yang masih tak sadarkan diri ini diangkat tinggi-tinggi oleh sang bajingan tersebut hingga belahan bongkahan daging pantatnya yang terbuka telah sejajar dengan dada berbulu milik sang lelaki jantan penakluk si kembang desa ini. Permukaan dada itu digesek-gesekkan pada bongkahan pantat dara bunga yang telah berhasil dipetik keindahannya ini olehnya seraya menyaksikan memeknya yang telah banjir dilumuri oleh lendir putih kentalnya.
Dalam posisi yang setengah menggantung demikian tubuh telanjang dara itu hanya dapat bertumpu pada kedua belahan pundaknya yang tertekuk seperti udang dengan kedua kaki terbuka mengangkang diudara. Alhasil belahan lubang memeknya yang telah penuh oleh cairan lendir mani lelaki itu terjungkit keatas dan agaknya memang lelaki itu menginginkan tubuh korbannya bertahan pada posisi itu agar benih spermanya yang telah ia muntahkan tadi dapat membuahi rahim korbannya ini. Benar-benar kepala rampok itu seorang maniak tulen yang sangat dahsyat dan brutal aksinya tersebut serta membuatku semakin ngeper saja karena takut tertangkap basah pula olehnya. Sepuluh menit ia hanya terpaku sambil tetap menahan tungkai kaki gadis itu yang terkapar tanpa perlawanan lagi dan terus terpekur menatap lubang kencing pada selangkangan dara ini nan merekah.
Kepala rampok itu turun dari ranjang pelaminan korbannya dengan senyum kemenangan, ia segera mengemasi perhiasan-perhiasan yang tadi gadis itu kenakan, bahkan cincin kawin berlian kepunyaannya telah dilolosi pula dari jari manis lentiknya yang masih belum sadar dari pingsannya setelah dinodai oleh lelaki ini. Dilantai bawah kamar pengantin itu telah berserakkan oleh ceceran kain yang dulunya melekat ditubuh keduanya dan diraihnya sepatu putih sang mempelai wanitanya untuk kemudian diendusi dalamnya tempat kaki gadis itu biasa melekat disitu.
Tampaknya ia sangat menikmati hal tersebut, lalu celana dalam gadis itu juga kembali diciuminya sampai aku berpikir bahwa lelaki ini benar-benar telah dibatas ambang normal manusia pada umumnya. laci meja riasnya diacak-acak dan mengambil barang-barang berharga yang terdapat didalamnya, demikian pula isi lemari pakaian korbannya lalu semuanya dikumpulkan dalam satu kantung plastik hitam siap untuk dibawa pergi. Setelah itu ia keluar dari kamar itu meninggalkan tubuh gadis belia yang telah digagahinya secara sadis sepanjang malam sambil membawa ceceran pakaiannya sendiri.
Kira-kira pada pukul satu dini hari, tubuh kepala rampok itu meloncati pagar sambil menggendong karung hasil rampasannya dari rumah sebelah sebelum menghilang di kegelapan malam. Tubuh dara itu masih terbujur lemas di ranjangnya, namun kini aku melihat salah seorang anak buahnya membuka pintu kamar dimana gadis belia ini tertidur. Sambil mengendap-endap dirinya mendekati dan menaikku ranjang peraduan itu dengan tersenyum-senyum mesum. Tangannya yang kurang ajar mencolek-colek tubuh telanjang itu serta berusaha membangunkan tubuh dara molek itu yang masih terlentang indah menantang di matanya ini.
Demi mengetahui bahwa gadis ini sudah pingsan, ia merentangkan kedua belah gadis itu membentang terkangkang. Dilihatnya memek wanita muda cantik nan dihiasi jembut kemaluannya telah penuh oleh ceceran sperma yang telah mengering disana-sininya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dicelupkan kedalam belahan terlarang dari gadis itu nan terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak dinding keintiman yang berada didalamnya. Ketika dikeluarkan kedua jari itu telah berlumur cairan vaginanya yang telah menyatu dengan bercak darah kesuciannya disana sini sebagai bukti nyata bahwa keperawanannya sudah dimakan oleh bossnya dan dialah lelaki pertama yang berhasil memerawani tubuhnya.
Walaupun begitu ia tetap akan mengambil jatah bagiannya pula untuk menggarap gadis tersebut dengan berpatokan bahwa memek wanita bisa untuk di "salome", alias satu lobang untuk rame-rame. Ia mengambil plester dari saku celananya lalu memplester rapat kedua mulut bibir dara itu yang terkatup, lalu kedua tangannya dijadikan satu ke atas kepalanya kemudian diikatkan dalam posisi berdiri diatas papan atas yang membentang diatas tiang kayu kelambu ranjang perkawinan itu dengan susah payah ia merengkuh tubuh telanjang si dara yang masih lemas itu agar dapat diatur posisi enakknya untuk digarap olehnya.
Pada laci meja rias gadis tersebut kini ia menemukan sebotol parfume yang beraroma tajam, lalu ia lekatkan ke lubang hidung gadis itu untuk menyadarkannya. Dara itu membuka kedua belah pelupuk matanya yang cantik. Bola matanya yang bulat bersih bersinar itu kini terbeliak terkejut mendapati dirinya sudah tergantung dengan kedua tangannya telah terikat diatas kepalanya. Lelaki itu dengan liarnya telah mengemuti puting payudaranya dan sudah dalam keadaan telanjang pula, ketiak dara ini tak luput dari sasaran sapuan lidahnya yang sudah konak ini. Betapa malang nian penderitaan yang harus ditanggung oleh gadis belia yang telah ternodai sedangkan suaminya telah dibantai secara keji para garong itu tanpa ampun.
Lelaki yang kedua ini membasahi sekujur tubuh bugilnya nan begitu sedap dipandang mata serta menawan hati segenap pria dan aku yakin takkan ada seorangpun lelaki yang akan menolak bersebadan dengannya. Seperti mandi kucing saja ia menikmati setiap lekuk liku tubuh telanjang gadis itu yang membakar birahi kejantanannya kini sampai sekujur tubuh gadis itu dilumuri semua oleh cairan ludahnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa perlawanan yang berarti. Kulihat tatapan gadis itu telah kosong kedepan saat dicumbui lelaki kedua yang merupakan salah satu anak buah dari ketiga garong yang menyatroni rumah barunya ini.
Harga dirinya telah hancur lebur serta kehormatannya telah hilang dari tubuhnya. Sang bunga desa yang sedang mekar-mekarnya ini di tengah usianya nan belia telah terpetik sudah. Keperawanannya telah ludes tandas dicicipi para lelaki laknat ini. Lelaki kedua ini telah berdiri berhadapan dengan tubuhnya yang telanjang siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan tungkai kaki kiri gadis itu yang dalam posisi berdiri tersebut ditekuk lututnya dan ditahan oleh lengan kanannya sehingga setengah mengangkang.Batang pelirnya yang tak sebesar kepunyaan bossnya tadi tampak sudah tegang mengacung. Diarahkannya kontolnya itu ke dalam belahan lubang kencing gadis itu untuk kemudian dibenamkan secara paksa.
"Bless.. blesek!", habislah sudah kontol itu tertelan oleh memek cewek nan cantik ini. Dientotnya cewek pengantin ini dengan tak kalah buasnya dengan sang bossnya tadi.
Meskipun sang malam telah turun dari peraduannya, namun tak membuatku menjadi mengantuk, malahan aku semakin bersemangat saja menyaksikan aksi pelecehan seksual yang tengah dilakukan oleh lelaki kedua ini terhadap korbannya. Birahinya begitu meletup-letup saat mengentoti vagina gadis malang ini. Kedua belah testisnya menampar-nampar pantat dara ramping nan montok begitu menggemaskan itu. Pinggul lelaki itu bergoyang-goyang luwes diantara rekahan pahanya yang terbuka. Kaki kirinya sang dara yang tengah dientot sambil berdiri oleh lelaki ini tampak terguncang-guncang hebat.
Kedua tubuh yang menyatu di malam itu seperti pertunjukkan tarian striptis nan penuh dengan nuansa erotis. Rambut hitam panjang sebahu gadis itu bahkan sampai tersibak-sibak kekanan dan kiri dari sisi wajahnya yang sudah tanpa ekspresi lagi. Pompaan pada tubuhnya yang tergantung itu terus dilancarkan oleh lelaki kedua ini nan bertubi-tubi menghujam kedalam lubang intimnya seakan tiada henti-hentinya. Punggung belakang dara belia nan polos itu dielus-elus oleh tangan-tangan jahil yang kurang ajar dari bajingan kedua ini. Kulit montok nan halus itu begitu licin dan sensual saat diraba disela-sela entotan pada bibir memeknya yang telah penuh oleh sumpalan batang pelirnya, sehingga turut bergelinjang meliuk-liuk manja dalam dekapan pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang sangat cantik luar biasa ini.
Tidaklah munafik bagi setiap wanita yang saat digauli oleh seorang lelaki baik dalam keadaan terpaksa ataupun tidak, sesuai kodratnya sebagai seorang perempuan yang harus melayani kemauan lelaki lambat laun akan tunduk jua. Demikian pula dengan gadis itu yang dari memeknya kini juga telah dibasahi oleh lendir kemaluannya kembali dan semakin membuat batang pelir lelaki itu semakin berkilat-kilat ditengah aksinya keluar masuk menggesek-gesekkan dinding vaginanya.
Sungguh sedap pemandangan yang disajikan oleh mereka berdua dihadapanku ini dan sungguh beruntung sekali mereka-mereka ini yang mendapati seorang cewek cantik yang masih belia sebagai penghangat malam. Padahal aku dan mereka cuma dibatasi oleh tembok seukuran satu belah batu bata saja. Tetapi jika aksiku ketahun oleh mereka, maka mereka juga tak akan segan-segan membunuhku karena cuma aku yang satu-satunya orang yang menjadi saksi mata dari kejadian tragis yang menimpa seorang kembang desa yang digilir para perampok tepat pada malam pengantinnya sendiri.
Akupun tak tahu setelah kejadian ini berakhir pada hari-hari selanjutnya, akankah gadis itu akan menjadi hamil mengingat bahwa malam itu sangat bertepatan dengan masa subur di rahimnya dan sperma kepala rampok tadi telah berhasil bersarang penuh didalamnya serta sudah terserap pula kedalam rahimnya kini.
Sedang asyik-asyiknya kedua pasangan insan ini larut dalam ritual persetubuhannya, pintu kamar itu kini terbuka lagi dan masuklah sosok lelaki ketiga yang baru kelihatan kali ini setelah lepas tugasnya untuk menjaga pekarangan depan rumah pengantin baru itu. Setelah melihat perkembangan situasi yang akan terus aman dan terkendali, akhirnya ia memberanikan diri juga untuk naik keatas dan masuk kamar tempat kedua pasangan ini tengah bergumul dalam ajang arus pelepasan birahi mereka.
Sambil cengengesan lelaki ketiga ini memandangi kejadian di depan matanya saat gadis korbannya sedang dikerjai oleh temannya itu. Dengan mengedipkan sebelah matanya kepada temannya yang tengah asyik masyuk menyetubuhi dara belia ini, maka mengertilah ia akan tanda yang diberikan tersebut. Sebagai jawaban sinyal tanda yang diberikan oleh temannya tersebut, lelaki kedua ini mempergunakan tangan kirinya pula untuk menekuk serta menaikkan tungkai yang sebelah kanan milik gadis tersebut hingga membuat tubuh korbannya ini berada dalam gendongannya dengan kedua belah kakinya telah mengangkang menjepit pinggangnya nan masih menari-nari dihadapan perut rampingnya nan telanjang memukau itu.
Sang lelaki ketiga kini berjongkok dibelakang punggung dara belia yang masih terguncang-guncang dientot dalam gendongan temannya itu, kemudian membuka bongkahan pantat nan padat berisi itu serta menemukan apa yang ia carinya disitu. Tampak pelir temannya masih tertanam di belahan memek korban aksi mereka ini dan masih terus bergerak keluar masuk serta telah berkilat basah oleh lendir persetubuhan keduanya yang menyilaukan matanya. Namun bukanlah itu yang ia cari, hanya bokong dara itu yang menjadi sasarannya dan matanya tertumpu pada lubang mungil dibawahnya, yakni celah dubur kecil milik korbannya ini.
Kedua ibu jari tangannya membuka bokong gadis itu sehingga lubang anusnya sedikit terbuka dihadapannya, namun agak susah juga karena pantat gadis itu dalam keadaan terhempas-hempas oleh sodokan pelir temannya tersebut. Jari kelingking kasarnya ia basuh terlebih dulu dengan cairan ludahnya. setelah itu ditusukkannya kedalam celah sempit lubang dubur cewek belia nan tak berdaya ini. Sia-sia saja cewek pengantin ini berteriak karena redaman plester di mulutnya begitu ketat, sedangkan untuk menolak perlakuan lelaki ketiga itu percuma saja, sebab tubuh telanjangnya telah terjepit ditengah-tengah kedua pemerkosanya.
Kelingking lelaki ketiga itu telah masuk kedalam lobang pantatnya, terasa jepitan otot duburnya yang seperti cincin melingkar pada pintu anusnya begitu ketat dan kuat sekali. Lalu setelah itu jari itu tembus kedalamnya dan hanya terasa sempit pada luarnya tetapi didalamnya terasa lega dan agak lunak-lunak juga ada hawa panasnya pula. Ditariknya keluar jari itu, tampak sedikit kotoran tersisa dari dalamnya kemudian ia melakukan hal serupa kepada lubang anus itu tetapi menggantinya dengan jari telunjuknya setelah diludahi pula. Seperti halnya jari kelingkingnya tadi, ia pun sekarang memuntir-muntirkan telunjuknya yang telah menancap didalam dubur gadis belia ini untuk membuka ruang gerak didalamnya yang nantinya akan ia pergunakan sebagai ajang pemuas nafsu sexnya.
Rupanya lelaki ketiga ini adalah seorang pecinta anal sex dan dia tak akan segan-segan memerawani pantat wanita itu. Jeritan kesakitan gadis itu sama sekali tak membuatnya terganggu, malahan ia semakin terangsang membuka celah anus itu dan hal itu dulanginya lagi tetapi kini telah menggunakan batang telunjuk serta jari tengahnya yang dibenamkan secara bersamaan menguak isi dalam lubang pantat cewek dua puluh tahun ini. Dirojok-rojoknya anus gadis itu yang selama ini tidak pernah dimasukki oleh benda asing sekalipun, namun kini telah dipaksakan untuk membuka dan menjepit kedua jari dari lelaki ketiga ini sekaligus. Belum lagi pelayanan yang harus ia penuhi untuk memuaskan pelir temannya yang masih terus menikmati jepitan memeknya nan telah bengkak memerah akibat digilir paksa secara berkesinambungan oleh para bajingan terkutuk itu.
Setelah puas bermain-main dengan kedua jarinya menelusuri dalam dubur si wanita, lelaki itu mencabut jari-jari itu dari dalamnya dan kini mulut lubang anus itu tidak bisa mengatup rapat seperti semula serta menyisakan celah lubang kecil seukuran ujung ibu jari. Aroma yang terpancar dari anus sang cewek cantik ini terasa pekat dihidungnya. Wajah lelaki itu terbenam kembali diantara bongkahan pantat nan jelita, sertamerta celah lubang dubur yang terbuka ini disusupkan oleh lidah lancangnya menjelajahi jalan anal si gadis muda nan masih begitu belia ini. Tarian lidah itu semakin menggetarkan tubuh gadis itu yang membuat kepalanya semakin tergeleng-geleng menggelepar-gelepar dalam kebungkaman mulutnya yang terplester rapat menyesali ke tidak berdayaannya diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemerkosa itu.
Lidah lelaki itu dirasakannya seperti menyakiti pantatnya tetapi juga begitu sangat menggelitik-gelitik anusnya laksana kenikmatan yang didapat pada saat cebokkan saja layaknya. Memang demikian kenyataannya, bahwa lelaki itu tengah mencebok lobang pantatnya tersebut dengan lidahnya sampai licin tuntas sudah diantara jeritan kesakitannya. Habislah sudah anal dari sang mempelai belia ini menjadi bulan-bulanan permainan dari si bangsat yang satu ini. Semakin gencar lidah itu menelusup didalam pantat molek tersebut, maka semakin terbuka lebar pula lubang anus berwarna merah muda merangsang itu merekah nan jatuh dalam dekapan si lelaki sialan yang ternyata suka sekali mengemuti pantat milik seorang wanita seperti dirinya ini.
Sang lelaki ketiga kini berdiri merapat dibongkahan pantat gadis belia ini dari arah belakang, kemudian batang pelirnya ia tempelkan tepat pada jalan masuk celah anus yang telah ia buka tadi, siap membenamkan kontolnya untuk menyodomi pantat sang dara cantik menggemaskan lambang kepuasan lelaki ini. Cewek ini mati kutu sudah dalam keadaannya yang terjepit itu tak ada usaha perlawanannya lagi yang berguna sekalipun selain daripada menerima kenyataan yang ada bahwa ia akan disodomi oleh lelaki ketiga ini.
