Kamis, 05 Februari 2009

TIRAI PENGANTIN YG TERKOYAK

Dudung masih menanti jawaban dari lelaki sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama, yakni 48 tahun!

"Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti sudah tidak waras!!", hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon mertuanya itu.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini untuk melamarnya", tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu takluk pada kemauannya.
"Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh mereka ini yang akan berumah tangga nantinya", sela si ibu Dina yang duduk di sebelah Somad.

Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak kemarin-kemarin.

"Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik kita, istriku?", jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
"Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak", tutur istrinya seakan membela Dudung.

Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh dengan Dudung dalam wangsit tersebut.

"Ngghh..", tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti kehabisan kata-kata sesaat.

Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak unggasnya.

"Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian kota", saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.

Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.

*****

"Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya untukmu", pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana jasnya.
"Baik Bu", jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.

Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu.. Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.

"Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya sampai putus hanya karena pernikahan ini", tukas ibu mertuanya lagi.

Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah. Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.

Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka. Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu indah dan sangat mahal tentunya.

Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya, Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang penghulu kembali mengucapkan kalimat;

"Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua??"
"Ya! Saya bersedia!", fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
"Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua?"

Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..

"I.. Ya.. Bersedia"

*****

Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ selain dirinya.

Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.

Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat. Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya terlihat nyata di penglihatan Dudung.

Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting.. Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.

"Dina istriku.. Kamu sudah mandi?", tanya Dudung dengan wajah dan suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu, wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.

Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya, sehingga ciuman itu luput.

"Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu", tanya Dudung sambil menahan kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
"Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini", keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.

Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis tangan suaminya itu.

"Ahh.. Kenapa?", Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
"Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan masih ada hari esok", jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.

Hari-hari berikutnya pun begitu.

"Aku sedang mendapat haid Mas"
"Bah!", umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
"Mas Dudung mau kemana?"
"Apa pedulimu? Aku mau plesir..!", gerutunya pada Dina. Tujuannya cuma satu, ia akan meminta 'jatah' ranjang dari salah satu istrinya yang lain malam itu juga untuk digauli.

Setelah seminggu lewat pun masih belum ada perubahan. Padahal seharusnya masa menstruasi istri ketiganya ini telah berakhir.

"Dina ada ujian mid-test besok Mas, harus kebut belajar malam ini"

Dudung pun terdiam. Sia-sia usaha rayuan dan cumbuan yang ia lakukannya selama ini pada Dina yang selalu menolaknya secara halus. Masih juga dia pakai alasan klise untuk menolakku? Lihat saja nanti! Umpatnya dalam hati.
Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu, bahkan sejak siang hari tadi.

Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.

Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala. Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan Dina telah tercekal oleh Dudung.

"Mas?! Mau apa kamu?!!"
"Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!"
"Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!"
"Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!"

Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.

"Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!", jerit Dina akhirnya.
"Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!", balas Dudung.

Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.

Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi satu dengan kaki kirinya.

"Jangan Mas! Ampun! Ampunn!", mohon Dina begitu mengiba pada suaminya ini. Tapi Dudung malah membekap mulutnya dengan gelungan sapu tangan yang diikatkan melewati belakang kepalanya.
"Mmph.. Mmphh!", habislah daya upaya Dina untuk berteriak kini. Mulut mungil gadis itu telah dibungkam sepenuhnya oleh sang suami.

Dudung demi mendapati istrinya telah tak berdaya itu segera melolosi baju tidurnya yang seperti jubah dengan tali di pinggangnya. Seketika tubuh bugilnya yang hitam namun kekar itu dipertunjukkannya kepada Dina istrinya. Dina pun terkesiap, tak disangka sosok kurus suaminya itu begitu tegap dan ia secara refleks memandang ke arah selangkangan Dudung yang telah bugil ini serta melihat kemaluannya yang panjang mengangguk-angguk di antara jembutnya yang merona putih dan hitam di sana-sini seperti rambut di kepalanya yang bercampur dengan uban.

Dina terduduk di ranjang itu dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Bola mata indahnya nan bening itu tetap memancarkan belas kasihan yang mendalam. Tapi Dudung sudah tak peduli lagi akan hal itu. Kesabarannya telah habis untuk memaklumi istri mudanya yang belum berhasil ia tundukkan. Ilmunya tak akan sempurna kalau belum menggauli gadis itu. Ditatapnya wajah Dina yang cantik menawan itu. Hidung istri ketiganya begitu bangir dan mungil, semungil tubuhnya yang saat ini terikat erat. Bibirnya ranum merekah memerah di balik sumpalan sapu tangan. Rambutnya panjang terurai melewati bahu. Ah! Betapa cantiknya dara belia ini.

Dina pun meronta-ronta ketika Dudung berusaha membuka kancing seragam SMU-nya yang masih menyisakan rona keringat di sana-sini. Mereka berdua masing-masing bertahan pada kemauannya yang bertolak belakang. Terjadi pergumulan seru di antara keduanya. Meskipun dalam keadaan terikat Dina terus mengelak ke kanan dan ke kiri sehingga Dudung kesulitan untuk melepaskan kancing-kancing seragam sekolahnya. Namun tak diduganya sebuah tamparan telak menghantam pipi kirinya yang mulus putih itu. Plak!

Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya bahwa suaminya akan berbuat kasar pada dirinya. Sesaat ia seperti tak sadar, sehingga memudahkan Dudung membuka kancingnya. Namun itu tak berlangsung lama, Dina berontak lagi menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dudung kesulitan dalam menjalankan aksinya. Mulut Dina menceracau tak jelas di balik bungkaman sapu tangan. Baru dua buah kancing yang terlepas di dadanya. Sampai sini Dudung sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya gunting dari laci meja rias, kemudian diguntingnya seragam sekolah istrinya sampai menyisakan kutangnya saja. Namun rok abu-abunya masih menutup lengkap dari belahan pinggang rampingnya sampai ke bawah mendekati kedua lututnya.

Dina menangis sesenggukan, sementara Dudung semakin liar matanya menatap tubuh mulus istrinya itu yang telah sah dinikahi. Benar-benar putih dan bersih dari jenjang leher sampai pusarnya. Dudung pun lelah dengan ulah istrinya yang selalu mengiba lewat kelopak mata bening indahnya menatap minta dikasihani olehnya. Ia lalu membalikkan tubuh istri mudanya itu sehingga menungging di atas ranjang pelaminan mereka.