Dan perlahan-lahan anusnya yang terkuak dipaksa untuk menelan pelir seorang lelaki dewasa. Meskipun begitu tersendat-sendat dan seret pelir itu mulai terbenam ke liang duburnya yang sempit. Diperawanilah lubang pantat milik dara belia cantik korbannya sembari dibantu oleh temannya yang masih menunjang tubuh telanjang dara itu. Namun tangan temannya yang tadinya menahan kaki gadis itu kini berpindah merengkuh bongkahan daging pantat serta membantu penetrasi pertama yang dilakukan lelaki ketiga ini kedalam belahan anus sang perawan yang telah ternoda.
Setengah ukuran zakarnya telah terbenam dalam muara anus itu yang sertamerta langsung membuat lonjakan-lonjakan hebat pada tubuh telanjangnya yang terlarang terjepit dalam ketiada berdayaan nana dipaksa melayani dua orang lelaki sekaligus. Untung saja rembesan lendir memeknya yang mengalir lewat sela-sela kedua bibirnya yang tersumbat oleh zakar lelaki pula nan telah merembes ke permukaan duburnya turut membantu melicinkan kontol yang melesak di anusnya.
Perlahan tapi pasti akhirnya kejantanan lelaki ketiga itu telah tertelan ke dalam lobang pantatnya yang kini menganga seukuran diameter kontol tersebut serta menjepitnya. Kini selangkangan gadis itu telah dipenuhi oleh kedua batang pelir lelaki-lelaki pemerkosanya yang bergantian keluar masuk didalamnya. Tubuh montok nan telanjang indah dari gadis itu kini bagaikan daging roti sandwich yang terjepit ditengah-tengah arena maksiat persetubuhan terlarang antara mereka yang tak lazim untuk dilakukan tersebut, dan tragedi di malam pengantinnya ini benar-benar laksana mimpi buruk baginya yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Karena letih terus menggendong tubuh dara itu, lelaki kedua memberi tanda untuk berganti posisi. Tangannya yang terikat keatas kepalanya diturunkan, lalu tubuhnya dipaksa untuk menungging diatas ranjang pengantinnya lagi dengan posisi bokongnya tetap menghadap padaku. Lelaki ketiganya menyelusup dibawah tubuh korbannya yang sudah menungging dan agaknya sang lelaki kedua juga ingin merasakan hangat dan lunaknya anus korbannya. Lelaki ketiga memeluk tubuh itu dari bawah berhadapan dengan payudara gadis itu yang tergantung tepat di antara mukanya. Kontol bekas memerawani anus dara itu kini dibenamkan ke dalam vaginanya yang telah becek. Dengan liarnya ia menyedoti payudara indah yang menggantung tepat didepan wajahnya bergantian sampai penuh dengan air liur disekitar puting susu korbannya seraya meremas-remas penuh nikmat.
Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran kontol lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.
Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatnya yang terbuka secara nyata didepanku. Agaknya dara itu sebelumnya telah membuang hajatnya terlebih dahulu setelah pulang tadi, karena anusnya yang tengah diaduk-aduk oleh kontol lelaki itu telah bersih dari kotorannya pula. Sudah tak ada lagi sisa-sisa kotorannya nan lekat pada batang pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi anusnya tersebut tanpa peduli sama sekali pada rintihannya.
Laksana diperlakukan sebagai seorang wanita pelacur saja mereka terus menikmati kehangatan dan kelezatan lubang-lubang yang terletak pada area selangkangan indah menawan ditubuhnya. Kedua jari-jari di telapak kaki gadis belia ini sampai tertekuk-tekuk akibat guncangan-guncangan yang dilakukan oleh kedua tubuh kekar dari para lelaki lancang ini nan semakin melekat begitu erat pada bokongnya. Tawa-tawa para pemerkosanya yang tengah menggarap tubuhnya semakin membuat dara itu tidak mempunyai martabat lagi dan dirinya kini sudah menjadi korban kebiadaban dari perbudakan nafsu perampok-perampok tersebut.
Celah-celah pantatnya yang begitu menggairahkan masih dihiasi oleh tancapan kedua pelir lelaki itu yang masih bergoyang-goyang memilukan otot-otot syahwat pada vagina dan duburnya gadis ini. Kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini begitu pahit dan terlalu getir untuk gadis seusianya nan baru saja mekar tetapi sudah terpetik layu.
"Wuihh.. uhh.. gak sangka kalau pantat nih cewek sempit banget coi!", seloroh lelaki ketiga disela-sela genjotannya pada anus gadis itu.
Suara anus itu berdecak-decak nyata di telingaku dan sudah keliatan lebam dan memerah bibir duburnya yang telah diperawani oleh pelir lelaki.
"Oh ya? Kalau gitu gantian dong, aku juga ingin merasakan bagaimana enaknya mengentot pantat perempuan ini", balas lelaki kedua yang masih keenakan pula menggoyang memeknya dan menimbulkan suara berkecipak di dalamnya itu.
"Mmmh..! mmhh..! ammhh!", erang gadis itu dalam bungkaman plester di mulutnya.
"Jangan berisik non! Percuma, tidak bakal ada yang mendengar, lebih baik kau menurut saja, ayo sana balik!", perintah lelaki ketiga yang langsung merengkuh tubuh telanjang dara itu dari posisi menunggingnya.
Kini mereka berganti posisi dengan lelaki kedua masih terlentang dibawahnya, gadis itu ditelentangkan dengan kedua kaki terkangkang diatas tubuh lelaki kedua yang terbaring atasnya untuk dipaksa menduduki pelir lelaki itu menggunakan lubang anusnya itu.
"Ohh.. ohh! Betul juga katamu.. pantatnya lebih sempit nih!", puji lelaki kedua yang pelirnya telah terbenam di mulut anus gadis itu dan hanya menyisakan rimbunan jembut lebat hitamnya dengan kedua testis menggantung pada pangkal bongkahan pantat gadis itu.
"Sekarang kamu miringkan badan dong! Aku belum kebagian nih!", tukas lelaki ketiga pada temannya yang memiringkan badannya sehingga tubuh montok dara itu jatuh kesamping berbarengan ikut miring bersamaan dengan lelaki kedua namun masih dengan anus telah tertancap diselangkangannya.
Kaki kanannya telah lurus selonjor diatas ranjang, namun kaki kirinya semakin ditekuk lututnya keatas ditahan tungkainya oleh lutut kiri lelaki yang memperkosa anusnya yang juga membuka kakinya setengah tergantung di udara. Kini lelaki ketiga merebahkan tubuhnya pula dalam posisi miring sehingga kedua tubuh telanjang kedua lelaki itu kembali mengepit tubuh dara yang berada ditengah-tengahnya seperti sepotong hamburger.
Kontolnya diselusupkan kembali ke lubang memek dara itu yang masih terbuka bekas digilir oleh sang boss dan lelaki kedua tadi. Mereka mengayuh biduk liar bahtera hewani nafsu syahwat pada tubuh korbannya yang tak telah lunglai kehabisan tenaga digilir tak berkesudahan di malam yang seharusnya menjadi malam indah bagi diri dan hidupnya.
Seumur-umur dia tak akan menyangka bahwa malam ini ia akan mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupnya, betapa tidak..malam yang seharusnya ia dapatkan dari belaian lembut seorang lelaki terkasih yang menjadi impian hatinya itu kini telah sirna. Khayalan dirinya akan dipeluk mesra bersama sang suami tercinta dan mereguk cinta yang telah mereka rajut berdua kini telah musnah semua akibat ulah para perampok yang menyatroni rumahnya dan menzinahi dirinya.
Tulang kering kaki dari kedua lelaki yang kekar itu bersilangan menahan betis dari pahanya nan terkuak keatas bergoyang-goyang diantara decak-decak suara yang keluar dari ayunan dahsyat kemaksiatan mereka bertiga. Pelir lelaki itu kali ini begitu seakan benar-benar merojok-rojok vaginanya sampai menggesek-gesek umbai kelentitnya yang semakin mekar memerah membasah ini. Terus menerus menghadapi siksaan ini sekaligus membendung sensasi dari nafsu liar para perampok sadis itu yang memperkosanya secara brutal membuat sang dara terpelanting-pelanting didera orgasmenya kembali. Tubuhnya yang melejang-lejang kencang itu kembali meliuk-liuk dengan sebelah betis indahnya yang berada diudara nan terganjal oleh kedua kaki para pemerkosanya menendang-nendang diudara berikut desahan puncak kenikmatannya dalam bungkaman plester.
"Mmhh! mm.. mmhh!! mmhmmhh!!", jerit dara itu meledak diselingi oleh lekukan tubuhnya yang mengejang dengan seluruh otot diselangkangannya semakin menjepit erat kedua pelir para pemerkosanya itu. Lelaki kedua yang pelirnya berada dianus wanita itu menjadi terlonjak-lonjak menerima sensasi dari empotan lubang dubur korbannya yang tengah mengalami ledakan-ledakan dahsyat orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.
"Uhh... uhh.. uohh! aku jug mau kel.. u.. ar.. nih!", jerit lelaki kedua yang rupanya sudah tak tahan menahan orgasmenya pula, apalagi sejak mencobai lobang pantat gadis itu yang terasa sesak luar biasa menjepit pelirnya membuatnya ingin menuntaskan sudah birahinya pada sang korban.
Iapun langsung mencabut keluar pelirnya yang tertanam di anus gadis belia tersebut, bergegas turun dari ranjang dan sambil berdiri merobek plester di mulut korbannya itu lalu membenamkan kejantanannya disana sambil menjambak rambut gadis itu ia menghentak-hentakkan kepala dara belia tersebut untuk ditumbuk-tumbukkan pada selangkangannya yang berbulu lebat itu.
"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.
Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.
Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.
Tubuh kekarnya semakin liar mengempos dubur korbannya yang telah lunglai habis-habisan ini digilir sejak tadi, sebelah kakinya yang setengah jongkok itu kala mengentoti anus korbannya diangkat seperti anjing yang sedang kencing serta lututnya menumpu pada bongkahan pantat gadis tersebut sambil terus mengenjot tubuh perempuan belia yang telah takluk padanya. Tubuh keduanya tampak semakin licin berkilat oleh peluh mereka yang menyatu menghiasi adegan intim nan penuh paksaan semalam suntuk ini.
Karena lama bertahan lama dalam posisi itu, aku melepaskan aksi intipku dulu untuk membuat secangkir kopi hangat sebagai penahan rasa kantukku yang mulai melanda kedua pelupuk mataku ini dan meninggalkan adegan paksa yang masih berlangsung itu tanpa adanya usaha untuk mencegah peristiwa tragis yang menimpa sosok dara belia nan cantik namun bernasib sangat malang.
Selang beberapa saat aku hanyut dalam tegukkan sensasi kopi hangat yang kureguk di tenggorokkanku untuk kemudian kembali lagi melanjutkan aksi intipku. Lelaki penikmat dubur cewek ini kini berdiri diatas kasur ranjang pengantin itu dan tubuh perempuan muda yang masih menungging ini kedua kakinya ditarik melempeng kebelakang dengan kedua belah lututnya yang telah lurus itu tercengkeram oleh kedua tangan kekarnya. Lubang anusnya kembali ditembus batang kejantanan lelaki ketiga yang terakhir ini mengerjainya malam itu.
Dua bongkahan pantatnya yang padat menempel pada selangkangan lelaki yang doyan anus wanita ini dengan kaki lurus kebelakang melewati kedua pinggang pemerkosanya dengan posisi betis indahnya yang menekuk melengkung keatas serta menggantung bebas diudara. Rasanya jarang sekali ditemukan dalam film-film porno adegan yang seperti ini, tetapi kini dilakukan oleh pria itu kepada wanita korban pelampiasannya ini.
Ia memaksa kedua kaki gadis itu menjepit pinggangnya dengan kedua mata kaki korbannya bersilangan sehingga tubuhnya yang telanjang tergantung indah ini mengunci ketat pinggang lelaki bajingan itu. Dalam keadaan demikian kedua belah payudaranya nan indah melesak di kasur nan empuk itu menjadi tumpuan tubuhnya yang setengah melayang di udara ini. Dengan posisi demikian maka makin dalamlah tusukkan pelir lelaki itu menembus poros usus gadis belia cantik nan penuh derita berkepanjangan ini.
Anusnya terasa dimasukki oleh besi panas saja karena diusianya yang masih terlalu dini itu ia sudah dipaksa untuk mengenal permainan ranjang yang demikian tak lazim yang diperbuat lelaki-lekaki pemerkosanya. Tubuhnya yang semula kelihatan sangat mulus bersih serta terawat apik tanpa sedikitpun cacat dan cela tadinya itu kini berubah menjadi lusuh dan kotor bermandi keringat dengan lelehan lendir penuh nista permainan paksa mereka yang berceceran disana-sini.
Kasur putih dibawahnya telah penuh bercak darah kesuciannya di malam perkawinan yang mana keperawanannya telah direnggut oleh lelaki yang bukan kekasihnya, tetapi melainkan para pembunuh suaminya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir gadis itu berusaha mengetatkan jepitan bongkahan pantatnya sendiri dan membiarkan lelaki itu terus menikmati kehangatan lorong dinding-dinding anusnya sambil berharap lelaki itu segera menyudahkan permainannya yang telah membuat duburnya menjadi semakin sembab dan bengkak ini. Tetapi ia salah menduga stamina lelaki ketiga ini yang demikian kuat melakukan anal sex terhadap tubuh mekarnya yang telanjang dalam dekapan.
Tanpa terasa cairan di anusnya semakin keluar melumuri daerah tempat keluar masuk batang kejantanan perkasa lelaki sang pemerkosa terakhir ini yang terus menggenjotnya dengan brutal. Suara berdecak-decak pada dinding anusnya yang tergesek-gesek oleh kontol itu semakin jelas terdengar olehku. Clop! clop! clop! Begitulah bunyi yang ditimbulkan dari dubur yang tengah diperkosa tersebut dan itu semakin dahsyat dilancarkan dengan penuh semangat oleh lelaki ketiga ini. Akupun berpikir kalau seandainya nanti mendapatkan seorang istri, maka aku akan pula ingin merasakan nikmat lubang pantatnya saat melayaniku nanti sebagai variasi bercinta, karena rasanya pasti demikian lezat sebagaimana yang telah kusaksikan sendiri saat ini dari lelaki garong itu kepada korbannya.
Dan lama-kelamaan jepitan kedua kaki dara yang bersilangan itu mulai melemah sudah, tubuh telanjangnya terhuyung-huyung jatuh kebawah seakan tulang-tulangnya telah terlolosi satu persatu. Tampaknya ia kembali kehilangan kesadarannya, namun tangan kekar itu sigap sekali menahan perut rampingnya agar pinggul telanjang korbannya tak sempat ambruk ke atas kasur, dicabutnya zakar itu dari anusnya, kemudian tubuh pingsan yang terkapar itu ditelentangkan.
Kedua tumit dara belia itu di taruh diatas pundaknya kiri kanan dan betis indahnya didekap didada bidang lelaki ketiga itu, otomatis pinggul gadis itu terangkat melayang separuh diudara nan bertumpu pada punuknya seiring tarikan lelaki tersebut pada kakinya. Kedua belah payudaranya nan indah semakin membulat mengembang dalam posisi sensual ini.
Tanpa perlu diarahkan lagi dengan tangannya, lelaki itu mendorong pinggulnya yang berada tepat pada bongkahan pantat yang terbuka itu sehingga kontolnya terbenam di lubang memek gadis yang sudah becek itu tanpa kesulitan yang berarti. Memeknya telah licin dan sudah tak sempit seperti semula akibat diperawani oleh kontol boss mereka yang paling besar diantara mereka bertiga, namun pelir anak buahnya tak bisa dianggap remeh karena tetap lebih besar dan panjang pula dari kepunyaanku.
Demikianlah ia kini berganti mengerjai vagina korbannya yang sepertinya akan diperlakukan sama seperti yang diperbuat oleh bossnya dahulu. Ia tampaknya ingin membuat gadis ini menjadi hamil, karena selain malam itu bertepatan dengan masa kesuburan rahimnya, ia ingin pula mencoba-coba dari gadis yang begitu sempurna ini nantinya pasti akan menghasilkan keturunan yang bagus pula keindahan fisik dan ketahanan tubuhnya melayani lelaki. Hanya saja ia khawatir kalau bibit bossnyalah yang jadi, sedang dirinya tidak, kalau hal itu terjadi maka ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia mencintai gadis ini sekarang sekaligus menyukai pantatnya nan memberinya kepuasan maksimal di atas ranjang.
Deru birahinya semakin menyala-nyala seiring dengan suara kecipakkan di vagina becek itu yang terus diembatnya sampai suatu saat pula tubuhnya kejang-kejang sambil menekuk bak seekor udang mendekap erat pinggul korbannya dan memuntahkan semua isi cairan lahar panas dari pelirnya yang telah begitu lama terbenam di rongga peranakan gadis cantik nan begitu mudanya itu.