Dalam keadaan demikian posisi Dina benar-benar terjepit. Ikatan pergelangan tangan kanan dengan mata kaki kanan serta pergelangan tangan kiri dengan mata kaki kirinya benar-benar mengunci dirinya saat menungging. Pipi kanannya terpuruk di kasur ranjang dengan berurai air mata kesedihannya, namun dalam posisi itu Dudung sudah tak melihatnya. Dan memang itulah yang diinginkan Dudung, agar ia bisa puas menikmati jenjang tubuh dara belia ini tanpa harus melihat ekspresi mengiba itu.

Dudung melepas sepasang sepatu sekolah Dina yang masih melekat di kedua kakinya. Aroma pengap kaus kakinya yang putih bersih tercium oleh Dudung bagaikan undangan birahi yang datang dari surga ketujuh untuknya. Bagai kesetanan Dudung melolosi sepasang kaus kaki sekolah istri mudanya yang berpeluh tersebut untuk kemudian tanpa sepengetahuan Dina kaus kaki itu di ciuminya bergantian. Dengan tangan tuanya, dudung mengelus punggung gadis belia itu dengan lembut sebelum melepaskan tali kutang istri ketiganya tersebut.

Bra Dina kini telah jatuh ke sprei ranjang itu. Dudung kini jakunnya turun naik menikmati keindahan kedua bukit payudara istri mudanya yang menggantung membulat padat merangsang. Dielusnya puting payudara gadis itu bergantian kanan dan kiri sambil sesekali diremasnya. Tubuh Dudung kini membungkuk di atasnya seraya mencumbui tengkuk istrinya yang menungging tak berkutik dan masih tetap mengusap-usap kedua belah gunung kembarnya yang begitu kenyal di jari-jari tangannya.

Dina mulai merasakan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya ketika tangan-tangan tua lelaki ubanan itu merayap di belahan dadanya. Memang seumur-umur ia sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki sedekat dan seintim ini. Tapi ketidaksukaannya terhadap suaminya yang main paksa itu masih teramat kuat, sehingga ia berusaha menahan gairah dan rasa yang mulai mengisi sendi-sendi di tubuhnya.

Namun usaha Dudung tak hanya sampai di situ. Tak percuma ia sudah beristri lebih dari satu kalau tidak bisa membangkitkan birahi perempuan. Lewat sentuhan jari-jari tangannya ia mulai mengelusi titik-titik gairah istri ketiganya yang paling muda ini. Bahkan kini wajah Dudung menyusup ke kolong dada Dina yang menungging menggantung dan sambil telentang Dudung mulai menjilati dan mengulumi puting payudara indah milik istri mudanya tersebut.

Percuma saja Dina bertahan dengan kekukuhannya untuk menolak gairah perawannya yang tengah dibangkitkan oleh sang suami. Maklumlah seorang gadis belia seusianya belum mampu mengendalikan diri serta belum tahu cara bermain cinta. Seperti bermain layang-layang, ia tidak tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Demikian pula saat bermain cinta, gadis itu tidak dapat mengendalikan sensasi birahi pada dirinya, sehingga langsung terhanyut ke dalam pusaran arus dahsyat yang disodorkan suaminya.

Puting payudaranya yang masih berwarna merah muda itu perlahan-lahan mulai membesar dan mengeras serta semakin kenyal memadat. Dudung pun merasakan perubahan itu dan ia pun senang karena daya upayanya membangkitkan gairah perawan istri ketiganya itu mulai menampakkan hasil. Ia semakin tekun menjelajahi lekuk liku tubuh dara belia yang telah separuh telanjang di hadapannya kini.

Setelah puas mempermainkan bukit kembar istrinya yang begitu indah menawan dipandang mata, Dudung pun bangkit berdiri dan mengambil posisi duduk di belakang pinggul Dina yang menungging. Perlahan ia menyibakkan rok abu-abu seragam sekolah istri mudanya itu sampai pinggangnya, maka kini terlihatlah sepasang paha putih Dina begitu indah terpampang baginya. Diusapnya paha putih bak lobak milik sang dara belia yang ceracaunya sudah tak diindahkan lagi oleh lelaki tua itu di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya.

Sesekali diciuminya bongkahan paha putih istrinya yang masih beraroma keringat sehabis pulang tadi dan Dudung senang sekali dengan bau yang melekat di situ. Dudung pun tersenyum menatap bagian selangkangan Dina yang masih tertutup oleh celana dalam putih berenda miliknya, sebab ada rembesan basah nan lengket bening seperti putih telur di situ. Tahulah dia, istrinya sudah terangsang juga oleh keahliannya membangkitkan birahi wanita.

Tak sabar Dudung menantikan saat dimana ia akan dapat melihat apa yang tersembunyi di balik celana dalam putih berenda yang telah basah mencetak bening seperti sebuah kepulauan pada sebuah atlas. Diraihnya karet celana dalam itu serta diperosotkannya perlahan sampai setengah paha atas istrinya saja. Celana dalam yang tadi menutup belahan selangkangan Dina kini telah merosot setengah paha dengan bagian yang tadi menutupi keintimannya menjadi berbentuk mangkuk seakan mewadahi miliknya yang sangat pribadi itu.

Sampai di sini Dudung pun terpana menyaksikan keindahan dari selangkangan istrinya yang begitu menawan hatinya. Betapa tidak.. Baru kali ini ia dapat melihat kemaluan perempuan yang masih perawan, apalagi si Dina ini adalah seorang gadis yang masih sangat muda belia untuknya. Bulu-bulu jembut dara itu masih begitu halus dan tidaklah lebat seperti kedua orang istrinya terdahulu. Gundukan kemaluannya sangat kencang membentuk lekukan nan indah menawan hati. Dan yang lebih membuat Dudung terkesima dibuatnya, lubang keintiman Dina masih tertutup rapat menyerupai garis vertikal yang tak terlalu panjang menunjukkan bahwa lubang kegadisannya pasti sempit dan kecil.

Di atas celah kegadisannya bertengger pula lubang sempit ketat kepunyaan istri ketiganya ini berwarna merah muda yang berkeriput sedikit pucat yakni liang anus Dina. Betapa Dudung merasa sangat beruntung sekali malam itu, karena ia akan berkesempatan untuk menikmati kehangatan tubuh mungil istrinya yang sedemikian montok menggemaskan ini.

Dengan kedua belah ibu jarinya, Dudung membuka bibir belahan kemaluan Dina. Tampaklah isi dalamnya terkuak berwarna merah nan nyata bak buah pepaya mengkal yang dibelah dihiasi dengan kelentit kecilnya nan menjulang ke bawah dan bermuara pada rimbunan jembut kelaminnya yang menukik sedemikian rupa. Kira-kira sedalam satu buku jari dari celah yang terbuka itu, terlihatlah selaput dara gadis itu masih menyegel jalan masuk ke dalam lubang yang telah lama diidam-idamkan oleh suaminya ini.

Dudung pun merasa takjub, bahwa baru kali inilah dia dapat memandangi kemaluan perempuan yang masih suci lengkap dengan selaput keperawanannya yang berbentuk bulan sabit kembar nan menutupi atas dan bawah rongga keintiman dari istri mudanya ini sehingga hanya menyisakan sedikit rongga nan sedemikian kecil dan sempitnya untuk jalan masuk penisnya nanti. Aih! Sempit banget?

Dudung pun hanyut oleh fantasi pikiran yang dibuatnya sendiri bagaimana nanti ia akan merasakan kenikmatan dari jepitan selaput perawan kepunyaan Dina sang istri termudanya tersebut. Dapatkah nanti kelelakiannya menembus celah yang begitu mungil pada selangkangan gadis itu? Tak sadar bibirnya tersenyum mesum pada wajah tuanya yang penuh bopeng di sana sini.

Bagaimana Dudung tak merasa sangat beruntung mendapatkan Dina, sebab istri ketiganya ini bak bidadari nan jatuh dari langit saja dan sebenarnya sama sekali tak ada sebanding apapun dengan dirinya yang sudah di ambang kerentaan ini. Namun berkat keampuhan guna-gunanya kepada ayah dan ibu gadis itu, kini ia berhasil memperistrinya secara sah! Dan ia berhak menuntut haknya sebagai suami pada istrinya yang sah tersebut dalam ikatan benang merah perkawinan resmi di antara keduanya nan sudah terjalin.

Kini.. Dan di kamar ini ia akan membagi kebahagian ranjangnya bersama sang istri tercinta yang tengah tergolek menungging tak berdaya di hadapannya yang masih tak henti-hentinya menyaksikan celah keintiman nan memukau dalam pandangannya itu.

Liang itu masih membasah pada dinding-dinding dalamnya dengan cairan bening lengket di sana-sini. Baunya sangat sedap di penciuman Dudung kala ia mendekatkan hidungnya di belahan indah yang ia rekahkan dengan jari-jarinya. Aromanya sangat nyata terpancar dari dalamnya, begitu memancarkan keharuman nan pekat bercampur dengan bau pesing yang memikat. Namun wanginya tentu sangatlah jauh melebihi kedua istri tuanya yang sudah mendekati masa menopause. Tak heran karena kemaluan Dina masih suci serta belum pernah disetubuhi oleh lelaki, tentu saja baunya masih sangat sembab asli perawan murni!

Siapa yang tahan menyaksikan pemandangan itu begitu lama? Dan ini pun berlaku juga buat si Dudung yang langsung menyelipkan lidahnya di antara celah keintiman istri mudanya untuk kemudian melahap lendir bagian terlarang itu dengan rakus dan lahap. Sruph! Sruph! Dihirupnya air madu di selangkangan Dina untuk kemudian di telannya tanpa rasa jijik sama sekali olehnya di antara geliatan-geliatan sensasi geli yang dirasakan istrinya tersebut, padahal rasanya agak-agak asin sedikit.

Dina semakin berkelojotan diperlakukan demikian, bahkan semakin Dudung gencar menjilati belahan kegadisannya, lendir kemaluannya juga terus-terusan mengalir dari dalam selangkangannya. Bokongnya turut bergerak-gerak seirama jilatan lidah Dudung yang seakan mengorek-ngorek isi belahan kegadisannya nan intim. Selain itu kedua tangannya sibuk pula mengelusi bongkahan pantat Dina nan menyesaki rongga-rongga dada Dudung yang dipenuhi birahi hebatnya selama ini.

Ingin rasanya Dudung segera menikmati kepunyaan Dina, namun ia tak mau terburu-buru melaksanakan niatnya, apalagi langsung main hantam kromo. Dia ingin membuat Dina juga sama-sama menikmati permainan asmara ini berdua dengannya nanti, karena itulah janji yang telah ia ucapkan kepada penghulu maupun kepada ayah dan ibu Dina, bahwa ia akan membuat Dina bahagia dengan perkawinannya. Selain itu situasi rumah kini mendukung sekali niat Dudung untuk menggauli istrinya malam itu seiring dengan pekatnya malam nan mulai temaram dengan kedinginannya.

Dengan kelincahan lidahnya yang menari-nari di dalam belahan liang kegadisan milik Dina, Dudung juga mengait-ngait kelentit dara belia muda ini sehingga tampak melejit-lejit dibuatnya. Umbai itilnya turut bergoyang-goyang seirama ulasan lidah suami tuanya yang sah. Rasanya sungguh membuatnya lupa daratan, bagaikan di tengah laut lepas terombang-ambing tak bertepi hanyut dalam gerakan badai ombak ganas namun serasa lembut di awang-awang. Semakin lama kelentit dara itu mengembang memerah terisi oleh buluh-buluh darahnya nan tersirap sudah di pangkuan wajah suami tuanya.

Diam-diam Dina membatin dalam dirinya dengan hati berkecamuk antara kebenciannya pada Dudung serta gejolak pada tubuhnya nan seperti tak bisa ia bendung lagi. Tubuh dara yang menungging terikat itu bergetar hebat diperlakukan sedemikian rupa. Seluruh urat-urat di tubuhnya yang setengah telanjang itu seakan bereaksi menjadi satu menciptakan sebuah gelombang besar yang siap meletup setiap saat. Semakin ia berusaha menekan rasa itu, semakin beratlah ia menanggung derita karenanya. Celah keintimannya semakin berdenyut-denyut disertai rasa gatal nan menyerang berkepanjangan.