Sesudahnya ia menyatukan kedua kaki gadis telanjang itu yang telah diluruskan kemudian mengikat kedua mata kakinya menjadi satu lalu tubuh bugil korbannya ini digantung diatas kayu pancang kelambu ranjang itu yang terbut dari kayu jati sehingga kuat menahan tubuh telanjang dara montok yang pingsan ini dengan kepala dibawah berurai rambut hitamnya yang berserakan di atas sprei putih ranjang pelaminan penuh noda ini. Tampak cairan sperma lelaki itu meleleh turun dari celah-celah bokong mudanya yang menggantung tanpa daya ini.
Satu jam lelaki itu membiarkan tubuh molek si dara tergantung sampai dirasanya sperma yang telah ia tumpahkan tadi di dalam rahimnya sudah kering terserap oleh tubuhnya yang mana diharapkan dapat membuahi rahim mudanya itu untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka nanti. Setelah itu ia memanggul tubuh gadis yang telah ternoda itu pergi meninggalkan rumah tetanggaku tersebut dan menghilang di kegelapan malam. Akupun segera berkemas-kemas pergi meninggalkan rumahku lagi dalam keadaan kosong untuk pulang disaat hari menjelang subuh kembali ke tempat kostku dengan hati galau.
*****
Kutatap tulisan di koran sore ini yang bertajuk kriminal dan kudapati berita mengenai peristiwa tersebut di dalamnya.
"Pembunuhan sekaligus penculikan yang menimpa sepasang pengantin baru, gadis yatim piatu itu bernama Evelyne, berusia 19 tahun, belum diketahui dimana keberadaan gadis itu sekarang.."
Kututup lembaran koran itu dengan penuh sesal dihati akan bayang-bayang wajah gadis itu yang seolah-olah masih tersenyum manis padaku saat keluar dari mobil pengantinnya waktu itu dari balik jendela rumahku. Ia memang masih terlalu belia untuk mengalami kejadian tragis seperti itu. Andai saja dia yang menjadi istriku.. mungkin ceritanya akan lain.
END
Aku adalah seorang bujangan yang mempunyai sebuah rumah di perumahan yang terletak di pedalaman pinggiran kota. Telah lama aku tak mengunjungi rumahku itu, karena aku telah lama kost di kota dan bekerja di sana. Sampai suatu hari aku memutuskan mengambil cuti seminggu untuk sekadar beristirahat setelah lama jenuh bekerja. Saat itulah waktu cutiku kugunakan untuk mengunjungi rumahku yang telah lama aku tinggalkan.
Lingkungan daerah rumahku memang masih sangat sepi sekali. Terlihat hanya beberapa rumah yang terisi pada setiap kompleknya. Keamanannya sudah tidak terjamin sejak pengembangnya terkena kredit macet. Lampu penerangannya di kala malam hari masih sangat kurang, sehingga aku malas untuk menginap disana. Tetapi kini guna untuk mengisi waktu luang cutiku, maka aku putuskan untuk menginap disana.
Hari itu telah gelap dan tak seorangpun yang tahu aku memasukki rumahku, namun aku sempat melihat rumah sebelahku tinggal terdapat tanda pengenal bahwa rumah itu adalah rumah sepasang pengantin baru. Sekejap hatiku tergetar, sejak kecil aku mempunyai hobi mengintip, terutama dalam hal mengintip perempuan dan yang paling aku berhasil melaksanakan aksiku adalah ketika ia sedang mandi, tak lebih dari itu. Namun saat ini keinginan untuk mengintip seperti apa sepasang pengantin baru ini begitu sangat menggugah hatiku untuk tidak menolaknya.
Kupastikan rumah sebelahku itu dalam keadaan kosong. Rasanya mereka masih berpesta dan belum pulang ke rumah baru mahligai tersebut. Kutatap seisi teras depannya, belum ada sendal atau sepatu diluar, menandakan penghuninya masih bepergian. Secepat kilat aku mempelajari situasi rumah tetanggaku itu, meskipun aku tak tahu siapa yang menghuninya, sebab sejak kubeli rumahku ini, rumah yang berdempetan dengan rumahku ini masih kosong, namun kini telah bersih dan dicat begitu rapihnya laksana rumah baru saja.
Aku yakin sekali bahwa kamar pengantin itu pasti bersebelahan dengan kamarku dan letaknya ada di lantai dua juga serta hanya terhubung oleh satu bata saja dengan rumahku. Kuambil sebuah bor dari perkakas tua dirumahku, tanpa pikir panjang lagi aku menduga-duga sebelah mana dinding kamarku yang harus kubor agar aku dapat mengintip kedalam. Setelah kira-kira pas dengan ukuran mataku, penuh nekat karena sudah mempunyai maksud yang kuat aku membor dinding itu. Suara bising dari bor tersebut menyadarkanku akan bahaya kalau aksiku ketahuan oleh si pemilik rumah sebelahku. Sesaat lamanya aku terdiam tanpa berani bergerak, khawatir kalau dugaanku salah bahwa penghuninya belum pulang dari resepsi pernikahan.
Dinding kamarku kini berlubang sudah, sebesar ibu jari orang dewasa. Kudekatkan bola mataku ke lubang tersebut, ada gelungan kelambu putih yang tembus pandang kedalam dan aku lega karena dengan adanya gelungan kelambu tersebut yang mungkin merupakan aksesoris kamar pengantin tersebut agak menutupi samar lubang yang telah aku buat. Aku dapat menatap ranjang yang terpampang di ruangan kamar yang tak begitu besar itu.
Dan benar, itu adalah kamar pengantin mereka, terlihat dari adanya hiasan-hiasan yang melekat di dalam kamar tersebut seperti pernak-pernik bebungaan yang menempel di tepian meja rias yang bercermin serta lemari dua pintu yang bercermin pula menghadap padaku. Terbayang di otakku jika nanti aku dapat menyaksikan malam pengantin mereka bisa dari berbagai sudut karena adanya cermin-cermin itu.
Suara deru mesin mobil dari kejauhan segera membuyarkan lamunanku dan aku segera mengintip dari jendela kamarku yang dilantai dua melihat kedepan rumahku. Ada dua mobil berhenti tepat di depan rumah sebelahku dan salah satunya benar mobil pengantin yang aku tunggu sejak tadi. Kulirik arlojiku, hmm.. masih jam 9 malam, namun daerah rumahku ini sudah seperti komplek mati saja sejak jam setengah sembilan tadi. Pintu mobil pengantin itu terbuka, keluarlah sang dayang pengiring pengantin terlebih dahulu untuk mengiringi kedua mempelai yang akan memasukki rumah, sedangkan mobil dibelakangnya adalah kerabat-kerabat dari kedua mempelai. Tetapi kini pandanganku terfokus kepada mempelai wanitanya dari balik tirai jendela kamarku yang lusuh aku menatap dan ingin tahu seperti apakah gerangan wajah dan tubuh si pengantin wanitanya.
Dan betis indah yang terbalut oleh stocking berwarna hitam serta kaki seorang dara yang bersepatu pengantin putih mempesona itu terjuntai keluar dari celah pintu mobil itu. Tampak begitu mulus dan kencang ketika sosok wanita yang menjadi pengantin itu telah keluar dari dalamnya, aku begitu terkesima dibuatnya. Ternyata gadis yang menjadi mempelai perempuan sebelah rumahku ini masih belia serta sangat cantik sekali dan itu terlihat dari wajahnya yang terlihat manis, bersih dan putih kulitnya. Tubuhnya begitu langsing padat berisi terbalut oleh busana pengantin masa kini yang menampakkan lekuk liku tubuhnya tanpa gembungan hola hop yang biasa dikenakan pengantin yang mempunyai bodi biasa-biasa saja. Ada mahkota geraian bunga-bunga di rambut hitamnya yang sebahu turut mempercantik penampilannya yang begitu sangat mempesona di mataku.
Dara itu tersenyum manis pada suaminya yang juga seorang lelaki muda berbadan sedang dan ganteng, namun mengapa saat itu aku merasa ia tersenyum untukku? Ah! dasar aku ini seorang bujang lapuk yang hobinya hanya mengintip saja dan tak berani sama sekali untuk mendekati makhluk wanita dimanapun dan kapanpun, tetapi herannya kalau mengintip dan menguntitnya aku berani. Kutepak dahiku sendiri, tolol! Mana mungkin senyum gadis itu untukku? Itu hanya untuk suaminya seorang, tak lebih! Selain itu dia tidak melihatku yang tengah menatapnya dari sela-sela jendela kamar di lantai dua yang mana lampu terasnya tak kunyalakan, sehingga mereka menyangka kalau rumahku ini masih kosong dan tak berpenghuni.
Mereka semua di dalam rumah itu kini dan aku tak berkutik sama sekali serta hanya dapat menunggu acara ramah tamahnya kerabat-kerabat mereka. Namun ternyata hanya kisaran setengah jam saja mereka di rumah itu, setelahnya aku kembali mendengar suara mesin mobil keduanya dihidupkan dan deru kedua mobil itu semakin jauh di telingaku. Inilah saat yang aku telah nanti-nantikan sejak tadi, aku kembali ke kamarku yang dindingnya telah bolong itu dan dengan hati berdebar-debar karena masih takut ketahuan aku menempatkan bola mataku lagi pada celah lobang dinding yang telah tembus ke kamar pengantin tersebut.
Dari celah dinding yang berlubang itu aku dapat mendengar suara langkah kaki bersepatu dara itu yang tengah menaikki tangga dan di akhiri dengan suara bukaan pintu kamar pelaminan tersebut. Hatiku semakin dag dig dug tatkala aku kembali melihat gadis itu dari jarak yang begitu dekat. Betapa sungguh cantik wajah dara itu dan masih begitu belia diusianya yang berkisar dua puluhan tahunan ini dengan busana pengantinnya yang masih lengkap berikut sepatunya.
Tertegun aku menikmati kecantikannya yang aduhai tak terlukiskan ini bak mutiara indah yang meluluh lantakkan isi hati setiap pria. Gadis itu tengah mematut-matut diri di depan cermin meja riasnya membelakangiku, namun raut wajahnya masih dapat kulihat dengan jelas pada pantulan cermin yang menghadap ke posisi tempatku mengintip. Kulihat ia tersenyum manis sekali di hari dalam kehidupannya yang baru itu, mungkin ia sangat bahagia sekali berpasangan dengan suaminya yang telah kulihat pula begitu serasi dengannya tadi.
Aku semakin gembira saja membayangkan hal yang sebentar lagi akan terjadi diantara mereka itu, karena sebentar lagi mereka akan melakukan ritual malam pertama sebagai kewajiban dari pasangan suami istri yang telah mengikat diri dalam mahligai perkawinan. Kini untuk memastikan keadaan aman untuk selanjutnya, aku melihat situasi depan rumahku untuk kedua kalinya, namun kali ini aku melihat sesuatu yang membuat aku terkejut.
Pintu pagar rumah sebelahku tengah di loncati oleh tiga orang tak dikenal yang bertubuh gelap diantara penerang lampu yang begitu remang-remang dan kejadian itu begitu sangat cepatnya sehingga membuatku takut setengah mati. Pasti ketiga lelaki itu berniat jahat kepada penghuni rumah pengantin baru ini, namun belum lagi jelas aku melihatnya, tubuh ketiga lelaki itu telah melesat masuk kedalam rumah tersebut. Ingin rasanya aku berteriak untuk mencegah kejadian itu, tetapi aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Apalagi aku sempat melihat ketiga sosok lelaki itu bertubuh jauh lebih besar dariku yang kerempeng ini serta bernyali kecil. Otomatis aku hanya dapat terpana untuk beberapa saat.
Lalu terdengar suara dari daun jendela yang dibuka paksa di lantai bawah rumah sebelahku itu, disertai keributan sesudahnya. Aku mengintip kembali pada celah dinding kamar itu dan kudapati gadis pelaminan itu wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat akibat dilanda keterkejutannya dengan adanya ribut-ribut di bawah itu. Ia bangkit dari duduknya dari meja rias dan bergegas membuka pintu kamarnya untuk melihat apa yang tengah terjadi di bawah dimana sang suaminya masih berada. Namun terlambat, karena salah satu sosok tamu tak diundang itu membarenginya masuk ke kamar itu seraya menahan laju tubuh gadis cantik ini dan mendekapnya.
"Ahh..! Siapa ini?! Lepaskan! Aah.. tol.. hmmpph!", jerit gadis itu yang langsung tertahan oleh bekapan telapak tangan sosok pria berkulit gelap yang bertubuh besar dan sangat kekar itu.
Seseorang dari belakang lelaki itu menyusulnya dan membantu lelaki pertama yang mendekapnya tadi yang masih dalam posisi berdiri berhimpitan sambil mendekatkan sebilah belati yang telah terhunus di leher jenjang gadis mempelai itu yang putih mulus.
"Jangan melawan manis, kalau ingin selamat!!", ancam lelaki yang menodongkan belati di lehernya sambil mencengkram kedua tangan gadis itu dengan tangan yang satunya lagi.
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik sang mempelai wanita ini.
"Mmmpphh..!", hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
"Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis pula..", seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu. Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh kejantanannya itu.
"Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini, sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!", perintah kepala rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding kamarku.
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah kelelakiannya. Perlahan ia melepaskan sepatu kanan pengantin gadis itu yang mungkin telah dipakainya sejak pagi tadi hingga malam hari ini pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.
Sepatu itu terlepas sudah, menyisakan telapak kaki indah milik seorang dara jelita yang masih belia berbalut stocking hitamnya yang tampak serasi menutupi kulit jenjang kakinya. Segenap aroma sembab dari kakinya menebar seisi ruangan kamar pengantinnya, bahkan melalui celah itu aku dapat membauinya pula, namun lelaki kepala para perampok itu malahan menciumi telapak kaki gadis itu tepat di depan penglihatanku dengan penuh gairah dan nafsu serta menjilat dan menghisap-hisap jari kaki lentik milik gadis korbannya yang terus meronta-ronta dalam ketakberdayaannya di mataku. Puas dengan kaki kanan, ia melanjutkannya dengan kaki yang kiri sambil sesekali membelai-belai betis indah gadis itu yang terpampang indah dipelupuk matanya.
"Kamu jaga di bawah dululah! Nanti kalau aku sudah selesai, baru aku panggil kau!", perintah kepala rampok itu pada anak buahnya itu, mungkin ia merasa terganggu dan risih oleh tatapan anak buahnya yang melihat aksi maniaknya itu.
"Oke boss! Aku akan mengantongi barang-barang berharga di rumah ini segera!", ujar anak buahnya penuh semangat, lalu ia keluar kamar tersebut meninggalkan bossnya bersama dengan gadis belia tersebut. Aku tak tahu apa yang telah terjadi dengan sang suami dari gadis itu, agaknya mereka telah berhasil melumpuhkannya dan entah bagaimana dengan nasibnya sekarang.
Keadaan di malam sepi itu benar-benar menunjang aksi mereka untuk menguras harta benda rumah itu secara perlahan-lahan. Bahkan dengan santainya lelaki ketiganya kini tengah duduk di teras rumah sebelahku itu sambil merokok sekaligus berjaga-jaga dan melihat situasi keadaan di luar. Sangat sepi diluar dan hanya menyisakan hawa dingin dan lampu penerang yang sangat redup serta hampir tidak kelihatan apa-apa dari jendela kamarku yang gelap.
Ketika kulihat kembali, tampak lelaki itu meraih gaun pengantin gadis itu di bagian dadanya kemudian menariknya dengan kasar hingga robeklah busana pelaminan di dada gadis belia cantik itu. Aku sangat iba sekali terhadap perlakuan kasar lelaki itu pada gadis tersebut, tetapi aku sangat ingin sekali melihat kelanjutannya, sehingga aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah ini. Terus terang aku tak mau tersangkut paut dengan peristiwa ini, namun dibalik itu aku ingin menikmati pula hobi mengintipku yang baru kali ini mendapati adegan yang lain dari biasanya seumur perjalanan hidupku.
Lelaki bajingan itu merengkuh tubuh gadis itu yang bagian dadanya telah terbuka menampilkan kedua belah payudaranya yang begitu indah, padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku sendiri pun mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela sama sekali terpampang di hadapan bajingan itu dan aku. Daging dadanya saat tersentuh oleh jari-jari perkasa lelaki itu begitu kenyalnya dan lelaki kekar itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang selama ini belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini bajingan kepala perampok itu begitu leluasanya mempermainkan bagian sensitif dari dara itu yang terlarang.
Seketika kelelakianku mulai terangsang dan bangkit seraya membayangkan seperti apa rasa nikmatnya memelintir-lintir puting susu dari seorang gadis, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana seorang dewi bagiku dan mungkin saja bagi lelaki bajingan itu merasakannya pula bahawa pada malam itu adalah malam keberuntungannya mendapati mangsanya yang begitu secantik ini.