Perlahan-lahan kedua belah telapak kaki indahnya menekuk hingga tampak berjinjit di hamparan sprei putih mahligai cinta rumah persembahan orang tuanya untuk mereka. Getaran di tubuh mulusnya semakin kuat sampai mirip menyerupai geleparan-geleparan kecil. Otot-otot di perutnya yang ramping nan terbuka separuh telanjang itu terlihat berkedut-kedut seiring dengan bongkahan pantatnya yang semakin mengeras. Dudung pun mengetahui apa yang tengah menimpa istrinya sekarang dan ia pun menambah kuluman serta jilatannya mengulas ke segenap penjuru daerah keintiman istrinya yang terlarang bagi lelaki lain selain dirinya yang telah disahkan resmi sebagai suaminya.. Itulah keuntungan terbesarnya malam ini.

"Ouggh! Efhh.. Ouh.. Aaffrghh!!"

Itulah jeritan gadis sekolah berusia 18 tahun saat di ambang puncak kenikmatannya yang tak tertahankan lagi seiring dengan banjirnya isi lubang kemaluannya nan kini sarat dengan cairan putih seperti air santan kelapa. Lendir itulah yang kiranya dinanti-nantikan oleh Dudung sejak tadi, sebab air kemaluan orgasme seorang perawan dianggap berkhasiat sebagai obat awet muda serta dapat menguatkan kembali keperkasaan lelaki.

Serta merta disedotnya air santan yang mengalir dari lubang berbulu basah milik sang istri mudanya itu bak orang haus di padang pasir saat meneguk air oase pada sela-sela pinggul dara itu yang masih berkelojotan melepas luapan puncak birahi pertamanya di hadapan sang suami. Curahan air santan itu bersemburat lewat isi dalam liang kemaluannya yang dilihat Dudung berdenyut bahkan cenderung mengempot. Dudung pun terkesiap melihat empotan pada lubang kemaluan Dina yang masih utuh dengan selaput keperawanannya sambil berpikir.. Seperti inikah?

Dina pun terkapar dalam keadaan masih menungging di ranjang bersimbah peluh di sekujur tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan duniawi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Baru kali ini ia mencapai keadaan surgawi dunia perkawinan, padahal suaminya belum lagi menyebadaninya. Gadis itu terlena beberapa saat sehingga ia sama sekali tak sadar bahwa Dudung di belakangnya tengah mengambil posisi berlutut pada bokongnya nan terhidang sambil menggenggam batang pelirnya yang telah tegang mengacung.

Batang pelirnya berukuran cukup panjang di usia senjanya itu dan sudah mempunyai jam aksi yang sangat banyak bersama kedua istrinya terdahulu. Kepala kejantanannya diarahkan tepat pada celah masuk gerbang surga sang dara belia nan cantik yang sungguh mempesona dirinya, sebab saat itu dirasanya paling tepat untuk memulai penetrasinya pada Dina yang memeknya sudah sembab membasah tertimpa oleh orgasme pertamanya sendiri barusan.

Daging kepala kontolnya telah lekat pada pintu masuk belahan kemaluan sang istri dan dalam kondisi siap untuk melakukan ritual persetubuhan dengannya. Ujung penisnya yang seperti helm baja serdadu itu sudah terarah sepenuhnya ke belahan selaput bulan sabit kembar kepunyaan Dina istrinya nan masih perawan tersebut. Gadis itu terhenyak ketika Dudung menghentakkan pinggulnya berusaha menembus gerbang pintu surga miliknya yang paling berharga. Namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dalam kondisi terikat erat kedua tangan dan kakinya, apalagi Dudung mencengkeram kuat-kuat pinggang rampingnya dimana rok abu-abunya masih melekat tersibak di situ.

Dina hanya bisa melenguh kesakitan saat suaminya mulai menodainya. Berkali-kali pelir Dudung terpeleset-peleset ketika dihunjamkan ke dalam lubang memek berbulu basah itu. Dara itu pun hanya dapat menjerit dalam bungkaman sumbatan sapu tangan di mulutnya. Peluh keduanya telah mengucur membasahi sprei ranjang perkawinan mereka malam itu. Dudung pun baru tahu bahwa ternyata memperawani seorang gadis akan sesulit ini. Tapi kepalang tanggung sudah, ia terus berusaha sekuatnya menembus benteng pertahanan istri ketiganya itu dengan gencar. Akhirnya topi baja sang dukun pengobatan ini berhasil jua terjepit oleh bibir memek Dina yang perawan.

Kini dirasa oleh Dudung bahwa ujung kontolnya telah bersentuhan dengan selaput dara gadis bidadari impiannya itu. Sudah terasa hawa hangat mengaliri daging kepala pelirnya dan memberikan rasa nyaman yang sukar dilukiskan. Perlahan ia menekan selangkangan Dina dengan kekuatan pinggulnya nan berotot dan kontolnya mulai melesak masuk ke dalam kemaluan istri termudanya ini. Dina menggigit kuat-kuat saputangan penyumbat mulut mungilnya berusaha menahan pedih pada memeknya yang mulai dijejali pelir lelaki tua itu. Wajahnya yang terpuruk pada kasur dihentak-hentakkannya ke kiri dan kanan menghalau rasa sakit saat selaput daranya mulai ditembusi oleh kontol lelaki yang hampir sebulan setengah telah menjadi suaminya itu.

Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Dina, Dudung malah merasakan nikmat nan amat sangat menjalari tonggak kejantanannya. Kontolnya serasa menembus sesuatu yang lunak basah namun sangat lembut dan begitu hangat saat daging keduanya berpadu. Tidak hanya itu, lelaki tua itu juga merasakan kontolnya seperti diurut-urut oleh daging hangat yang berdenyut-denyut menjepit kuat urat-urat kejantanannya ini. Semakin dalam kontolnya ia benamkan ke dalam celah memek yang penuh sesak itu, makin terasa hangatnya daging belia si Dina yang masih sekal dan ranum ini. Ketika masih menyisakan kira-kira satu setengah sentimeter dari pangkal selangkangannya yang berjembut ini, pelir Dudung telah berhenti sampai di situ.