Benar-benar jauh dari film-film biru yang selama ini aku tonton, dan betapa adegan bajingan itu yang tengah mengulum puting payudara gadis yang sedang mekar-mekarnya itu membuat gairah kejantananku mulai bangkit di antara penderitaan yang tengah dialami gadis itu yang terpaksa membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki itu. Namun di tengah-tengah kerakusan bajingan itu melahap payudara indah milik sang mempelai perempuan, ia juga perlahan-lahan mulai membangkitkan gairah korbannya agar tidak sepenuhnya nanti akan melayaninya secara terpaksa saat di gaulinya. Kedua tangannya yang kasar dan kelihatan sangat kuat berotot itu terus digunakan untuk mengusap-usap kedua belah paha kaki gadis itu yang terkangkang akibat terikat tambang di tiang-tiang kelambu ranjang pelaminannya.
Akhirnya aku mendengar suara lenguhan pertama yang keluar dari bibir gadis itu, meskipun teredam oleh secarik ikatan kain yang menyumpal mulut mungilnya.
"Ehmm... hmmphh..!", erang gadis belia itu yang masih terikat tanpa daya, sementara wajah cantiknya telah penuh dengan linangan air matanya masih tergolek ke kiri dan ke kanan berusaha menahan adanya sensasi yang mulai mendera tubuhnya. Suatu sensasi yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya dan perlahan-lahan sensasi itu semakin melanda dirinya begitu membuatnya semakin merasa malu dan terhina diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang bukan suaminya dan bahkan tidak ia cintai sama sekali.
"Manisku.. kalau kau terus meronta dan melawan, maka aku tak akan segan-segan untuk menyuruh anak buahku di bawah untuk menghabisi nyawa suamimu!! Patuhlah kepadaku, maka kau akan kulepaskan esok pagi!", ancam kepala bajingan itu tepat ditelinga gadis belia ini.
"Bagaimana hah?! Sekarang aku akan melepaskan ikatan pada kedua kakimu, tetapi kau harus berjanji untuk tidak melawan dan memberontak lagi, mengerti?!", tukas kepala perampok itu lagi.
Agak lama aku menunggu jawaban dari gadis itu untuk sesaat waktu dan dengan perlahan kepala si gadis itu mengangguk dengan sangat berat hati seakan hatinya telah tersayat oleh sembilu mendengar ancaman yang menghentikan perlawanannya. Wajah cantiknya semakin penuh dengan derai air mata pilu keterpaksaannya malam itu kepada lelaki bajingan ini yang tersenyum girang mendapati korbannya telah takluk olehnya.
Dengan senyum menyeringai yang menyeramkan lelaki bajingan bertubuh tinggi besar yang sangat kekar itu melepaskan ikatan tambang yang tadi mengikat kedua mata kaki sang dara belia. Setelah itu ia membiarkan tubuh gadis itu terlentang di kasurnya yang berwarna putih bersih itu. Selanjutnya lelaki itu merobek kembali gaun pengantin bagian atasnya kemudian melorotkan kain itu sampai kepinggang.
Betapa tubuh telanjang gadis itu kini terpampang di depan matanya yang begitu buas bak singa lapar yang tengah menghampiri mangsanya, hingga yang tersisa dari tubuh indah gadis itu adalah tinggal celana dalam putihnya dan stocking hitam yang berbentuk jala-jala kecil itu yang masih membungkus kedua kakinya yang halus dengan cabikkan gaun pengantinnya masih melingkari pinggangnya, tetapi mulutnya masih tersumbat dan kedua tangannya masih terikat pula ke belakang.
Perut gadis itu rata dengan pusar yang menantang menghiasi lekuk liku perutnya yang begitu sensual mempesona berikut kaki indahnya yang dihiasi gelang kaki terbuat dari emas yang melingkar di mata kaki kanannya. Leher jenjangnya begitu mulus menopang wajahnya yang begitu sedap dipandang mata dari sudut manapun juga dan pada lehernya juga dihiasi kalung emas dengan liontin berbentuk hati yang melambangkan cinta dari pasangan pengantin itu. Rambutnya yang sebahu tergerai indah beruntaikan penuh pernak-pernik mahkota bebungaan perhiasan pengantin wanita.
Lelaki itu berdiri dan membuka kaos berwarna gelapnya, terlihatlah tubuh kekarnya yang berotot begitu perkasa membentuk tonjolan-tonjolan yang jelas serta dadanya yang penuh dengan bulu-bulu hitam yang kasar. Perutnya begitu sempurna dengan otot-otot perutnya begitu mencetak tubuh kelelakiannya. Iapun kini melucuti celananya di hadapan gadis itu yang ketakutan meringkuk di tepian ranjang mahligai perkawinannya.
Kejantanan lelaki itu masih tidur namun terlihat besar dengan kedua biji pelirnya yang menggantung dengan gagahnya kira-kira ukurannya ada dua kali lebih besar dari punyaku. Agaknya tak secepat itu lelaki perkasa ini terangsang kelelakiannya hanya cuma dengan mengemuti payudara gadis belia nan cantik yang kukira akan menawan hati bagi setiap pria yang melihatnya.
Kedua bola mata nan indah milik gadis belia cantik itu begitu kagetnya demi melihat apa yang terpampang di hadapannya dari sosok seorang lelaki gagah yang demikian perkasa, dan rasanya sang suaminya belum tentu akan memilikki tonjolan di selangkangannya seperti lelaki bajingan kepala perampok yang menyatroni rumahnya ini. Seketika tubuhnya semakin ciut saja menanti apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya sesudahnya. Berikutnya lengan kirinya yang terikat erat itu dicekal oleh sang jahanam yang serta menariknya dari ranjang untuk kemudian dipaksa berdiri bersebelahan dengan tubuh lelaki itu yang telah telanjang kini.
Ketika kedua tubuh berlainan jenis kelamin itu telah berdiri, aku melihat dengan jelas bahwa ukuran lelaki tubuh lelaki itu ada dua kali lebih besar dari tubuh sang gadis malang ini. Tubuh gadis itu diraihnya sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan, lelaki itu berjongkok tepat dihadapan tubuh sang pengantin perempuan itu kemudian dengan perlahan-lahan menyusupi gaun serta melucuti celana dalam dara itu yang tersisa.
Aku terus memandangi detil kejadian itu, saat lelaki itu mulai menarik celana itu dari bongkahan pantatnya sampai melorot ke betis indah sang wanita muda, diiringi suara sesenggukkan tangis gadis cantik nan malang ini. Kulihat sesuatu bagian dari miliknya yang terlarang dapat kulihat dengan jelas, yakni di sela-sela pangkal pahanya yang putih mulus bak lobak itu dihiasi dengan bulu-bulu halus garis kemaluannya yang masih tertutup rapat sama sekali.
Namun yang membuatku lebih bernafsu lagi adalah ketika mataku tertumbuk pada celana dalam putih sutranya gadis itu yang kini telah tergantung di betis indah kirinya, tampak pada bagian yang menutupi auratnya pada kain celana tersebut terlihat bercak lendir yang berasal dari keintimannya. Bercak cairan itu sedikit menggumpal seperti jelly yang membuatku teringat akan apa yang tertulis dalam buku pengetahuan sex yang pernah aku baca, bahwa ada beberapa wanita dalam usia suburnya akan mengalami hal seperti ini dan itu adalah tanda rahimnya telah siap untuk dibuahi oleh lelaki.
Kepala perampok itu agaknya juga telah mengetahui noda percikkan lendir gadis itu pada celananya, dan ia meraih celana dalam yang tergantung di betis kiri itu kemudian menyorongkan hidungnya mengendus sisa cairan itu. Bagai seorang maniak tulen, bajingan itu menjilati sekaligus melahap lendir di celana sang dara dengan rakus dan buas bak menjilati es krim saja layaknya.
Gadis itu hanya dapat memejamkan matanya menyaksikannya dengan penuh kengerian serta juga perasaan malu yang amat sangat dengan penuh rona merah di kedua pipinya, bahwa lelaki itu ternyata menyukai sekali cairan yang berasal dari kemaluannya serta apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu selanjutnya terhadap seorang wanita seperti dirinya ketika telah sama-sama berdua di dalam kamar tanpa diketahui oleh orang lain. Sama sekali tak pernah diduganya bahwa seorang lelaki itu akan begitu penuh dengan nafsu binatang tatkala mencumbui seorang wanita, dan kembali air matanya berderai jatuh untuk yang kesekian kalinya. Belum pernah ia telanjang seperti ini dihadapan seorang lelaki manapun dan rasa malu itu terus mendera hati dan perasaan halusnya sebagai seorang wanita baik-baik.
"Hahaha.. manis.. lendir kemaluanmu begitu wangi dan lezat.. marilah kita nikmati malam bahagia ini berdua, bersamaku kita akan mengarungi surga kenikmatan yang tak akan kau dapatkan dari suamimu itu..", rayu lelaki bajingan yang jantan itu sambil mendekatkan wajahnya diantara celah miliknya yang selama ini belum pernah dilihat atau tersentuh oleh lelaki manapun, tak terkecuali oleh suaminya sendiri yang belum sempat mereguk kebahagiaan malam pertama mereka itu.
Dengan paksa kini ia mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab di atas kasur pelaminannya kembali, serta merta sebelum gadis itu tersadar apa yang akan terjadi selanjutnya, ia menyibakkan gaun pengantin yang menutupi selangkangannya, kemudian mencengkram kedua tungkai kaki gadis itu hingga dengkulnya kini tertahan pada kedua belah puting payudaranya yang memerah basah oleh sisa air liur lelaki itu saat tadi mencumbunya. Aku tak dapat melihat apa yang dilihat oleh lelaki itu kini, yang pasti aku juga sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana bentuk dari kemaluan seorang wanita yang sama sekali belum pernah bersetubuh dengan laki-laki, tak seperti yang sering kusaksikan dalam filem biru yang rata-rata telah rusak dan bentuknya sudah jelek dan tak menggairahkan lagi untuk dilihat.
Percuma saja gadis itu berusaha mengatupkan kedua belah pahanya yang mulus itu karena cengkeraman tangan bajingan kepala perampok itu begitu kuat menahan kedua tungkai kakinya, bahkan bukaan kedua kakinya semakin melebar saja manakala kekuatan dorong lelaki itu di tambah untuk melawan daya tolak gadis itu. Aku yakin sekali lelaki itu telah berhasil menyaksikan serta menikmati keindahan dari kemaluan gadis itu seutuhnya sudah, lalu dengan menggunakan telapak kaki kanannya yang besar dan berotot, ia menginjak tungkai kaki kiri gadis itu menggantikan tangan kanannya untuk menahan agar gadis itu tetap mengangkang, kemudian tangan kanannya ia gunakan untuk membuka bibir belahan berbulu milik sang dara yang tak berdaya diperlakukan serendah dan sehina itu.
Wajah lelaki itu semakin senang setelah melihat apa yang ada dalam pangkal paha sang dara yang terbuka tersebut, agaknya ia telah melihat kesucian gadis itu yang selama ini telah banyak kubaca dan kudengar dari cerita-cerita temanku yang telah menikah, bahwa seorang wanita yang belum pernah disetubuhi lelaki masih mempunyai selaput dara yang menjaga jalan masuk liang kewanitaannya sekaligus sebagai tanda keperawanannya.
Sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya dengan jelas sebagaimana yang dilihat oleh lelaki jahanam itu, karena pantulan dari kaca meja rias dan lemari pakaian itu tertutup oleh bayangan punggung belakang tubuh telanjang lelaki tersebut. Terlihat wajah lelaki itu semakin mendekat kearah pangkal paha dari kedua belah kaki yang terkangkang dan tengah menghirup aroma yang terpancar dari selangkangan gadis belia itu yang terbuka lebar. Kata orang, wanita mempunyai bau yang khas pada vaginanya apalagi yang masih gadis, maka aroma baunya masih kental sekali, begitu sangat sembab asli perawan murni!
Aku iri dengan lelaki itu saat ini, karena seumurku sama sekali aku belum pernah mengetahui seperti apa rasanya kenikmatan yang asli ketika bersamaan dengan seorang wanita, apalagi sedekat dan seintim mereka kini. Walaupun gadis itu sedang dalam paksaan, namun tak membuat lelaki itu kehilangan selera kenikmatannya, bahkan kini setalah mencengkram kembali tungkai kiri gadis itu dengan tangannya, ia membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya tepat ditengah-tengah lubang berbulu gadis itu.
Aku hanya mendapati betapa kumis lelaki itu seakan telah menyatu dengan bulu-bulu jembut sang dara belia yang malang ini. Lidahnya terus bergerak-gerak lincah menyapu area terlarang milik mempelai perempuan ini yang berusaha menahan gairah keperawanannya yang terus dibangkitkan gejolaknya oleh sentuhan-sentuhan lelaki itu pada organ intimnya.
Dan jilatan itu semakin dalam dan turun kebawah diiringi geliatan-geliatan kecil tubuh dara itu yang disertai pula dengan lenguhan tertahannya manakala lidah lelaki itu telah sampai ke bawah bongkahan pantatnya yang terbuka dimana terletak lubang anusnya. Betapa tanpa rasa jijik sama sekali lelaki bajingan itu menjilati anus gadis itu, wajahnya semakin lekat saja pada celah-celah paha korbannya yang semakin keras suara lenguhannya yang teredam sumpalan kain di mulutnya menahan sensasi birahi yang tampaknya mulai bergejolak dalam tubuhnya. Kurasa lelaki itu begitu memaksa memasukkan lidahnya yang sengaja dibuat kaku menegang, apalagi lelaki itu mempunyai lidah yang panjang dari biasanya sehingga membuat anus gadis itu yang sempit serasa ditusuk-tusuk oleh daging lunak yang hangat.
Semua ini memang sama sekali tak pernah disangka oleh gadis itu yang sama sekali belum pernah mempunyai pengalaman bercinta dengan seorang lelaki apalagi hubungan intim seperti sekarang ini yang dirasakannya. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa andai saja kekasih hatinya itu yang kini telah menjadi suaminya itu mungkin akan berbuat seperti ini pula pada dirinya di malam ritual pengantin mereka. Namun kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa tubuh telanjangnya tengah dicumbui oleh seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan bahkan amat dibencinya karena telah menawan suaminya apalagi dicintainya.
Tubuh indahnya masih terkapar tak berdaya dalam posisi menggangkang kedua belah kakinya sementara lelaki itu masih terus tak henti-hentinya menjilati kedua belahan lubang di sela-sela pangkal pahanya, yakni lubang kemaluannya dan lubang anusnya. ia mulai merasa tersiksa sekali dikarenakan ternyata lelaki itu perlahan-lahan telah berhasil membuat tubuhnya yang menahan sensasi dari birahi gairah perawannya telah terpedaya oleh keahlian bercinta lelaki bajingan itu yang agaknya telah mempunyai pengalaman dalam bercinta dan menaklukkan wanita.
Setiap lekuk liku dari tubuh telanjangnya yang sensitif itu dibelai dan di elus, sehingga ketika tangan lelaki itu sudah berpindah meremas-remas kedua belah susunya yang padat berisi, montok indah menggiurkan itu kiri dan kanan, gadis ini telah lupa untuk memberontak lagi, kedua tungkai kakinya yang telah terbebas dari cengkeraman erat tangan-tangan kekar sipejantan itu masih saja terbuka lebar seakan-akan masih terpegang saja layaknya.
Berganti-gantian lidah lelaki perkasa itu mengulas lubang memek dan anus gadis itu. Semakin lama bongkahan pantat sang dara itu semakin mencuat keatas seiring dengan naiknya kedua tungkai kakinya yang semakin mengangkang. Tubuh telanjangnya menggeliat-liat hebat menahan sensasi kenikmatan yang diberikan lelaki bajingan itu kepada dirinya, sementara dari dalam tubuhnya terasa ada yang tersumbat dan ingin meledak-ledak seperti akan mau pipis saja, karena lidah lelaki itu selalu menjilati lubang yang biasanya ia selalu gunakan untuk buang air kecil ini.
Derai air mata yang membasahi kedua belah pipi dari wajah nan cantik ini telah mengering dan kini yang ada hanyalah wajah seorang gadis belia yang tengah melawan birahi pertamanya yang menuntut untuk dituntaskan dari seorang lelaki yang tak pantas meraih kenikmatan bersamanya itu. Tubuh telanjangnya melejang-lejang menawan bagi setiap lelaki yang menyaksikannya, terlebih-lebih aku yang terus melihat adegan itu tanpa berkedip sambil memegangi batang pelirku yang telah tegang setengah mati seraya mengocok-ngocoknya dengan penuh nafsu, betapa aku juga terbawa arus permainan birahi paksa tersebut. Entah kapan aku lupa saat aku memasukkan tanganku kedalam celana dan mengelus batang kontolku yang sama sekali belum pernah singgah kedalam memek gadis manapun.