Saat ia kembali menekan pinggulnya, tetap saja kontolnya sudah tidak dapat terbenam semuanya dan paling mentok sisa satu sentimeter saja. Agaknya kontol Dudung telah mentok ke dasar belahan memek gadis belia itu dan memang gadis seusia Dina lorong kemaluannya masih belum berkembang sempurna untuk menerima kehadiran kontol lelaki, namun itu bukan berarti mengurangi kenikmatan sama sekali jika bersanggama dengannya. Malahan lelaki akan merasa perkasa bila pelirnya mentok di dasar peranakannya. Itu memberi sugesti bahwa kejantanannya sungguh panjang dan kuat. Demikian pula dengan Dudung, ia pun bangga demi mendapati kontolnya mentok ke dasar belahan kemaluan gadis itu. Apalagi dasar memek Dina dirasanya begitu nikmat menahan helm bajanya kini.

Diremasnya kedua belah payudara Dina yang menggantung bebas itu sambil merasakan jepitan selaput daranya yang begitu menciptakan nikmat yang tak tertandingi dari apa yang didapat dari para istrinya terdahulu tanpa peduli lagi akan raungan yang tersumbat dari mulut istri terakhirnya ini nan sudah terpedaya di tangannya. Setelah puas barulah Dudung mencabut tonggak zakarnya dari lubang peraduan itu diiringi dengan genangan darah kesucian Dina yang membasahi kulit luar batang pelirnya. Sebagian lagi menetes-netes jatuh ke gumpalan celana dalam yang masih berkutat di paha putihnya nan mulus. Celana dalam putih berenda miliknya kini telah bernoda darah keperawanannya sendiri dan inilah yang diinginkan Dudung sebagai bukti penyerahan diri sepenuhnya dari sang istri kepadanya.

Setelah itu mulailah Dudung menggenjot tubuh Dina yang sudah mempersembahkan keperawanannya ini perlahan-lahan agar memek Dina yang masih terasa peret namun legit itu dapat menyesuaikan diri dengan ukuran pelirnya yang dikeluar-masukkan ke dalam lubang sanggama istri termudanya ini. Betapa hancur hati Dina demi mengetahui dirinya sudah berserah segala-galanya bagi lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu. Tak ada lagi sikap tinggi hatinya ketika kini dalam posisi sedemikian rupa ia dipaksa melayani kemauan sang suami yang menuntut haknya. Dina pun sadar bahwa sebagai seorang perempuan yang telah menikah berkewajiban untuk melayani sang suami termasuk pelayanan ranjang seperti dirinya sekarang.

Pertanyaan di benak Dudung terjawab sudah dengan apa yang dirasannya detik ini. Rupanya lorong merah kemaluan istrinya mempunyai kekhasan yang khusus dan jarang sekali bisa ditemui dari setiap memek wanita. Dinding lubang vagina gadis itu dapat mengempot-empot dan menyedot-nyedot kelelakian Dudung yang terbenam di dalamnya. Agaknya ini merupakan tanda lahiriah nan dimaksudkan oleh gurunya. Tentunya wanita seperti Dina ini dapat memuaskan seorang suami dengan keistimewaan yang dipunyainya itu. Dan Dudung pun merasakan hal itu seraya mengusap peluhnya di dahi dengan penuh rasa puas, sudah dapat perawan, bisa ngempot lagi memeknya!

Dudung begitu terlena oleh permainan asmara paksa dan siksa ini atas istri termudanya ini. Bibirnya mendesah-desah seperti orang yang kepedasan di antara laju batang pelirnya yang keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina sang dara belia nan terus mengurut zakar tuanya. Perlawanan Dina sudah tiada lagi, yang ada tubuhnya hanya mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Dudung pada memeknya dalam keadaan menungging seperti anjing. Lelaki bermuka bopeng yang beruban di rambutnya itu pun sangat senang mendapati istrinya telah bertekuk lutut dan paha padanya kini dan ia semakin gencar mengayuh biduk-biduk birahinya yang tertunda sekian lama akibat sifat ketak-acuhan gadis ini pada dirinya.

Hmm.. Somad! Lihatlah..! Kini anak semata wayangmu ini sedang kugauli di kamar rumahmu dan ia sudah berhasil kuperawani serta kutundukkan. Ternyata sungguh enak sekali memek anakmu ini Somad! Aku telah memenuhi janjiku akan membahagiakannya lagi.. Dan lagi setelah ini.. Sampai aku benar-benar puas nantinya.. Hmm.. Telah sekian lama aku bersabar dari hinaan dan cercaan darimu saat aku bermaksud baik meminang putrimu ini.. Lihatlah Somad! Aku dan putrimu telah bersatu dalam hubungan badan yang ditentang keras olehmu.. Padahal anakmu ini sebetulnya telah haus akan belaian seorang lelaki di usia belianya ini. Tak tahukah engkau bahwa putrimu begitu cantik untuk hanya dipajang di rumah mewahmu ini? Tak sadarkah engkau kemaluan anakmu ini sudah matang untuk dibuahi oleh seorang lelaki? Tetapi kau tidak mungkin menyaksikan semua ini, karena hal ini tabu bagimu, meskipun ia anakmu, tapi aku..? Dapat menyaksikan semua bagian-bagian yang tersembunyi dari anak gadismu kini, sebab akulah yang berhak melakukan ini padanya! Ha.. Ha.. Ha..

{Demikianlah umpatan hati Dudung di sela-sela ritual persetubuhannya}

Dudung menjatuhkan dirinya dari posisi berlutut ke berbaring miring sambil menarik pinggul Dina yang masih tercengkeram oleh tangan-tangan tuanya tanpa kejantanannya lepas dari kemaluan istrinya. Dalam posisi tubuh keduanya rebah miring tersebut pelir Dudung semakin dirasa menusuk-nusuk tajam ke dalam lubang surga gadis itu. Duhh.. Kebayang nggak sih? Dina di usia belianya itu cantiknya seperti gadis pom-pom girls yang selalu menyemangati pagelaran olahraga. Tubuh rampingnya meliuk-liuk seirama hentakan Dudung pada selangkangannya yang terbuka bebas itu di ranjang. Kaki sebelah kanannya terjuntai bergoyang-goyang di udara menambah gairah bagi setiap lelaki yang melihatnya saat demikian sementara kontol sang suami keluar masuk di bawahnya menyumpal memeknya yang basah berjembut lembab namun berdenyut-denyut itu.

Lelaki tua seumuran ayah gadis itu leluasa sekali tengah membuahi rahimnya malam itu mendaki jenjang demi jenjang luapan syahwat nan menggelora diburu birahi terpendamnya yang menuntut penuntasan secepat-cepatnya. Batang zakar Dudung sudah berkilat-kilat berlumur cairan kewanitaan Dina dan hentakan yang diarahkan ke liang vagina sang dara ini dirasa semakin menggelitik kembali umbai kelentitnya serta membawa rasa gatal tak berkesudahan meminta untuk digesek dan digesek lagi.. Terus dan terus..
Sampai di sini Dina pun tak tahan lagi. Sekujur tubuhnya yang miring membelakangi suaminya itu tergetar hebat oleh pancaran dahsyat arus birahi nan melanda dirinya demi melayani keliaran dan kebuasan pelir lelaki tua tersebut. Kaki kanannya yang terjuntai tadi bergerak menendang-nendang di udara dengan semua otot-otot tubuhnya menegang sudah. Kedua terlapak kakinya yang mulus putih itu tertekuk kaku sudah mewarnai puncak orgasme keduanya nan telah tiba. Dudung pun merasa kontolnya makin dipijit-pijit dahsyat dalam kenyamanannya pada vagina sang gadis belia, namun sebagai lelaki berpengalaman yang sering melakukan permainan syahwat dia masih dapat mengendalikan orgasmenya sendiri.

"Aarghh! Ouaafrghh..!!"
"Oh.. Uoohh.. Dina istriku.. Enak sekali punyamu Sayangghh.."
"Uffh.. Affghh.."
"Aku senang kau bisa merasakan surga dunia pula bersamaku.. Ayo kita ganti gaya.."

Tubuh sensual milik Dina didudukkan di atas pangkuan Dudung kini setelah rok abu-abu beserta celana dalamnya dilucuti semua hingga telanjang bulat sudah. Tangan-tangan liar Dudung tak lepas jua dari belahan dada gadis itu yang tengah mekar meranum di usia belianya dan terus meremas-remas dan memilin puting payudara indah mungil namun merangsang kepunyaan dara manis ini.

Dari bawah pantat Dudung turun naik seakan mengulek memek istri termudanya yang telah takluk itu dari bawah. Tiada sekejap pun batang pelir Dudung beristirahat di bagian paling pribadi di tubuh Dina, terus saja melaksanakan aksi ganasnya keluar masuk pada liang selangkangannya nan sudah berair santan kembali. Pada bongkahan pantat Dina, sepasang buah pelir Dudung yang bergoyang-goyang itu sudah terlumuri pula dengan cairan santan putih istri mudanya nan menandakan gadis itu kini telah menikmati pula permainan asmara paksa tersebut.

Kepala Dina terayun ke kanan dan ke kiri menyibakkan rambut hitam panjangnya nan melewati bahu ke setengah punggungnya seperti terlecut-lecut disodok-sodok oleh Dudung. Air mata telah kering dari kedua belah pipinya yang halus mulus. Mungkin ia sudah berusaha menyesuaikan perlakuan sang suaminya dan liang sanggamanya mulai terbiasa dengan ukuran pelir Dudung. Bibir memeknya mengembang dan menyusut sebentar seperti menelan batang pelir itu, tapi secepat itu pula seakan memuntahkannya terus menerus dan berulang kali tak terhitung sudah banyaknya. Tatapan mata Dina sudah sendu padanya di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya yang mungil itu, namun Dudung bertekad sebelum ia membuahi peranakan istrinya, tak akan ia lepaskan ikatan itu terlebih dahulu.

Malahan lelaki tua ubanan yang bopeng itu semakin gencar saja mengoyak-ngoyak isi dalam lubang sanggama istrinya nan terus mengempot urat-urat kelelakiannya yang bersemayam sekian lama mengisi keheningan malam. Denyut vagina Dina memang lain daripada yang lain, namun tak percuma Dudung yang berasal dari madura nan terkenal dengan ramuannya yang telah ia minum terlebih dahulu sebelum memperkosa istrinya ini. Keperkasaan tubuh tuanya masih dapat mengimbangi pelayanan memek gadis ini nan memberi fantasi birahi terdahsyat selama hidupnya yang pernah ada. Bahkan tubuh ramping nan polos milik Dina dalam ketelanjangan di atasnya kembali dibuat meraih orgasmenya lagi.

Tubuh bugil gadis itu telah jatuh tertelungkup dalam dekapan Dudung seakan semua tulang-tulangnya telah terlolosi pada seluruh sendi-sendinya. Dudung segera membalikkan tubuh mungil istrinya hingga telentang di sebelahnya, kemudian ia bangun dan membuka kembali belahan paha Dina sampai kedua kakinya mengangkang lebar. Memeknya yang basah sudah bolong seukuran kontolnya, ia pun sudah tak melihat lagi selaput dara bulan sabit kembar yang tadinya dimiliki oleh istri termudanya ini. Banggalah Dudung menikmati pemandangan tersebut, sebab kini dialah lelaki pertama yang mengisi hidup Dina sekaligus mengenalkan gadis itu dengan permainan cinta dua insan nan terpaut umur sangatlah jauh ini.

Dudung menempatkan pinggulnya di antara celah paha yang terbuka itu lagi, kedua kaki dan tangan Dina ditempelkan pada pinggangnya sampai mengepit di situ. Dia kembali lagi melakukan haknya sebagai suami untuk mencurahkan segenap hasratnya yang akan ditumpahkan ke rahim istrinya yang seharusnya berkewajiban melayani kemauan dan kehendaknya tanpa harus dipaksa seperti pada apa yang terjadi di malam ini. Ia kembali menembusi dasar belahan surga dara belia itu lagi dan pelirnya tetap harus mentok seperti tadi, tidak bisa maksimal! Tapi ia senang sekali.. Sebab dasar vagina seorang gadis usia sekolah seperti layaknya Dina ini benar-benar sukar untuk dilukiskan dengan untaian kata-kata apapun!

Sang malam pun sudah merambah jauh dari puncak kepekatannya dan hening pun masih menyelimuti kawasan rumah besar nan mewah dimana kedua insan itu berada. Tidak seorang pun yang tahu bahwa di malam nan sepi itu telah terjadi pemaksaan kehendak sang suami kepada istrinya dalam ikatan benang merah perkawinan. Senandung balada birahi Dudung dan Dina masih mewarnai permainan ranjang pasangan suami istri ini nan belum juga berujung.