"Mpphh..!! Huphf...haphf!", semakin bertubi-tubi telingaku mendengar luapan erangan dari mulut mungilnya yang tersumpal itu menambah sensasi indah adegan dari ketidakberdayaan seorang gadis yang tengah dipaksa menjalani kodratnya sebagai wanita yang harus melayani lelaki.
Sampai suatu saat terlihat tubuh telanjang gadis itu terhenti kaku seketika, jari-jari kedua belah kakinya yang indah mengatup begitu eratnya dan seketika jatuh terjuntai di atas kasur pelaminan itu dengan menopang pada lekukan jari kakinya yang masih menekuk kedalam mengacak-ngacak sprei putih dibawahnya dengan tumit terangkat, sedangkan belahan pinggulnya mencuat tinggi keatas dengan bongkahan pantatnya menjungkit diwajah lelaki itu, jeritan tertahannya memecah segenap isi ruangan kamar percintaan paksa dari kedua insan berlainan jenis, dan itulah agaknya orgasme pertama dari gadis yang masih perawan ini yang serta merta disambut gembira oleh lelaki bajingan kepala perampok itu.
Aku merasa bahwa kini selangkangan gadis itu telah luber oleh cairan lendir yang tadi telah kulihat menempel pada celana dalamnya yang masih tergantung di betisnya, hal ini dibuktikan dengan jilatan-jilatan lidah lelaki itu yang kini sangat gencar kembali menyapu pangkal pahanya yang terbuka pasrah begitu indah mempesona pada penglihatanku. Dari balik tembok aku mengamati setiap juluran lidah lelaki itu kini selalu membawa tetesan lendir yang dihasilkan oleh kemaluan sang dara cantik tersebut.
"Bagaimana manis ?? Enak bukan ?? ha.. ha.. ha.. kini kau telah merasakan betapa nikmatnya surga dunia pada malam ini bersamaku, kau sangat cantik sekali manisku.. aku ingin mencicipi lezatnya kehangatan tubuhmu malam ini sepenuhnya sayang.. hmm.. hmm.. enak sekali lendir kegadisanmu ini..", seloroh lelaki perkasa itu di sela-sela jilatan pada vaginanya. Tak satupun rasanya lelaki itu menyisakan cairan surgawi sang dara korbannya yang terus direguknya sampai licin tandas sama sekali. Lendir sari keperawanan gadis itu sampai ludes ditelan semuanya oleh bajingan yang memaksanya malam itu.
Tubuh telanjang gadis itu yang masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya tadi langsung diangkat oleh lelaki perkasa tersebut kemudian di balikkan posisi kepalanya menghadap kepadanya yang telah berdiri dengan gagahnya. Kini tubuh telanjang dan kedua kaki gadis itu berubah posisinya yang selonjoran menghadapku, akhirnya inilah yang aku tunggu! Betapa kini aku dapat menikmati paha putihnya yang sedari tadi hanya dapat kulihat lebih jelas melalui pantulan cermin disana.
Kulit kakinya begitu indah dan ramping mulus dengan kuku-kuku kakinya terhias oleh kutek bening kebiruan yang transparan berkilat indah dibalik stocking hitamnya yang seperti jala-jala kecil itu. Namun kedua belah kaki itu masih berselonjor rapat serta belum terbuka, sehingga aku kesulitan melihat isi kemaluannya yang masih berupa garis vertikal yang rapat di antara bulu-bulu kelamin yang mengelilinginya.
Terlihat batang kontol lelaki itu baru agak menegak keatas yang baru separuh ereksi dengan rimbunan bulu jembut yang begitu lebat dan perkasa dihadapan wajah gadis cantik itu yang dipaksa tengadah. Sambil membuka dagu lancip gadis belia nan cantik itu sehingga bibir mungilnya terbuka, lelaki itu tampaknya terlebih dahulu akan memerawani mulutnya yang telah ia lepas sumbatan kainnya seraya mengacung-acungkan parangnya ke atas kepala korbannya, sehingga tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang ketakutan setengah mati.
"Ayo! Keluarkan lidahmu sekarang manisku.. kini jilatilah kedua biji kejantananku ini sayang.. dan jangan macam-macam!!", hardik lelaki jahanam itu yang telah menyorongkan selangkangannya ke mulut mungil sang dara korbannya.
Dengan takut-takut gadis itu menuruti perintah lelaki bajingan itu mengeluarkan lidah kecilnya yang memerah, lalu dengan perlahan mendekati pangkal kedua buah pelir yang tergantung itu. Lelaki itu dalam penglihatanku juga merasakan sensasi yang nikmat manakala lidah mungil gadis belia itu menyentuh permukaan kulit biji pelirnya yang dihiasi dengan bulu-bulu jembut kasarnya. Begitu terasa hangat dan lembut baginya untuk lidah seorang perawan pada kejantanannya itu.
"Ketahuilah manisku.. bahwa aku berbahagia sekali mendapatimu malam ini, karena rupanya suamimu sama sekali belum pernah menjamah tubuhmu ini.. lama sekali aku menantikan saat-saat seperti ini.. saat dimana aku dapat mencicipi kehangatan serta kenikmatan dari tubuh seorang gadis belia sepertimu.. dan aku senang sekali bahwa kau telah menjaga dengan baik kesucianmu.. maka izinkan aku untuk mencicipi lezatnya rasa keperawanan itu dari tubuhmu ini.. ouh!", demikianlah curahan hati lelaki yang tengah dilanda nafsu terpendamnya untuk merasakan kehangatan dari kemaluan gadis belia yang masih suci.
Masih belum terdengar suara balasan terucap dari bibir mungil milik gadis itu untuk menanggapi kalimat yang dilontarkan bajingan perkasa tersebut, namun tanpa menunggu jawaban itu keluar, lelaki itu kini telah membuka paksa dagu sang dara korbannya, sampai bibir indah yang meranum itu merekah dan perlahan ia menjejali mulut mungil si gadis dengan kepala kejantanannya yang kini telah ereksi penuh dan mengacung tegak. Begitu besar dan panjang kontol lelaki itu yang dua kali ukuran kepunyaanku ini. Urat-urat tonjolannya begitu nyata bersemburat dari balik permukaan kulit batang pelir lelaki itu, benar-benar lelaki itu seorang lelaki pejantan yang akan membuat gadis ini akan bertekuk lutut dan pahanya sebentar lagi.
Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari belahan bibir seorang dara yang tak berdaya ini mengiringi setiap jejalan urat pelir lelaki itu yang semakin dalam memasukki rongga mulutnya serta menembusi pula kerongkongannya, hingga pada akhirnya hidung gadis itu yang mancung telak beradu dengan kedua biji pelir berbulu lelaki itu yang masih tergantung dengan gagahnya. Kini mulut mungil dara itu telah diperawani olehnya dan batang kejantanannya yang besar dan panjang itu telah basah didalamnya oleh ludah sang gadis suci itu. Pastilah gadis itu telah mencium pula aroma dari batang pelir gagah sang bajingan pemetik bunga ini, walaupun dengan keadaan terpaksa untuk menerimanya secara pasrah demi keselamatan sang suami yang tertawan oleh para perampok jahanam tersebut.
Setelah itu lelaki itu mulai membuat batang pelirnya keluar masuk dalam mulut mungil sang mempelai wanita yang telah terjejal penuh sesak oleh daging kejantanannya ini. Kulirik arlojiku dipergelangan tanganku, sepuluh lewat seperempat dan baru setengah jam waktu berlalu. Tak tahan menyaksikan adegan tersebut aku berlalu untuk pipis dulu sejenak di kamar kecil lantai bawah, sengaja tak kusiram agar tak terdengar suara gemericik cebokkan air, bahkan aku sampai pipis jongkok agar deru air seniku teredam. Dan ketika aku kembali melaksanakan aksiku mengintip dari celah lubang dinding itu, aku kini telah dapat melihat bagian intim dari gadis itu yang selama ini telah tersembunyi dariku.
Kini kedua tungkai kaki kiri dan kanan gadis itu dipegangi oleh lelaki itu sebagai acuan untuk mendorong tubuh telanjangnya sehingga mulutnya dapat terus dijadikan sebagai ajang nafsu untuk melayani pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi kerongkongannya. Gaun bagian bawah dari busana pengantinnya telah tersibak lagi sampai mengelilingi pinggangnya yang begitu ramping memukau. Otomatis kedua belah kaki itu kini mengangkang lebar pada penglihatanku yang pada akhirnya membuatku dapat melihat lubang sang perawan beserta lubang anusnya begitu terpampang jelas di antara selangkangannya yang begitu putih mulus indah nan bersih terawat.
Kedua lubang itu telah basah oleh ludah lelaki itu dan kini terlihat berkilat-kilat diterpa cahaya lampu kamar peraduan tersebut. Manakala lelaki itu tengah menarik kedua tungkai gadis itu, maka otot panggul gadis itu ikut tertarik sehingga menarik pula belahan bibir kemaluannya dan terkuak sedikit dan secara bersamaan pula aku dapat melihat isi didalam belahan keintiman gadis belia cantik ini yang begitu tiada cacat dan celanya.
Gerakan-gerakan yang membuat belahan bibir kemaluan berbulu basah gadis itu membuka dan menutup semakin memperjelaskanku akan apa yang terlihat pada isi dalamnya yang masih sempit memerah serta sudah agak lembab membasah setelah orgasmenya tadi. Dibalik belahan bibir luar dari memek gadis itu yang terbuka mengangkang, terdapat pula bibir dalamnya yang masih mengatup rapat dan hanya menyisakan lubang kecil sebesar ujung jari kelingking.
Aku melihat selaput keperawanan gadis itu terpampang menjaga jalan masuk di sekitar lubang kecil tersebut. Kegadisan yang selama ini betapa telah dijaga dan begitu dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali agar kelak dapat dipersembahkan secara utuh kepada sang suami tercinta, namun kini telah terhidang secara paksa untuk melayani dan memuaskan kepala rampok itu sebagai tebusan keselamatan suaminya yang terkasih.
Tangan rampok yang tadi mencengkeram tungkai kaki kanannya semakin berani saja beraksi, kini tangan itu telah berpindah pada permukaan celah kewanitaannya yang masih berbentuk garis membujur yang rapat dihiasi oleh jembutnya nan merangsang. Perlahan jari tengahnya yang besar dan berkulit kasar milik lelaki itu menyusup pada belahan selangkangan korbannya yang sangat intim serta menemukan tonjolan daging klentitnya yang bermuara pada bulu-bulu kelamin gadis itu. Tak ayal lagi, klitoris gadis itu yang membasah menjadi sasaran empuk bagi jari-jari itu untuk menari-nari diatasnya. Gadis itu mengerang kegelian diperlakukan seperti itu, dan memang bagi setiap wanita, bagian itu adalah hal yang paling sensitif untuk membangkitkan hasrat dan gairah terlarangnya.
Aku turut menikmati bagaimana dalam setiap gesekan turun naik yang dilakukan oleh jari pria itu pada itilnya memberi pengalaman dan sensasi baru pada korbannya. Dan belahan vagina si perempuan semakin terbuka secara alami dengan adanya kuakkan yang dilakukan oleh jari yang tenggelam didalamnya. Daging klentit korbannya semakin lama semakin bengkak dan memerah berlumur cairan memeknya yang merembes dari lubang keintimannya itu.
Akankah nantinya dara belia ini akan mampu melayani kehendak dari lelaki perkasa tersebut? Mampukah vagina gadis muda duapuluhan tahun ini menerima kehadiran batang pelir sang lelaki gagah ini ?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi otakku disela-sela permainan birahi penuh paksa terhadap seorang gadis muda belia nan cantik sempurna yang tak lama lagi akan dipaksa melewati malam pertamanya bukan dengan suaminya nan tercinta, tetapi dengan sang kepala perampok durjana tersebut.
Mungkin sangat enak sekali apabila batang kontolku berada dalam mulut gadis itu, tetapi semuanya itu hanyalah fantasiku belaka saja, melalui pikiranku aku hanya dapat membayangkan kehangatan dari rongga mulut wanita muda itu yang basah tengah mengulum pelirku dan menjilati kedua bijiku pula. Akan enak sekali apabila ditambah dengan lidah mungil dara itu yang turut menari-nari di dalamnya mempermainkan batang kontolku di dalam. Ahh.. membayangkan hal tersebut membuat celanaku kini semakin basah oleh cairan pelumas yang berasal dari ujung lubang kontolku ini. Tetapi aku masih sayang untuk mengeluarkan air maniku, karena aku masih yakin sekali bahwa lelaki durjana itu tak akan melepaskan begitu saja korbannya sebelum berhasil menggarap tubuh dara belia ini. Sedangkan jari tengahnya itu masih saja tak henti-hentinya memainkan daging kelentitnya yang telah menegang kencang.
Hanya lima menit saja kulihat lelaki itu mempermainkan batang zakarnya memperkosa mulut gadis belia korbannya, sebab akupun menyaksikan mulut dara itu begitu menganga lebar membentuk bulatan dengan penis yang menjejali keluar masuk melewati celah-celah bibir mungilnya nan indah menawan dan merangsang kelelakianku pula. Nafas keduanya memburu seisi ruangan dan aku mulai merasa dari celah lubang itu terasa hawa pengapnya mulai terasa sekali diantara tersengalnya nafas sang dara jelita yang kerongkongannya tersumbat oleh kejantanan si garong. Erangan dan lenguhan silih berganti keluar dari mulut sang perawan belia ini ketika melayani lelaki tak dikenalnya itu sebelum akhirnya tibalah pada saat yang telah lama kuidam-idamkan.
Sang lelaki perkasa mencabut batang zakarnya yang telah berlumur air ludah dari mulut mungil dara cantik tersebut serta melepas pula jarinya dari klentit itu. Kelihatan sekali sisa-sisa ludah gadis itu telah membuat tonggak dagingnya semakin berkilat-kilat membasah dari ujung sampai kepangkalnya, juga lendir kemaluan dara itu telah menempel pada jari tangannya yang menggosok itilnya. Batang kontol perkasanya telah tegak mengacung menjawab tantangan birahi sang perawan.
Lelaki kepala rampok itu segera berpindah posisinya setelah tadi berdiri menghadapku, kini ia seakan berjalan dan menghadap kearahku. Rasanya tak akan ia memergokki aksiku, karena aku tahu bahwa ia sudah cukup terangsang oleh ritual pemanasan hubungan intim yang diberikan secara paksa oleh si gadis. Dengan punggung kekarnya yang telah membelakangiku, ia menaikki ranjang peraduan yang tadinya sengaja disiapkan untuk malam pertama dari ritual pasangan suami istri baru itu.
"Ayo manis.. bukalah pahamu sekarang..", pinta lelaki itu.
"Ahh.. jangan!! Belum puaskah engkau setelah tadi kau mempermainkan tubuhku?! Mau apalagi kau sekarang bajingan?!", air mata gadis itu mulai meleleh lagi membanjiri kedua pipi dari wajahnya yang begitu menjanjikan birahi setiap pria.
Wahh..gadis itu sudah berani melawan, pikirku.
"Aku bilang buka, yah buka!! Kau berani membantah, hah?!", bentak garong itu.
"Aku tidak mau!!", teriak gadis itu sambil beringsut ke pinggir ranjang serta menekuk kedua kaki indahnya yang mempesonaku. Tubuhnya semakin meringkuk di sudut tepian tonggak kayu penyangga kelambu ranjang pengantinnya.
"Coy!! Matiin!!", teriak lelaki itu kencang sekali memecah kesunyian malam hingga didengar oleh anak buahnya yang berada dilantai bawah.
"Ohh! Tidakk!! jangan lakukan!!", tangis gadis ini membahana di antara rontaan kedua belah tangannya yang asih terikat tak berdaya di punggungnya. Namun tetap saja sia-sia, karena ikatan tambang itu begitu kuat mengikatnya.
"Rasain!!..", pekik kepala garong itu, namun kali ini ia menarik dengan kasar celana dalam yang masih terkait di betis kiri korbannya yang menolaknya hingga robek, kemudian menyumpal mulut mungil dara itu dengan kain celana dalam gadis itu sendiri.
"Ouhfh... aaufh... mmpphhf!", percuma saja ia berteriak, karena mulutnya sudah tersumbat lagi kini.
Karena memang lelaki itu sudah niat sekali untuk memperkosanya, maka tubuh dara itu kini ditariknya, tangan kekarnya kembali menangkap kaki kiri gadis itu kemudian melucuti stocking hitamnya, lalu mengikat kakinya itu dengan utas tambang tepat menghadap kearahku. Tampak dalam penglihatanku telapak kaki mulus milik dara itu yang telah telanjang meronta-ronta saat diikat, apalah daya seorang wanita lemah seperti dirinya melawan tenaga dari lelaki tegap ini.
Sebentar saja kedua belah kakinya telah tergantung di tiang kelambu kiri dan kanan ranjang itu, bergerak-gerak dalam rontaannya yang tersia-sia. Ditariknya untaian kalung emas yang melingkar dileher jenjang gadis itu, juga gelang emas dikakinya dibetot sampai putus, kemudian dilempar oleh garong itu ke meja rias kamar itu. Mahkota pengantinnya juga dilucuti paksa serta sisa gaun pengantin yang melingkar dipinggangnya di cabik-cabik dengan sangat kasarnya oleh bajingan terkutuk itu.
Kini kedua tubuh kedua insan berlainan jenis kelamin itu telah terpampang telanjang dimukaku, betapa sempurna bentuk tubuh keduanya itu. Tubuh pria berkulit gelap ini sangat kontras warnanya dengan tubuh putihnya gadis itu yang mulus, betapa yang satu begitu tampak kasar dan perkasanya, sedangkan yang satunya lagi begitu halus kulitnya, benar-benar serasi dipandang mata. Aku terkagum-kagum dengan bentuk tubuh keduanya diantara merambahnya sang malam yang tengah menuju ke pukul setengah sebelas malam. Kusaksikan lelaki itu telah menempatkan dirinya diantara kedua belah kaki dara itu yang sudah terkangkang dengan kedua lubang ditubuhnya terlihat jelas olehku.
Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, lelaki itu menyibakkan bulu-bulu jembut sang gadis belia nan begitu menawan, dikuakkannya belahan bibir vertikal yang berbentuk aluran indah lubang surga itu, membuatku dapat pula menyaksikannya lagi isi dalamnya yang masih lembab dan memerah lengkap beserta kelentit basahnya yang telah membengkak. Menggairahkan sekali isi belahan daging kemaluannya yang direkahkan, sayang sekali aku hanya dapat melihatnya tanpa dapat menyentuh atau merabanya, apalagi menikmatinya. Isi dalam liang sanggama kepunyaan gadis itu masih terdapat sisa-sisa rembesan lendir surgawinya, bibir dalamnya agak berkedut-kedut saat lelaki itu mengintip memeknya, saking takutnya gadis itu tanpa sengaja menggerak-gerakkan otot vaginanya untuk menolak apa yang akan dilakukan sebentar lagi dari lelaki bajingan itu kepadanya.
"Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha", tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.
Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.
Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?
Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.
Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.
"Oughh...! Aaghh!", begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.
Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.
Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.
Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.
Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya.
Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.
Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.
Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.
"Arghh!", jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.
Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.
"Slep.. slep.. blessek..!", begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.
Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.
Bajingan itu terus menikmati jepitan dinding kemaluan gadis itu beserta selaput keperawanannya dan ia terus bertahan disitu tanpa melakukan satu gerakan apapun terlebih dahulu. Pertama, ia masih belum rela melepaskan kenikmatannya yang tak terlukiskan oleh kata-kata tatkala dinding keperawanan gadis korbannya itu sangat memberi kelembutan serta kehangatan yang tiada terkira untuknya, sebab ia tahu apabila begitu batang pelir yang telah terbenam seluruhnya kini ke dalam dasar kemaluan dara itu ia tarik ataupun dicabut, maka kesuciannya akan terenggut sudah.
Rasanya tak ada satu kenikmatan apapun di belahan bumi ini yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya kala bersetubuh dengan seorang wanita yang masih perawan. Dan yang kedua, ia memberi nafas kepada gadis belia yang ditidurinya itu agar memeknya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran kontolnya yang begitu sangat besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksa harus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belah pahanya yang terbuka.
Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang dirasakan gadis muda belia itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadani oleh seorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang teredam sumpalan kain celdamnya begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelaki perkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat gadis itu dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.
Sementara rambut hitam panjang sebahu milik gadis itu seakan terlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas kasur putih ranjang pengantinnya ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering dan kini telah tergantikan.
Didekapnya tubuh telanjang dari gadis belia yang kini berada dibawahnya dan dada bidang perkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang kanan yang begitu halusnya dari si wanita sehingga membuat kepala wanita tak lagi dapat bergolek kesana kemari.
Dijilatinya leher jenjang sang perawan itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan air liur kemenangannya. Puting susu sebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yang masih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.
Celana dalam yang tersumpal di belahan mulut mungilnya ditarik lepas dan langsung tergantikan oleh ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya sebelum gadis itu sempat mengeluarkan erangan dan rintihannya kembali. Kedua bibir dari insan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha mengait-ngait lidah wanita yang masih belia tersebut nan telah dicicipi kehangatan dan kelembutannya saat tadi mengulum batang zakarnya.
Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini sang dara hanya bisa pasrah merelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis, kadang bisa dibuat tegang kaku saat waktu lalu digunakan menyodok-nyodok celah lubang duburnya, kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya kini. Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kini kontol yang cukup lama terbenam di dasar memek itu kini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.
"Psshh...! sleph.. wes hewess..!", suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan proses terenggutnya kesucian gadis itu dimulailah.
Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari dalam belahan intim kemaluan gadis itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang memeknya dimana kulit-kulit kontol bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.
"Mmpphff! Ugh! Ughff!!", itulah suara rintihan dari seorang dara yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkala melepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.
Betapa hancur hati sang dara itu kini, tangisan pilunya mewarnai tragedi di malam pengantinnya ini mengiringi kepergian sang suami tercinta yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, sedangkan dirinya kini telah jatuh dalam pelukan lelaki lain yang sama sekali tak dikenal apalagi dicintainya, namun tubuhnya telah menjadi satu dengan jahanam itu dan semua yang ada diketelanjangannya berbaur sudah. Tak ubahnya tubuh gadis itu adalah tubuh lelaki itu, demikian pula sebaliknya, tubuh lelaki itu adalah merupakan bagian dari tubuhnya kini. Ya! Mereka telah menjadi satu tubuh sekarang dalam adegan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki dan seorang perempuan nan telah dewasa dalam ikatan benang merah perkawinan.
Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsu hewaniah. Tubuh telanjang gadis itu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggul lelaki itu diantara kedua kaki indah nan mengangkang menggetarkan hatiku itu. Aku berkhayal andaikata saja gadis ini menjadi istriku, maka aku akan meminta jatah ranjang padanya setiap malam, dan aku akan meningkatkan staminaku untuk membahagiakannya. Mungkin madu dan telor akan menjadi menuku sehari-hari dan aku akan mengenjot terus tubuh telanjang mudanya yang aduhai begitu sempurna keindahannya bagaikan seorang dewi yang turun dari langit saja layaknya sampai sang pagi datang menjelang.
Ikatan tambang yang mengikat erat kedua kakinya ini kini dilepaskan oleh lelaki durjana itu, karena ia telah yakin bahwa kini korbannya telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pula oleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentang kencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang terjepit ketiak itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubang memeknya dan tubuhnya yang sudah bermandikan oleh peluh persebadanannya itu terhempas-hempas dibuatnya.
Oh seperti inikah yang dinamakan kenikmatan dari surga dunia? Saat kontol lelaki itu keluar masuk di lubang kenikmatan si wanita? Tapi yang pasti aku sangat yakin sekali kenikmatannya tak sebanding dengan diriku yang hanya bisa beronani saja, padahal aku yang hanya menonton saja adegan nikmat itu berlangsung sudah sedemikian nikmatnya, apalagi bila aku yang melakukannya terhadap gadis itu?
Dengan posisi setengah jongkok lelaki jahanam itu terus menggenjot tubuh belia yang masih begitu kencang dan padat diusia mudanya. Kedua tungkai paha gadis itu kini ditekan oleh kedua tangannya sehingga kangkangannya semakin jelas dan lebar dimataku dengan kedua tumit kaki indahnya bertumpu pada kedua belah pundak berkulit gelap sang pemimpin perampok tersebut. Wajah cantiknya yang tergerai rambut hitam panjangnya semakin tengadah membelakangiku hingga aku hanya dapat melihat dagu lancipnya saja nan cantik mempesona itu. Kedua kakinya semakin tertarik keatas bertopang pada pundak kiri dan kanan sang lelaki jahanam yang telah leluasa menikmati kehangatan tubuh mudanya itu.
Dalam posisi yang sebegitu rupa ini membuat bongkahan dari pantat gadis yang berkulit putih mulus licin itu semakin mencuat keatas mempertontonkan lonjakan-lonjakan kejantanan lelaki itu yang masih terlihat seret keluar masuk pada memeknya. Kedua biji pelir lelaki itu yang terpontang-panting menabrak-nabrak jalan masuk lobang pantatnya semakin nyata mengiringi lelehan lendir kewanitaannya yang telah bercampur aduk dengan darah kesuciannya nan terus menggenangi mulut vaginanya dan dijadikan bulan-bulanan olehnya.
Cairan surgawi kepunyaan gadis itu telah merembes sampai membasahi lubang anusnya yang begitu kecil tak berdaya nan berwarna merah muda sungguh menawan hati ini beserta bercak-bercak darah keperawanannya yang telah direnggut serta dicicipi lendir madunya itu. Ranjang mahligai indah kamar pelaminan yang menjadi tempat tumpuan adegan persetubuhan mereka itupun mulai berderit-derit seiring dengan suara decakan peret pada lubang kemaluan dara yang digagahi oleh kepala bajingan zina ini.
"Ough... ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh... Ouh", seloroh bangsat itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan daging belia korbannya ini.
"Ahh...! ahh..! aduhh..! perih Mas.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh.. ahh", pinta dara itu akhirnya.
"Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..", balas lelaki itu yang asyik mengentoti memeknya di hadapanku.
"Sshh.. ahh... sshh.. ohh.. pelan-pelan mas.. ahh.. ahh.. ahh", pintanya di sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
"Jangan ditahan terus dong kontolku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh", perintah bangsat itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelas bibir memeknya yang melesak ke dalam dan memonyong ke depan mengikuti hunjaman pelir besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya menghadapku.
Liang anus gadis itu juga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji pelir lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat dara itu yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang itu kepada diriku.
Kedua tubuh itu terus bergumul seakan tak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkan lagi dalam gelora nafsu membara yang menyala-nyala dikamar yang telah pengap dan sesak oleh permainan asmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.
Bahkan ketika aku mendekatkan hidungku pada lubang dinding kamarku, ternyata lewat endusan nafasku aku dapat pula membaui aroma rasa dari memek gadis itu yang telah sembab membasah dan ini pengalaman pertamaku dapat mencium bau pesing memikat nikmat yang khas dari celah memek seorang wanita nan masih begitu muda belia ini setelah berhasil membedakannya dari aroma pekat batang pelir lelaki itu. Bau-bau itu menyatu menghasilkan sensasi aroma persetubuhan yang melenakan aku untuk terus membuka mata pada malam yang telah larut itu.
Tak lama kulihat tubuh telanjang gadis itu yang berada dibawahnya terlejang-lejang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua. Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh bugilnya tanpa sehelaipun kain menutupi kulitnya lagi. Kedua kakinya kini menendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh polosnya itu dan belum lagi kelojotan dara itu terhenti, lelaki itu segera mencabut pelirnya dari dalam lubang memeknya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.
"Wess hewess.. poof!!", begitulah suara yang dihasilkan saat pelir kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan sang dara yang telah kehilangan keperawanannya ini.
Sekujur kulit luar dari kontol nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir memek yang bercampur dengan lumuran darah segar kesucian sang dara cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari ranjang pelaminannya sehingga ujung jari kaki yang dihiasi kutek bening transparant itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Kedua otot dari jari-jari kaki indahnya mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat berada pada wajah lelaki itu yang menadahkan lidahnya pada perbatasan antara belahan bibir memek gadis tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.
Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yang bengap dan basah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehan lendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telur burung puyuh. Cairan yang keluar dari memek itu langsung ditelan oleh lelaki itu dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan memek korbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Tubuh telanjang dara itu kini terjerembab pada hamparan kain sprei putih ranjangnya yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya pula selain dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuhnya kini yang telah lusuh tanpa tenaga lagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh telanjang gadis itu yang rmaping itu dibalikkan secara paksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.
Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging menghadap penglihatanku. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itu dengan mengambil gaya dari anjing yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi membuka pantat itu dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buang hajat. Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkan dengan nilai kenikmatan yang dapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpacar dari dalamnya.
Setelah puas menjilati dubur dari sang pengantin perempuan yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang pelirnya kembali ia selusupkan ke dalam memek gadis itu yang telah kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa memeknya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupun harus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparat hukum.
Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya. Kedua insan yang sedang kawin ini tak henti-hentinya mengajariku bagaimana cara melakukan hubungan intim suami istri dalam posisi yang lain dari biasanya.
Menjelang tengah malam, kusaksikan lagi tubuh telanjang dari itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula ia disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Mataku telah agak berkunang-kunang menyaksikan pemandangan tersebut, padahal aku selalu berganti-ganti mata kala mengintip adegan dewasa antara keduanya yang terus berlangsung. Malangnya aku melihat dara itu tak sadarkan diri lagi usai mencapai puncak surga duniawinya dari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.
Kalau diamat-amati rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti kepala garong yang sadis ini namun dapat memberi kebahagiaan badani pada wanita korbannya itu. Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh memek gadis itu pada puncak kenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudian menggenjot kembali tubuh si gadis belia ini dengan brutal.
Tampak di penglihatanku sekarang pompaan pelir lelaki ini pada memek korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan sprei dibawahnya itu telah benar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja dara itu tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti memeknya akan terasa nyeri diperlakukan sedemikian brutalnya oleh perampok bajingan tersebut.
Barulah kulihat pada pukul setengah satu pagi, tubuh lelaki itu bergetar hebat diatas tubuh korbannya yang pingsan untuk sekian lamanya dan tanpa sepengetahuan gadis muda belia nan cantik ini, bajingan ini memuntahkan segenap akhir puncak dari nafsunya yang meledak-ledak kedalam tubuhnya. Paha yang terbuka membentuk huruf "V" dari tubuh gadis itu ditekannya kuat-kuat. Tubuh kekarnya seakan telah lekat menjadi satu dengan korbannya dan tanpa aku sadari sebenarnya lelaki itu sedang memuntahkan seluruh persediaan cairan mani lelakinya yang sejak tadi tersimpan di kedua belah biji pelir besarnya nan perkasa. Tanpa sepengetahuanku sama sekali cairan kontol lelaki itu yang mengandung benih-benih cintanya kini muncrat-muncrat mengisi rongga rahim gadis itu yang tengah dalam keadaan subur malam itu.
"Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!", benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan memek gadis itu yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali ini.
Bahkan aku kini dapat melihat rembesan lendir mani lelaki jahanam itu keluar dari celah-celah memeknya yang masih menelan penuh keseluruhan dari batang kontol perkasanya itu didalamnya sampai melumuri lubang anusnya, bahkan sampai menetes-netes ke permukaan sprei pengantin itu dibawahnya setelah meleleh di bongkahan pantat sang dara belia yang terkalahkan. Saking terlampau banyaknya lendir nista dari lelaki itu sehingga membuat seluruh rongga rahim gadis belia nan mungil ini kini tak sanggup lagi untuk menampung semuanya.
Dan kini kedua tungkai kaki milik gadis yang masih tak sadarkan diri ini diangkat tinggi-tinggi oleh sang bajingan tersebut hingga belahan bongkahan daging pantatnya yang terbuka telah sejajar dengan dada berbulu milik sang lelaki jantan penakluk si kembang desa ini. Permukaan dada itu digesek-gesekkan pada bongkahan pantat dara bunga yang telah berhasil dipetik keindahannya ini olehnya seraya menyaksikan memeknya yang telah banjir dilumuri oleh lendir putih kentalnya.
Dalam posisi yang setengah menggantung demikian tubuh telanjang dara itu hanya dapat bertumpu pada kedua belahan pundaknya yang tertekuk seperti udang dengan kedua kaki terbuka mengangkang diudara. Alhasil belahan lubang memeknya yang telah penuh oleh cairan lendir mani lelaki itu terjungkit keatas dan agaknya memang lelaki itu menginginkan tubuh korbannya bertahan pada posisi itu agar benih spermanya yang telah ia muntahkan tadi dapat membuahi rahim korbannya ini. Benar-benar kepala rampok itu seorang maniak tulen yang sangat dahsyat dan brutal aksinya tersebut serta membuatku semakin ngeper saja karena takut tertangkap basah pula olehnya. Sepuluh menit ia hanya terpaku sambil tetap menahan tungkai kaki gadis itu yang terkapar tanpa perlawanan lagi dan terus terpekur menatap lubang kencing pada selangkangan dara ini nan merekah.
Kepala rampok itu turun dari ranjang pelaminan korbannya dengan senyum kemenangan, ia segera mengemasi perhiasan-perhiasan yang tadi gadis itu kenakan, bahkan cincin kawin berlian kepunyaannya telah dilolosi pula dari jari manis lentiknya yang masih belum sadar dari pingsannya setelah dinodai oleh lelaki ini. Dilantai bawah kamar pengantin itu telah berserakkan oleh ceceran kain yang dulunya melekat ditubuh keduanya dan diraihnya sepatu putih sang mempelai wanitanya untuk kemudian diendusi dalamnya tempat kaki gadis itu biasa melekat disitu.