Kini di atas ranjang Dudung berdiri dengan badan tertekuk sedikit ke belakang dengan kedua tangan kekarnya menahan kedua tungkai kaki serta tubuh telanjang istrinya yang terkangkang di pelukannya. Punggung Dina menempel ketat pada dada bidang serta perut milik Dudung yang kekar berotot serta berbulu agak lebat itu. Dalam posisi sedemikian rupa inilah Dudung kini mengentoti istri ketiganya ini dengan sangat gagah perkasa.

Kedua belah kaki Dina yang tergantung tampak bergoyang-goyang pasrah dan lemas dalam pelayanan seorang istri nan telah takluk sepenuhnya pada sang suami ini. Tubuh bugil miliknya telah lunglai bersimbah peluh nafsu durjana dari sang dukun pengobatan, sebab sudah terhitung empat kali gadis itu orgasme dibuatnya. Rasanya.. Lendir memek dan cairan air santan kelapa kepunyaannya sudah tercurah habis dari tubuh mungilnya ini, namun Dudung masih tiada henti menyetubuhinya hingga larut menjelang pagi. Setelah dirasa istrinya telah benar-benar lunglai dalam gendongannya serta terkuras habis seluruh tenaganya, barulah Dudung mulai mendekati orgasmenya sendiri.

Dina kembali direbahkan di ranjang nan penuh noda perkawinan sepasang insan yang tak layak oleh perbedaan usia itu, sementara Dudung berada di atas menindih tubuh telanjang mungil istrinya yang kedua belah tungkai kakinya dikunci dengan tangan-tangan kekar tuanya. Sodokan pada vagina gadis itu semakin kuat dan gencar mengayuh biduk-biduk birahi yang menyala sedemikian membaranya. Kelentit dara itu pun semakin mengembang kembali dalam kebasahannya nan sensual di mata suaminya yang sibuk mempersiapkan moment terakhir ritual persebadanan itu. Sepasang testis suaminya tampak menampar-nampar dengan keras lubang anus dara itu yang berada di bawahnya dalam persetubuhan liar nan penuh nafsu badani tersebut.

Dudung pun tahu bahwa istri mudanya ini sedang menuju pula ke orgasmenya yang terakhir dan ini ditunjukkan oleh jepitan kedua belah kaki dara belia itu pada kedua belah pinggangnya kiri dan kanan yang semakin bertambah kuat menekan panggul dan pantatnya dengan kedua jari-jari kakinya bersilangan mengunci dirinya. Tangan Dina pun mencengkram lengan Dudung menahan rasa geli dan gatal yang menyerang kembali vaginanya nan berdenyut-denyut hangat menelan keberadaan penis suaminya. Dan.. Tubuh lelaki tua itu pun menegang sudah, tertekuk seperti udang di atas sang dara cantik yang diangkat pinggulnya sampai tidak lagi menempel di kasur ranjang. Tubuh sang dukun ini langsung berkelojotan mencurahkan segenap hajatnya ke dalam rongga peranakan istrinya. Seluruh air mani Dudung muncrat-muncrat tanpa bisa dikendalikan lagi olehnya mengisi setiap kisi dan celah lorong hangat sejuta kenikmatan surgawi kepunyaan Dina.

Gadis inipun menggelepar-gelepar laksana ikan dari kolam yang dilemparkan ke tanah nan kering bersamaan dengan semburat pertama mani lelaki itu di rahimnya. Dina pun meraih orgasme terakhirnya bersama-sama dengan sang suami yang telah memberikan kepuasan padanya berkali-kali dalam semalam ini. Kedua tubuh telanjang nan larut dalam persetubuhan panjang itu ambruk seketika pada luapan puncak persanggamaan penuh paksa ini bersimbah dengan tetesan peluh kenikmatan mereka masing-masing.

Kontol Dudung masih menancap di lubang memek Dina dan ia tak rela kalau air maninya sampai tersia-sia, jadi sampai tetesan terakhir ia rembesi untuk mengisi rongga peranakan gadis itu. Akan tetapi tubuh mungil Dina mana mampu menampung sperma suaminya yang tercurah sekian banyak dalam lubang kemaluannya. Belahan bibir memeknya yang masih merekah menelan pelir Dudung telah kebanjiran oleh cairan mani lelaki tua itu. Maka tak heran jika cairan sperma dukun tua itu sampai meleleh ke bawah membasahi lubang anus dan bokong putihnya serta menetes-netes di sprei ranjang perkawinannya.

*****

"Mas Dudung! Jangan!"

Dina terbangun dari tidurnya, tetapi ia mendapati tubuh bugilnya kembali menungging dengan kedua tangannya kini terikat ke belakang punggungnya. Padahal baru jam tiga pagi sekarang, berarti ia cuma tertidur beberapa jam saja. Dirasanya jari-jari suaminya sedang membuka belahan pantatnya dan tengah melumuri lubang anusnya dengan lelehan madu, setelah itu dijilatinya sambil menikmati aroma manisnya.

"Jangan Mas! Khan jijik.. Jangan di situ ahh..", rengek Dina lagi.
"Diam kamu! Mana kewajibanmu sebagai istri hah?! Sekarang layani aku lagi.."
"Ampun Mas Dudung.. Aku masih capai sekali Mas.. Auh!"

Percuma saja Dina memohon untuk kedua kalinya, Dudung malah semakin menguakkan lubang pantatnya yang sempit dan kecil mirip kelip bintang di angkasa itu serta lidahnya menyusup gencar di dalam celah duburnya. Kalau lelehan madunya sudah habis dijilatnya, Dudung melumuri kembali dengan tetesan yang baru lalu dijilatinya lagi berulang-ulang. Betapa nikmat cara lelaki tua ini mempermainkan istri termudanya ini.

Dina menggelinjang mulai keenakan menerima sensasi baru lagi yang diberikan Dudung padanya. Lubang pantatnya serasa diceboki oleh lidah lelaki tua itu yang nafsu dan keliarannya tak jua berhenti di malam menjelang pagi hari ini. Dudung tertawa dalam hatinya, Hmm.. Kapan lagi aku dapat mencobai pantat perempuan muda seperti Dina ini, sebab kalau dari istrinya yang menjanda itu, tidak pernah sekalipun ia mau merelakan pantatnya dicucup seperti ini. Istri yang satunya lagi juga begitu, jijik katanya, cuih! Payah banget..