Tampaknya ia sangat menikmati hal tersebut, lalu celana dalam gadis itu juga kembali diciuminya sampai aku berpikir bahwa lelaki ini benar-benar telah dibatas ambang normal manusia pada umumnya. laci meja riasnya diacak-acak dan mengambil barang-barang berharga yang terdapat didalamnya, demikian pula isi lemari pakaian korbannya lalu semuanya dikumpulkan dalam satu kantung plastik hitam siap untuk dibawa pergi. Setelah itu ia keluar dari kamar itu meninggalkan tubuh gadis belia yang telah digagahinya secara sadis sepanjang malam sambil membawa ceceran pakaiannya sendiri.
Kira-kira pada pukul satu dini hari, tubuh kepala rampok itu meloncati pagar sambil menggendong karung hasil rampasannya dari rumah sebelah sebelum menghilang di kegelapan malam. Tubuh dara itu masih terbujur lemas di ranjangnya, namun kini aku melihat salah seorang anak buahnya membuka pintu kamar dimana gadis belia ini tertidur. Sambil mengendap-endap dirinya mendekati dan menaikku ranjang peraduan itu dengan tersenyum-senyum mesum. Tangannya yang kurang ajar mencolek-colek tubuh telanjang itu serta berusaha membangunkan tubuh dara molek itu yang masih terlentang indah menantang di matanya ini.
Demi mengetahui bahwa gadis ini sudah pingsan, ia merentangkan kedua belah gadis itu membentang terkangkang. Dilihatnya memek wanita muda cantik nan dihiasi jembut kemaluannya telah penuh oleh ceceran sperma yang telah mengering disana-sininya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dicelupkan kedalam belahan terlarang dari gadis itu nan terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak dinding keintiman yang berada didalamnya. Ketika dikeluarkan kedua jari itu telah berlumur cairan vaginanya yang telah menyatu dengan bercak darah kesuciannya disana sini sebagai bukti nyata bahwa keperawanannya sudah dimakan oleh bossnya dan dialah lelaki pertama yang berhasil memerawani tubuhnya.
Walaupun begitu ia tetap akan mengambil jatah bagiannya pula untuk menggarap gadis tersebut dengan berpatokan bahwa memek wanita bisa untuk di "salome", alias satu lobang untuk rame-rame. Ia mengambil plester dari saku celananya lalu memplester rapat kedua mulut bibir dara itu yang terkatup, lalu kedua tangannya dijadikan satu ke atas kepalanya kemudian diikatkan dalam posisi berdiri diatas papan atas yang membentang diatas tiang kayu kelambu ranjang perkawinan itu dengan susah payah ia merengkuh tubuh telanjang si dara yang masih lemas itu agar dapat diatur posisi enakknya untuk digarap olehnya.
Pada laci meja rias gadis tersebut kini ia menemukan sebotol parfume yang beraroma tajam, lalu ia lekatkan ke lubang hidung gadis itu untuk menyadarkannya. Dara itu membuka kedua belah pelupuk matanya yang cantik. Bola matanya yang bulat bersih bersinar itu kini terbeliak terkejut mendapati dirinya sudah tergantung dengan kedua tangannya telah terikat diatas kepalanya. Lelaki itu dengan liarnya telah mengemuti puting payudaranya dan sudah dalam keadaan telanjang pula, ketiak dara ini tak luput dari sasaran sapuan lidahnya yang sudah konak ini. Betapa malang nian penderitaan yang harus ditanggung oleh gadis belia yang telah ternodai sedangkan suaminya telah dibantai secara keji para garong itu tanpa ampun.
Lelaki yang kedua ini membasahi sekujur tubuh bugilnya nan begitu sedap dipandang mata serta menawan hati segenap pria dan aku yakin takkan ada seorangpun lelaki yang akan menolak bersebadan dengannya. Seperti mandi kucing saja ia menikmati setiap lekuk liku tubuh telanjang gadis itu yang membakar birahi kejantanannya kini sampai sekujur tubuh gadis itu dilumuri semua oleh cairan ludahnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa perlawanan yang berarti. Kulihat tatapan gadis itu telah kosong kedepan saat dicumbui lelaki kedua yang merupakan salah satu anak buah dari ketiga garong yang menyatroni rumah barunya ini.
Harga dirinya telah hancur lebur serta kehormatannya telah hilang dari tubuhnya. Sang bunga desa yang sedang mekar-mekarnya ini di tengah usianya nan belia telah terpetik sudah. Keperawanannya telah ludes tandas dicicipi para lelaki laknat ini. Lelaki kedua ini telah berdiri berhadapan dengan tubuhnya yang telanjang siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan tungkai kaki kiri gadis itu yang dalam posisi berdiri tersebut ditekuk lututnya dan ditahan oleh lengan kanannya sehingga setengah mengangkang.Batang pelirnya yang tak sebesar kepunyaan bossnya tadi tampak sudah tegang mengacung. Diarahkannya kontolnya itu ke dalam belahan lubang kencing gadis itu untuk kemudian dibenamkan secara paksa.
"Bless.. blesek!", habislah sudah kontol itu tertelan oleh memek cewek nan cantik ini. Dientotnya cewek pengantin ini dengan tak kalah buasnya dengan sang bossnya tadi.
Meskipun sang malam telah turun dari peraduannya, namun tak membuatku menjadi mengantuk, malahan aku semakin bersemangat saja menyaksikan aksi pelecehan seksual yang tengah dilakukan oleh lelaki kedua ini terhadap korbannya. Birahinya begitu meletup-letup saat mengentoti vagina gadis malang ini. Kedua belah testisnya menampar-nampar pantat dara ramping nan montok begitu menggemaskan itu. Pinggul lelaki itu bergoyang-goyang luwes diantara rekahan pahanya yang terbuka. Kaki kirinya sang dara yang tengah dientot sambil berdiri oleh lelaki ini tampak terguncang-guncang hebat.
Kedua tubuh yang menyatu di malam itu seperti pertunjukkan tarian striptis nan penuh dengan nuansa erotis. Rambut hitam panjang sebahu gadis itu bahkan sampai tersibak-sibak kekanan dan kiri dari sisi wajahnya yang sudah tanpa ekspresi lagi. Pompaan pada tubuhnya yang tergantung itu terus dilancarkan oleh lelaki kedua ini nan bertubi-tubi menghujam kedalam lubang intimnya seakan tiada henti-hentinya. Punggung belakang dara belia nan polos itu dielus-elus oleh tangan-tangan jahil yang kurang ajar dari bajingan kedua ini. Kulit montok nan halus itu begitu licin dan sensual saat diraba disela-sela entotan pada bibir memeknya yang telah penuh oleh sumpalan batang pelirnya, sehingga turut bergelinjang meliuk-liuk manja dalam dekapan pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang sangat cantik luar biasa ini.
Tidaklah munafik bagi setiap wanita yang saat digauli oleh seorang lelaki baik dalam keadaan terpaksa ataupun tidak, sesuai kodratnya sebagai seorang perempuan yang harus melayani kemauan lelaki lambat laun akan tunduk jua. Demikian pula dengan gadis itu yang dari memeknya kini juga telah dibasahi oleh lendir kemaluannya kembali dan semakin membuat batang pelir lelaki itu semakin berkilat-kilat ditengah aksinya keluar masuk menggesek-gesekkan dinding vaginanya.
Sungguh sedap pemandangan yang disajikan oleh mereka berdua dihadapanku ini dan sungguh beruntung sekali mereka-mereka ini yang mendapati seorang cewek cantik yang masih belia sebagai penghangat malam. Padahal aku dan mereka cuma dibatasi oleh tembok seukuran satu belah batu bata saja. Tetapi jika aksiku ketahun oleh mereka, maka mereka juga tak akan segan-segan membunuhku karena cuma aku yang satu-satunya orang yang menjadi saksi mata dari kejadian tragis yang menimpa seorang kembang desa yang digilir para perampok tepat pada malam pengantinnya sendiri.
Akupun tak tahu setelah kejadian ini berakhir pada hari-hari selanjutnya, akankah gadis itu akan menjadi hamil mengingat bahwa malam itu sangat bertepatan dengan masa subur di rahimnya dan sperma kepala rampok tadi telah berhasil bersarang penuh didalamnya serta sudah terserap pula kedalam rahimnya kini.
Sedang asyik-asyiknya kedua pasangan insan ini larut dalam ritual persetubuhannya, pintu kamar itu kini terbuka lagi dan masuklah sosok lelaki ketiga yang baru kelihatan kali ini setelah lepas tugasnya untuk menjaga pekarangan depan rumah pengantin baru itu. Setelah melihat perkembangan situasi yang akan terus aman dan terkendali, akhirnya ia memberanikan diri juga untuk naik keatas dan masuk kamar tempat kedua pasangan ini tengah bergumul dalam ajang arus pelepasan birahi mereka.
Sambil cengengesan lelaki ketiga ini memandangi kejadian di depan matanya saat gadis korbannya sedang dikerjai oleh temannya itu. Dengan mengedipkan sebelah matanya kepada temannya yang tengah asyik masyuk menyetubuhi dara belia ini, maka mengertilah ia akan tanda yang diberikan tersebut. Sebagai jawaban sinyal tanda yang diberikan oleh temannya tersebut, lelaki kedua ini mempergunakan tangan kirinya pula untuk menekuk serta menaikkan tungkai yang sebelah kanan milik gadis tersebut hingga membuat tubuh korbannya ini berada dalam gendongannya dengan kedua belah kakinya telah mengangkang menjepit pinggangnya nan masih menari-nari dihadapan perut rampingnya nan telanjang memukau itu.
Sang lelaki ketiga kini berjongkok dibelakang punggung dara belia yang masih terguncang-guncang dientot dalam gendongan temannya itu, kemudian membuka bongkahan pantat nan padat berisi itu serta menemukan apa yang ia carinya disitu. Tampak pelir temannya masih tertanam di belahan memek korban aksi mereka ini dan masih terus bergerak keluar masuk serta telah berkilat basah oleh lendir persetubuhan keduanya yang menyilaukan matanya. Namun bukanlah itu yang ia cari, hanya bokong dara itu yang menjadi sasarannya dan matanya tertumpu pada lubang mungil dibawahnya, yakni celah dubur kecil milik korbannya ini.
Kedua ibu jari tangannya membuka bokong gadis itu sehingga lubang anusnya sedikit terbuka dihadapannya, namun agak susah juga karena pantat gadis itu dalam keadaan terhempas-hempas oleh sodokan pelir temannya tersebut. Jari kelingking kasarnya ia basuh terlebih dulu dengan cairan ludahnya. setelah itu ditusukkannya kedalam celah sempit lubang dubur cewek belia nan tak berdaya ini. Sia-sia saja cewek pengantin ini berteriak karena redaman plester di mulutnya begitu ketat, sedangkan untuk menolak perlakuan lelaki ketiga itu percuma saja, sebab tubuh telanjangnya telah terjepit ditengah-tengah kedua pemerkosanya.
Kelingking lelaki ketiga itu telah masuk kedalam lobang pantatnya, terasa jepitan otot duburnya yang seperti cincin melingkar pada pintu anusnya begitu ketat dan kuat sekali. Lalu setelah itu jari itu tembus kedalamnya dan hanya terasa sempit pada luarnya tetapi didalamnya terasa lega dan agak lunak-lunak juga ada hawa panasnya pula. Ditariknya keluar jari itu, tampak sedikit kotoran tersisa dari dalamnya kemudian ia melakukan hal serupa kepada lubang anus itu tetapi menggantinya dengan jari telunjuknya setelah diludahi pula. Seperti halnya jari kelingkingnya tadi, ia pun sekarang memuntir-muntirkan telunjuknya yang telah menancap didalam dubur gadis belia ini untuk membuka ruang gerak didalamnya yang nantinya akan ia pergunakan sebagai ajang pemuas nafsu sexnya.
Rupanya lelaki ketiga ini adalah seorang pecinta anal sex dan dia tak akan segan-segan memerawani pantat wanita itu. Jeritan kesakitan gadis itu sama sekali tak membuatnya terganggu, malahan ia semakin terangsang membuka celah anus itu dan hal itu dulanginya lagi tetapi kini telah menggunakan batang telunjuk serta jari tengahnya yang dibenamkan secara bersamaan menguak isi dalam lubang pantat cewek dua puluh tahun ini. Dirojok-rojoknya anus gadis itu yang selama ini tidak pernah dimasukki oleh benda asing sekalipun, namun kini telah dipaksakan untuk membuka dan menjepit kedua jari dari lelaki ketiga ini sekaligus. Belum lagi pelayanan yang harus ia penuhi untuk memuaskan pelir temannya yang masih terus menikmati jepitan memeknya nan telah bengkak memerah akibat digilir paksa secara berkesinambungan oleh para bajingan terkutuk itu.
Setelah puas bermain-main dengan kedua jarinya menelusuri dalam dubur si wanita, lelaki itu mencabut jari-jari itu dari dalamnya dan kini mulut lubang anus itu tidak bisa mengatup rapat seperti semula serta menyisakan celah lubang kecil seukuran ujung ibu jari. Aroma yang terpancar dari anus sang cewek cantik ini terasa pekat dihidungnya. Wajah lelaki itu terbenam kembali diantara bongkahan pantat nan jelita, sertamerta celah lubang dubur yang terbuka ini disusupkan oleh lidah lancangnya menjelajahi jalan anal si gadis muda nan masih begitu belia ini. Tarian lidah itu semakin menggetarkan tubuh gadis itu yang membuat kepalanya semakin tergeleng-geleng menggelepar-gelepar dalam kebungkaman mulutnya yang terplester rapat menyesali ke tidak berdayaannya diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemerkosa itu.
Lidah lelaki itu dirasakannya seperti menyakiti pantatnya tetapi juga begitu sangat menggelitik-gelitik anusnya laksana kenikmatan yang didapat pada saat cebokkan saja layaknya. Memang demikian kenyataannya, bahwa lelaki itu tengah mencebok lobang pantatnya tersebut dengan lidahnya sampai licin tuntas sudah diantara jeritan kesakitannya. Habislah sudah anal dari sang mempelai belia ini menjadi bulan-bulanan permainan dari si bangsat yang satu ini. Semakin gencar lidah itu menelusup didalam pantat molek tersebut, maka semakin terbuka lebar pula lubang anus berwarna merah muda merangsang itu merekah nan jatuh dalam dekapan si lelaki sialan yang ternyata suka sekali mengemuti pantat milik seorang wanita seperti dirinya ini.
Sang lelaki ketiga kini berdiri merapat dibongkahan pantat gadis belia ini dari arah belakang, kemudian batang pelirnya ia tempelkan tepat pada jalan masuk celah anus yang telah ia buka tadi, siap membenamkan kontolnya untuk menyodomi pantat sang dara cantik menggemaskan lambang kepuasan lelaki ini. Cewek ini mati kutu sudah dalam keadaannya yang terjepit itu tak ada usaha perlawanannya lagi yang berguna sekalipun selain daripada menerima kenyataan yang ada bahwa ia akan disodomi oleh lelaki ketiga ini.
Dan perlahan-lahan anusnya yang terkuak dipaksa untuk menelan pelir seorang lelaki dewasa. Meskipun begitu tersendat-sendat dan seret pelir itu mulai terbenam ke liang duburnya yang sempit. Diperawanilah lubang pantat milik dara belia cantik korbannya sembari dibantu oleh temannya yang masih menunjang tubuh telanjang dara itu. Namun tangan temannya yang tadinya menahan kaki gadis itu kini berpindah merengkuh bongkahan daging pantat serta membantu penetrasi pertama yang dilakukan lelaki ketiga ini kedalam belahan anus sang perawan yang telah ternoda.
Setengah ukuran zakarnya telah terbenam dalam muara anus itu yang sertamerta langsung membuat lonjakan-lonjakan hebat pada tubuh telanjangnya yang terlarang terjepit dalam ketiada berdayaan nana dipaksa melayani dua orang lelaki sekaligus. Untung saja rembesan lendir memeknya yang mengalir lewat sela-sela kedua bibirnya yang tersumbat oleh zakar lelaki pula nan telah merembes ke permukaan duburnya turut membantu melicinkan kontol yang melesak di anusnya.
Perlahan tapi pasti akhirnya kejantanan lelaki ketiga itu telah tertelan ke dalam lobang pantatnya yang kini menganga seukuran diameter kontol tersebut serta menjepitnya. Kini selangkangan gadis itu telah dipenuhi oleh kedua batang pelir lelaki-lelaki pemerkosanya yang bergantian keluar masuk didalamnya. Tubuh montok nan telanjang indah dari gadis itu kini bagaikan daging roti sandwich yang terjepit ditengah-tengah arena maksiat persetubuhan terlarang antara mereka yang tak lazim untuk dilakukan tersebut, dan tragedi di malam pengantinnya ini benar-benar laksana mimpi buruk baginya yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Karena letih terus menggendong tubuh dara itu, lelaki kedua memberi tanda untuk berganti posisi. Tangannya yang terikat keatas kepalanya diturunkan, lalu tubuhnya dipaksa untuk menungging diatas ranjang pengantinnya lagi dengan posisi bokongnya tetap menghadap padaku. Lelaki ketiganya menyelusup dibawah tubuh korbannya yang sudah menungging dan agaknya sang lelaki kedua juga ingin merasakan hangat dan lunaknya anus korbannya. Lelaki ketiga memeluk tubuh itu dari bawah berhadapan dengan payudara gadis itu yang tergantung tepat di antara mukanya. Kontol bekas memerawani anus dara itu kini dibenamkan ke dalam vaginanya yang telah becek. Dengan liarnya ia menyedoti payudara indah yang menggantung tepat didepan wajahnya bergantian sampai penuh dengan air liur disekitar puting susu korbannya seraya meremas-remas penuh nikmat.
Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran kontol lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.
Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatnya yang terbuka secara nyata didepanku. Agaknya dara itu sebelumnya telah membuang hajatnya terlebih dahulu setelah pulang tadi, karena anusnya yang tengah diaduk-aduk oleh kontol lelaki itu telah bersih dari kotorannya pula. Sudah tak ada lagi sisa-sisa kotorannya nan lekat pada batang pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi anusnya tersebut tanpa peduli sama sekali pada rintihannya.
Laksana diperlakukan sebagai seorang wanita pelacur saja mereka terus menikmati kehangatan dan kelezatan lubang-lubang yang terletak pada area selangkangan indah menawan ditubuhnya. Kedua jari-jari di telapak kaki gadis belia ini sampai tertekuk-tekuk akibat guncangan-guncangan yang dilakukan oleh kedua tubuh kekar dari para lelaki lancang ini nan semakin melekat begitu erat pada bokongnya. Tawa-tawa para pemerkosanya yang tengah menggarap tubuhnya semakin membuat dara itu tidak mempunyai martabat lagi dan dirinya kini sudah menjadi korban kebiadaban dari perbudakan nafsu perampok-perampok tersebut.
Celah-celah pantatnya yang begitu menggairahkan masih dihiasi oleh tancapan kedua pelir lelaki itu yang masih bergoyang-goyang memilukan otot-otot syahwat pada vagina dan duburnya gadis ini. Kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini begitu pahit dan terlalu getir untuk gadis seusianya nan baru saja mekar tetapi sudah terpetik layu.
"Wuihh.. uhh.. gak sangka kalau pantat nih cewek sempit banget coi!", seloroh lelaki ketiga disela-sela genjotannya pada anus gadis itu.
Suara anus itu berdecak-decak nyata di telingaku dan sudah keliatan lebam dan memerah bibir duburnya yang telah diperawani oleh pelir lelaki.
"Oh ya? Kalau gitu gantian dong, aku juga ingin merasakan bagaimana enaknya mengentot pantat perempuan ini", balas lelaki kedua yang masih keenakan pula menggoyang memeknya dan menimbulkan suara berkecipak di dalamnya itu.
"Mmmh..! mmhh..! ammhh!", erang gadis itu dalam bungkaman plester di mulutnya.
"Jangan berisik non! Percuma, tidak bakal ada yang mendengar, lebih baik kau menurut saja, ayo sana balik!", perintah lelaki ketiga yang langsung merengkuh tubuh telanjang dara itu dari posisi menunggingnya.
Kini mereka berganti posisi dengan lelaki kedua masih terlentang dibawahnya, gadis itu ditelentangkan dengan kedua kaki terkangkang diatas tubuh lelaki kedua yang terbaring atasnya untuk dipaksa menduduki pelir lelaki itu menggunakan lubang anusnya itu.
"Ohh.. ohh! Betul juga katamu.. pantatnya lebih sempit nih!", puji lelaki kedua yang pelirnya telah terbenam di mulut anus gadis itu dan hanya menyisakan rimbunan jembut lebat hitamnya dengan kedua testis menggantung pada pangkal bongkahan pantat gadis itu.
"Sekarang kamu miringkan badan dong! Aku belum kebagian nih!", tukas lelaki ketiga pada temannya yang memiringkan badannya sehingga tubuh montok dara itu jatuh kesamping berbarengan ikut miring bersamaan dengan lelaki kedua namun masih dengan anus telah tertancap diselangkangannya.
Kaki kanannya telah lurus selonjor diatas ranjang, namun kaki kirinya semakin ditekuk lututnya keatas ditahan tungkainya oleh lutut kiri lelaki yang memperkosa anusnya yang juga membuka kakinya setengah tergantung di udara. Kini lelaki ketiga merebahkan tubuhnya pula dalam posisi miring sehingga kedua tubuh telanjang kedua lelaki itu kembali mengepit tubuh dara yang berada ditengah-tengahnya seperti sepotong hamburger.
Kontolnya diselusupkan kembali ke lubang memek dara itu yang masih terbuka bekas digilir oleh sang boss dan lelaki kedua tadi. Mereka mengayuh biduk liar bahtera hewani nafsu syahwat pada tubuh korbannya yang tak telah lunglai kehabisan tenaga digilir tak berkesudahan di malam yang seharusnya menjadi malam indah bagi diri dan hidupnya.
Seumur-umur dia tak akan menyangka bahwa malam ini ia akan mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupnya, betapa tidak..malam yang seharusnya ia dapatkan dari belaian lembut seorang lelaki terkasih yang menjadi impian hatinya itu kini telah sirna. Khayalan dirinya akan dipeluk mesra bersama sang suami tercinta dan mereguk cinta yang telah mereka rajut berdua kini telah musnah semua akibat ulah para perampok yang menyatroni rumahnya dan menzinahi dirinya.
Tulang kering kaki dari kedua lelaki yang kekar itu bersilangan menahan betis dari pahanya nan terkuak keatas bergoyang-goyang diantara decak-decak suara yang keluar dari ayunan dahsyat kemaksiatan mereka bertiga. Pelir lelaki itu kali ini begitu seakan benar-benar merojok-rojok vaginanya sampai menggesek-gesek umbai kelentitnya yang semakin mekar memerah membasah ini. Terus menerus menghadapi siksaan ini sekaligus membendung sensasi dari nafsu liar para perampok sadis itu yang memperkosanya secara brutal membuat sang dara terpelanting-pelanting didera orgasmenya kembali. Tubuhnya yang melejang-lejang kencang itu kembali meliuk-liuk dengan sebelah betis indahnya yang berada diudara nan terganjal oleh kedua kaki para pemerkosanya menendang-nendang diudara berikut desahan puncak kenikmatannya dalam bungkaman plester.
"Mmhh! mm.. mmhh!! mmhmmhh!!", jerit dara itu meledak diselingi oleh lekukan tubuhnya yang mengejang dengan seluruh otot diselangkangannya semakin menjepit erat kedua pelir para pemerkosanya itu. Lelaki kedua yang pelirnya berada dianus wanita itu menjadi terlonjak-lonjak menerima sensasi dari empotan lubang dubur korbannya yang tengah mengalami ledakan-ledakan dahsyat orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.
"Uhh... uhh.. uohh! aku jug mau kel.. u.. ar.. nih!", jerit lelaki kedua yang rupanya sudah tak tahan menahan orgasmenya pula, apalagi sejak mencobai lobang pantat gadis itu yang terasa sesak luar biasa menjepit pelirnya membuatnya ingin menuntaskan sudah birahinya pada sang korban.
Iapun langsung mencabut keluar pelirnya yang tertanam di anus gadis belia tersebut, bergegas turun dari ranjang dan sambil berdiri merobek plester di mulut korbannya itu lalu membenamkan kejantanannya disana sambil menjambak rambut gadis itu ia menghentak-hentakkan kepala dara belia tersebut untuk ditumbuk-tumbukkan pada selangkangannya yang berbulu lebat itu.
"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.
Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.
Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.
Tubuh kekarnya semakin liar mengempos dubur korbannya yang telah lunglai habis-habisan ini digilir sejak tadi, sebelah kakinya yang setengah jongkok itu kala mengentoti anus korbannya diangkat seperti anjing yang sedang kencing serta lututnya menumpu pada bongkahan pantat gadis tersebut sambil terus mengenjot tubuh perempuan belia yang telah takluk padanya. Tubuh keduanya tampak semakin licin berkilat oleh peluh mereka yang menyatu menghiasi adegan intim nan penuh paksaan semalam suntuk ini.
Karena lama bertahan lama dalam posisi itu, aku melepaskan aksi intipku dulu untuk membuat secangkir kopi hangat sebagai penahan rasa kantukku yang mulai melanda kedua pelupuk mataku ini dan meninggalkan adegan paksa yang masih berlangsung itu tanpa adanya usaha untuk mencegah peristiwa tragis yang menimpa sosok dara belia nan cantik namun bernasib sangat malang.
Selang beberapa saat aku hanyut dalam tegukkan sensasi kopi hangat yang kureguk di tenggorokkanku untuk kemudian kembali lagi melanjutkan aksi intipku. Lelaki penikmat dubur cewek ini kini berdiri diatas kasur ranjang pengantin itu dan tubuh perempuan muda yang masih menungging ini kedua kakinya ditarik melempeng kebelakang dengan kedua belah lututnya yang telah lurus itu tercengkeram oleh kedua tangan kekarnya. Lubang anusnya kembali ditembus batang kejantanan lelaki ketiga yang terakhir ini mengerjainya malam itu.
Dua bongkahan pantatnya yang padat menempel pada selangkangan lelaki yang doyan anus wanita ini dengan kaki lurus kebelakang melewati kedua pinggang pemerkosanya dengan posisi betis indahnya yang menekuk melengkung keatas serta menggantung bebas diudara. Rasanya jarang sekali ditemukan dalam film-film porno adegan yang seperti ini, tetapi kini dilakukan oleh pria itu kepada wanita korban pelampiasannya ini.
Ia memaksa kedua kaki gadis itu menjepit pinggangnya dengan kedua mata kaki korbannya bersilangan sehingga tubuhnya yang telanjang tergantung indah ini mengunci ketat pinggang lelaki bajingan itu. Dalam keadaan demikian kedua belah payudaranya nan indah melesak di kasur nan empuk itu menjadi tumpuan tubuhnya yang setengah melayang di udara ini. Dengan posisi demikian maka makin dalamlah tusukkan pelir lelaki itu menembus poros usus gadis belia cantik nan penuh derita berkepanjangan ini.
Anusnya terasa dimasukki oleh besi panas saja karena diusianya yang masih terlalu dini itu ia sudah dipaksa untuk mengenal permainan ranjang yang demikian tak lazim yang diperbuat lelaki-lekaki pemerkosanya. Tubuhnya yang semula kelihatan sangat mulus bersih serta terawat apik tanpa sedikitpun cacat dan cela tadinya itu kini berubah menjadi lusuh dan kotor bermandi keringat dengan lelehan lendir penuh nista permainan paksa mereka yang berceceran disana-sini.
Kasur putih dibawahnya telah penuh bercak darah kesuciannya di malam perkawinan yang mana keperawanannya telah direnggut oleh lelaki yang bukan kekasihnya, tetapi melainkan para pembunuh suaminya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir gadis itu berusaha mengetatkan jepitan bongkahan pantatnya sendiri dan membiarkan lelaki itu terus menikmati kehangatan lorong dinding-dinding anusnya sambil berharap lelaki itu segera menyudahkan permainannya yang telah membuat duburnya menjadi semakin sembab dan bengkak ini. Tetapi ia salah menduga stamina lelaki ketiga ini yang demikian kuat melakukan anal sex terhadap tubuh mekarnya yang telanjang dalam dekapan.
Tanpa terasa cairan di anusnya semakin keluar melumuri daerah tempat keluar masuk batang kejantanan perkasa lelaki sang pemerkosa terakhir ini yang terus menggenjotnya dengan brutal. Suara berdecak-decak pada dinding anusnya yang tergesek-gesek oleh kontol itu semakin jelas terdengar olehku. Clop! clop! clop! Begitulah bunyi yang ditimbulkan dari dubur yang tengah diperkosa tersebut dan itu semakin dahsyat dilancarkan dengan penuh semangat oleh lelaki ketiga ini. Akupun berpikir kalau seandainya nanti mendapatkan seorang istri, maka aku akan pula ingin merasakan nikmat lubang pantatnya saat melayaniku nanti sebagai variasi bercinta, karena rasanya pasti demikian lezat sebagaimana yang telah kusaksikan sendiri saat ini dari lelaki garong itu kepada korbannya.
Dan lama-kelamaan jepitan kedua kaki dara yang bersilangan itu mulai melemah sudah, tubuh telanjangnya terhuyung-huyung jatuh kebawah seakan tulang-tulangnya telah terlolosi satu persatu. Tampaknya ia kembali kehilangan kesadarannya, namun tangan kekar itu sigap sekali menahan perut rampingnya agar pinggul telanjang korbannya tak sempat ambruk ke atas kasur, dicabutnya zakar itu dari anusnya, kemudian tubuh pingsan yang terkapar itu ditelentangkan.
Kedua tumit dara belia itu di taruh diatas pundaknya kiri kanan dan betis indahnya didekap didada bidang lelaki ketiga itu, otomatis pinggul gadis itu terangkat melayang separuh diudara nan bertumpu pada punuknya seiring tarikan lelaki tersebut pada kakinya. Kedua belah payudaranya nan indah semakin membulat mengembang dalam posisi sensual ini.
Tanpa perlu diarahkan lagi dengan tangannya, lelaki itu mendorong pinggulnya yang berada tepat pada bongkahan pantat yang terbuka itu sehingga kontolnya terbenam di lubang memek gadis yang sudah becek itu tanpa kesulitan yang berarti. Memeknya telah licin dan sudah tak sempit seperti semula akibat diperawani oleh kontol boss mereka yang paling besar diantara mereka bertiga, namun pelir anak buahnya tak bisa dianggap remeh karena tetap lebih besar dan panjang pula dari kepunyaanku.
Demikianlah ia kini berganti mengerjai vagina korbannya yang sepertinya akan diperlakukan sama seperti yang diperbuat oleh bossnya dahulu. Ia tampaknya ingin membuat gadis ini menjadi hamil, karena selain malam itu bertepatan dengan masa kesuburan rahimnya, ia ingin pula mencoba-coba dari gadis yang begitu sempurna ini nantinya pasti akan menghasilkan keturunan yang bagus pula keindahan fisik dan ketahanan tubuhnya melayani lelaki. Hanya saja ia khawatir kalau bibit bossnyalah yang jadi, sedang dirinya tidak, kalau hal itu terjadi maka ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia mencintai gadis ini sekarang sekaligus menyukai pantatnya nan memberinya kepuasan maksimal di atas ranjang.
Deru birahinya semakin menyala-nyala seiring dengan suara kecipakkan di vagina becek itu yang terus diembatnya sampai suatu saat pula tubuhnya kejang-kejang sambil menekuk bak seekor udang mendekap erat pinggul korbannya dan memuntahkan semua isi cairan lahar panas dari pelirnya yang telah begitu lama terbenam di rongga peranakan gadis cantik nan begitu mudanya itu.
Sesudahnya ia menyatukan kedua kaki gadis telanjang itu yang telah diluruskan kemudian mengikat kedua mata kakinya menjadi satu lalu tubuh bugil korbannya ini digantung diatas kayu pancang kelambu ranjang itu yang terbut dari kayu jati sehingga kuat menahan tubuh telanjang dara montok yang pingsan ini dengan kepala dibawah berurai rambut hitamnya yang berserakan di atas sprei putih ranjang pelaminan penuh noda ini. Tampak cairan sperma lelaki itu meleleh turun dari celah-celah bokong mudanya yang menggantung tanpa daya ini.
Satu jam lelaki itu membiarkan tubuh molek si dara tergantung sampai dirasanya sperma yang telah ia tumpahkan tadi di dalam rahimnya sudah kering terserap oleh tubuhnya yang mana diharapkan dapat membuahi rahim mudanya itu untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka nanti. Setelah itu ia memanggul tubuh gadis yang telah ternoda itu pergi meninggalkan rumah tetanggaku tersebut dan menghilang di kegelapan malam. Akupun segera berkemas-kemas pergi meninggalkan rumahku lagi dalam keadaan kosong untuk pulang disaat hari menjelang subuh kembali ke tempat kostku dengan hati galau.
*****
Kutatap tulisan di koran sore ini yang bertajuk kriminal dan kudapati berita mengenai peristiwa tersebut di dalamnya.
"Pembunuhan sekaligus penculikan yang menimpa sepasang pengantin baru, gadis yatim piatu itu bernama Evelyne, berusia 19 tahun, belum diketahui dimana keberadaan gadis itu sekarang.."
Kututup lembaran koran itu dengan penuh sesal dihati akan bayang-bayang wajah gadis itu yang seolah-olah masih tersenyum manis padaku saat keluar dari mobil pengantinnya waktu itu dari balik jendela rumahku. Ia memang masih terlalu belia untuk mengalami kejadian tragis seperti itu. Andai saja dia yang menjadi istriku.. mungkin ceritanya akan lain.
END
Langganan:
Postingan (Atom)