Lambat laun lubang vagina di bawahnya kembali dipenuhi oleh air kemaluannya di luar kesadaran Dina sendiri tubuhnya bereaksi atas perlakuan suami tuanya itu. Wajah keriput Dudung membenam di memek Dina untuk kembali menyedot cairan getah bening yang berasal dari rongga peranakannya, sayang untuk dilewatkan begitu saja lendir vagina ini. Somad! Aku akan memperawani juga anus putrimu ini.. Lihat saja sekarang.. Umpat Dudung lagi dalam hati. Setelah itu kontolnya diarahkan ke jalan masuk celah anus yang telah ia buka dengan kedua ibu jarinya, kemudian mendorong dengan tenaga penuh pada pinggangnya.

"Ahh! Ampun Mas Dudung! Sakit.. Sakitt! Auhh! Perih Mas.. Jangan di situ! Ampun..!!"

Dudung tak menanggapi rengekan istrinya, ia malah mengambil sebotol minyak miliknya untuk kemudian mengolesi lubang pantat gadis itu sebanyak-banyaknya. Ditusukkan lagi batang pelirnya yang sudah tegak berdiri mengacung ke dalam sempitnya anus Dina.

"Akhh! Jangan keras-keras Mas! Pedih! Akhh! Nyeri sekali.. Aduh!!"

Sudah sepertiga batang kejantanannya menyelusup masuk ke dalam dubur istrinya yang penuh sesak namun legit dan hangat sekali. Dudung mengeluarkan sedikit pelirnya, lalu digenjotnya lagi sampai separuh penisnya melesak ke lubang pelepasan dara belia yang tengah diperawani anusnya itu. Sesudahnya suara Dina sudah tak terdengar lagi, sebab ia telah tak sadarkan diri menahan rasa sakit pada anusnya yang diperkosa oleh sang suami.

Dudung tak peduli akan hal itu, ia bahkan tersenyum menyeringai puas dapat merasakan mengentot Dina melalui lobang pantatnya yang sangat lezat. Dara itu masih berusia delapan belas tahun, tentu saja lubang pantatnya masih terasa ketat menjepit pelir Dudung. Kontol Dudung yang keluar masuk masih terasa kesat dan peret sekali di dalam poros usus perempuan muda ini. Otot bibir anus gadis itu membentuk lingkaran cincin sungguh mengunci kuat-kuat batang penisnya yang keluar masuk di dalamnya.

Kini sudah dua pertiga kontol itu menembusi lubang pantatnya nan mungil menawan ini. Minyak yang tadinya melumasi dubur gadis itu sudah mengering, tapi sudah mulai terganti dengan lendir lengket yang berasal dari lubang hajat Dina kini. Dudung seakan tertunaikan keinginannya untuk menyetubuhi anus wanita dan ia semakin menjejalkan seluruh batang pelirnya sampai semua tonggak kejantanannya benar-benar amblas terbenam ke dalam lorong pelepasan sang dara cantik ini. Sangat enak nian anus si Dina ini mencengkeram erat batang kontolnya dari ujung hingga pangkal selangkangan Dudung. Lelaki tua itu bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, terus dimainkannya tubuh istrinya ini laksana seorang budak pemuas nafsu saja.

Tangan kekarnya mencengkeram erat-erat pinggul istrinya yang pingsan ini sambil terus mengaduk-aduk isi belahan dalam anal nan disenggamainya dengan sangat liar tak terkendali lagi melampaui akal sehatnya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Dudung tak melihat tetesan air mata istrinya mengalir membasahi kedua pipinya kembali yang merembes saat detik-detik terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Dukun tua itu malahan berterima kasih pada wangsit dari gurunya yang begitu sangat menguntungkan dirinya dapat mempersunting Dina sebagai istri ketiganya yang sah. Dudung semakin larut dalam kemaksiatan nafsu birahi rendah nan menjurus ke arah kebrutalan. Kontolnya terus mengayun-ayun mengulek-ulek keberadaan anus Dina nan sudah tiada daya sama sekali dalam rengkuhannya.

Bibir anus gadis belia ini mengembang dan menguncup semakin memerah disodok-sodok oleh kelelakian sang dukun. lubang pantatnya memonyong dan mengempot berkesinambungan seakan tengah mengunyah keluar masuk kontol sang lelaki tua itu yang sudah keriput dimakan usia. Batang zakar Dudung telah basah berlumur lendir lengket anus istri mudanya nan lezat tak tertandingi dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain.

Akhirnya setelah lama menyodomi anus Dina, Dudung pun memuntahkan segenap sisa-sisa air maninya yang telah diproduksi oleh sepasang testisnya hari itu ke dalam celah lorong lembab nan lengket pada pantat sang gadis belia ini, kemudian tubuh lelaki tua itu terhempas lemas pada hamparan kasur empuk ranjang mewah di rumah besar mahligai perkawinan mereka.

*****

Tangan halus yang menyisakan garis-garis merah tak beraturan di pergelangannya itu tampak bergetar memegang sebatang pena, sementara di sebelahnya masih mendengkur lelaki tua keriput kurus dengan wajah bopeng serta rambut ubannya yang telah resmi menjadi suami sahnya. Lembaran buku itu sesekali ditetesi oleh air yang jatuh dari kedua pelupuk matanya yang sembab sembari terus menulis kata demi kata di diary-nya. Hanya itulah satu-satunya tempat mengadu dari gadis yang bernama Dina itu kini tentang pernikahannya yang sama sekali tak lumrah di mata umum serta dirasanya bahwa tirai perkawinannya telah terkoyak sebelum waktunya.. Sebelum kesiapannya menerima kehadiran lelaki itu dalam hari-hari dan kehidupannya.. Apalagi membalas tulus dengan sesuatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan insan di belahan dunia ini.. Yaitu, C I N T A.

*****

Ide cerita: Sdri. Ayeng Waldesi

Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang dibuat berdasarkan khayalan serta daya imajinatif penulis, jikalau ada kesamaan nama tokoh, tempat ataupun hal lainnya, itu semata-mata hanyalah bersifat kebetulan belaka saja.

Demikian pula dengan judul terdahulu sebelum karya kedua ini yang bertajuk "Tragedi Malam Pengantin", juga demikianlah adanya. Berhubung banyaknya tanggapan tidak sedap yang diterima oleh penulis. Mohon maklum adanya.. Sekian dan terima kasih.


E N D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar